Tabloid Bola

mbola

Tanggal 3 Maret kemarin Tabloid Bola ulang tahun ke-31. Tabloid ini adalah teman yang setia menemani masa SD-SMP-SMA saya. Teman setia sebelumnya, Bobo. Seorang tetangga saya yang supir truk, pertama kali memperkenalkan saya dengan tabloid ini jelang Piala Dunia 1998.

Bola mengajari saya dua hal. Pertama, menulis. Entah kenapa setelah beberapa kali membaca Bola saya tertarik untuk menulis. Tiba-tiba saja kepikiran, mengambil catatan harian, dan mulai nulis. Setelah itu saya serahkan ke Bapak untuk disalin ulang dengan tulisan yang lebih bagus. Eh, ndilalah kok ya beberapa kali dimuat.

Di Bola, saya pernah nulis tentang Halil Altintop, saudaranya Hamit Altintop. Bisa digoogling kalau tidak kenal pemain ini. Kali lain, saya menulis tentang protes saya ke kelompok suporter Solo Pasoepati yang tahun 2002-an pernah masang spanduk “Panser Biru Kakekane”. Sebagai anak yang rutin ke stadion Jatidiri, identitas saya diusik. Spanduk macam itu mengganggu proses rekonsiliasi yang sedang berlangsung antara kedua kelompok suporter. *kemudian saya mikir, kok bisa masih SMP saya ngomongin rekonsiliasi. Tapi ya embuh, gara-gara Bola saya nemu istilah aneh-aneh*

Kedua, Bola juga yang membentuk siapa klub sepakbola yang saya dukung: MU dan Inter. Kalau negara ya Italia dan Inggris. Kok bisa dua-dua? Ya pokoknya gitu.

Kalau mau dianalisis isi, saya hampir yakin sebagian wartawan Bola itu pendukung berat MU. Dulu pernah ada surat pembaca yang memprotes keberpihakan yang terang benderang ini. Saya mesem saja. Mau partisan ya gak papa selama mendukung tim yang saya dukung.

Oh iya. Salah satu yang saya sesali sampai sekarang adalah: saya sama sekali sudah tidak menyimpan 1 tabloid pun. Padahal saya berlangganan dan membeli hampir semua produk turunan Bola: Bola edisi poster, Bolavaganza, kalender tahunan, dan sebagainya. Kamar saya dulu penuh dengan tempelan poster. Di setiap momen turnamen besar macam Piala Dunia atau Piala Eropa, saya pasti mengkliping edisi sebulan turnamen itu.

Tapi dasarnya saya bukan pengarsip yang baik. Koleksi Tabloid Bola saya dari tahun 1998 sampai 2014 ludes. Ada yang dimakan rayap, ada yang tercecer entah ke mana. Saya juga bingung, kok dari dulu enggak kepikiran membuat arsip. Padahal Bola selalu saya nantikan dengan antusias. Kalau mas loper koran datang terlambat beberapa jam saja mengantar Bola ke rumah di hari Senin dan Kamis, saya pasti nangis. Serius. Kalau sudah begitu biasanya ibuk nggoreng tempe biar saya makan dan diam.

Saya berhenti membaca Bola sejak tahun 2014 setelah pengelolanya memutuskan untuk terbit harian. Waktu mereka memutuskan terbit tiga kali seminggu juga saya kecewa. Buat apa? Saya asyik membaca Bola karena tulisan analisis-analisisnya, bukan karena ia update dan terbit harian. Kalau soal kecepatan ya mending saya akses portal berita saja to. Lebih cepat. Dan ya, menurut saya Bola sedang menemui senjakalanya di ulang tahun ke-31 ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s