Tantangan Jurnalisme Abad 21

 

Kover Buku Jurnalisme Era Digital

  • Judul Buku    : Jurnalisme Era Digital : Tantangan Industri Media Abad 21
  • Penulis            : Ignatius Haryanto
  • Penerbit          : Penerbit Buku Kompas
  • Tebal               : xxvi + 254 halaman
  • Cetakan          : 2014

Apakah jurnalisme masih relevan bagi kepentingan publik?

Tantangan kebebasan pers saat ini tidak lagi sekadar represi penguasa seperti di era otoritarianisme. Perkembangan teknologi khususnya internet telah menjadi tantangan baru yang menakutkan. Tidak bisa dipungkiri, perkembangan teknologi telah mengubah secara mendasar struktur organisasi media sampai pola kerja jurnalistiknya. Dan ini juga berimplikasi pada perubahan cara masyarakat mengakses dan mengonsumsi berita.

Semakin terbukanya kanal-kanal sumber berita di satu sisi memang bagus karena banyak alternatif informasi yang bisa diakses. Namun di sisi lain, ia menyebabkan apa yang disebut sebagai banjir informasi. Di era banjir informasi seperti saat ini, fakta, gosip, opini bertebaran setiap hari menemui pembacanya tanpa bisa dicegah.

Ignatius Haryanto – seorang peneliti media yang pernah lama menjadi wartawan – melalui buku ini mencoba mengidentifikasi gejala-gejala yang muncul dalam industri media sebagai konsekuensi perkembangan teknologi. Melalui identifikasi ini kita bisa membaca sekian kemungkinan yang akan terjadi di masa kini dan masa depan.

Konglomerasi dan Konvergensi

Ada dua kata kunci untuk menjelaskan industri media saat ini, konglomerasi dan konvergensi.

Konglomerasi media ditandai dengan proses ekonomi politik spasialisasi yaitu integrasi berbagai jenis media dalam satu kontrol kepemilikan. Tidak hanya itu, para pemilik media juga menggabungkan berbagai jenis industri untuk mendapatkan kontrol atas proses produksi. Hal ini merupakan strategi mengeruk keuntungan sekaligus mengurangi ketidakpastian pasar yang bisa mengganggu mekanisme produksi.

Sementara konvergensi sebagai turunan dari konglomerasi menunjukkan perilaku di mana banyak perusahaan media menggunakan berbagai saluran – baik itu surat kabar, radio, televisi, media online – untuk menyampaikan informasi (halaman 211). Dengan konvergensi, satu pesan yang sama bisa ditampilkan secara berbeda dalam menjangkau masyarakat karena melalui media yang berbeda-beda juga.

Efek proses tersebut salah satunya juga berimbas pada migrasi media cetak ke media online. Banyak yang menyebut era ini sebagai senjakala media cetak jika melihat kondisi yang terjadi di berbagai negara. Awal tahun 2013, mingguan populer Newsweekmemutuskan untuk mengakhiri edisi cetaknya dengan sepenuhnya fokus menjadi media digital.

Tahun 2009, harian The Rocky Mountain News yang berusia 153 tahun memutuskan mengakhiri edisi cetaknya. Sedangkan koran kenamaan seperti Chicago Tribune dan New York Times mengadakan penghematan besar-besaran. Asosiasi Surat Kabar Amerika Serikat (2012) menyebutkan bahwa di semester satu 2012, media cetak kehilangan iklan sampai USD 798 juta bila dibandingkan tahun sebelumnya.

Di Indonesia, fenomena tersebut bisa jadi terasa masih jauh. Dalam World Association of Newspapers and News Publishers Conference yang digelar di Bali tahun 2012 lalu, muncul kesimpulan bahwa industri media cetak di Indonesia masih baik-baik saja. Era kematian media cetak di Indonesia masih jauh. Oplah surat kabar harian maupun majalah tidak mengalami penurunan. Ini berarti minat masyarakat dalam membaca media cetak masih tetap terjaga

Yang tidak dapat dinafikan adalah fakta berikut :  berdasarkan laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, pengguna internet Indonesia tahun 2013 sebesar 71,19 juta, meningkat 13 % dari tahun 2012. Persentase penetrasi internet Indonesia sekitar 28% dari jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 248 juta orang.  Tren ini diprediksi akan meningkat.

Berangkat dari sana, konglomerasi dan konvergensi di era digital membuat informasi menyebar dengan cepat. Inilah era survival of the fastests. Yang paling terasa kemudian adalah penurunan kualitas informasi yang ditampilkan media. Hari-hari ini adalah hari di mana media berlomba-lomba menghasilkan informasi teraktual, cepat, dan sedekat mungkin dengan sebuah peristiwa.

Ironisnya, kecepatan kerap berbanding terbalik dengan akurasi. Karena lebih menonjolkan kecepatan, prinsip verifikasi dalam penulisan berita menjadi terabaikan. Kerap kita melihat media online yang menulis berita secara serampangan. Ralat hanya diberikan sekadarnya. Beberapa tahun lalu kita juga sempat menyaksikan tayangan tayangan langsung televisi tentang penggerebekan teroris yang ternyata salah sasaran.

Ignatius Haryanto menggarisbawahi bahwa pemberitaan media kini kerap tampil secara bias, mengesampingkan isu-isu yang penting bagi publik namun justru mengedepankan kepentingan para pemilik media (halaman 41). Hari-hari menjelang pemilihan presiden seperti saat ini menjadi waktu yang tepat untuk melihat keberpihakan media kepada para pemiliknya.

Yang sedikit mengganggu dari buku ini adalah banyaknya pengulangan tema di sana-sini, khas sebagaimana buku yang terdiri dari kumpulan tulisan. Buku Ignatius Haryanto ini merupakan kumpulan tulisannya yang berserak di berbagai media sejak tahun 2002 sampai 2014.

Terlepas dari itu, proses identifikasi gejala perubahan lanskap jurnalisme yang dilakukan oleh penulis menjadi sumbangsih penting di era banjir informasi. Buku ini bisa menjadi pengingat bagi orang-orang yang berkecimpung dalam industri media, yaitu untuk menyajikan informasi yang penting dan relevan bagi kepentingan publik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s