Munir di Mata Seorang Anak

 

20140717_155245

  • Judul Buku    : Munir
  • Penulis            : Sulaiman Said
  • Penerbit         : Kepustakaan Populer Gramedia
  • Tebal                : x + 108 halaman
  • Terbit              : Cetakan Pertama, Juli 2014

September tahun 2004, suhu politik tengah memanas. Kampanye politik sedang gencar-gencarnya dilakukan menjelang pemilihan presiden putaran kedua. Megawati yang merupakan presiden petahana ditantang oleh mantan menterinya, Susilo Bambang Yudhoyono. Masa yang kritis karena merupakan pemilihan presiden langsung pertama yang diadakan di Indonesia.

Di tengah hiruk-pikuk tersebut, Munir Said Thalib berangkat ke Belanda. Ia akan melanjutkan studi S2 di bidang hukum humaniter di Universitas Utrecht Namun ia tak pernah memulai sekolahnya. 3 jam sebelum pesawat Garuda yang ditumpanginya mendarat di Amsterdam, ia meregang nyawa. Racun arsenik dengan kadar dosis yang bisa untuk membunuh lebih dari dua orang ditemukan di tubuhnya. Munir meninggal, dua minggu sebelum pemilihan presiden.

Kini, 10 tahun sudah berlalu sejak peristiwa tersebut. Kabut pekat justru semakin menyelimuti penuntasan kasus pembunuhan yang pernah disebut SBY sebagai test of our history. Pengadilan hanya mampu mengadili pelaku lapangan namun tak pernah mampu menemukan siapa otak di balik pembunuhan tersebut. Benteng kekuasaan rupanya menjadi tempat perlindungan yang ampuh bagi seorang pembunuh.

Gelapnya masa depan penuntasan kasus tersebut menunjukkan betapa di negeri ini nyawa dihargai begitu murah. Namun Munir mati meninggalkan keberanian. Tentu saja, keberanian itu menular dan menginspirasi. Nama Munir menjadi simbol bagi perlawanan terhadap ketidakadilan yang terjadi di Indonesia. Perjuangan yang ia lakukan sepanjang hidupnya dikenang oleh banyak orang. Poster wajahnya ditempel di mana-mana.

Sulaiman Said, seorang penulis alumnus Institut Kesenian Jakarta, mencoba menghidupkan kembali semangat Munir melalui medium yang ringan, novel grafis. Sudut pandangnya lebih menarik jika dibandingkan dengan buku-buku tentang Munir yang sudah diterbitkan. Sulaiman meminjam sudut pandang Soultan Alif Allende, anak pertama Munir, untuk mengisahkan jejak-jejak perjuangan sang abah dalam membela hak asasi manusia di Indonesia.

Dalam novel grafis ini, Alif mendapatkan tugas pelajaran Bahasa Indonesia untuk menceritakan sosok idolanya. Di depan kelas, Alif bercerita mengenai sosok Munir, perkenalan sang abah dengan Suciwati ibundanya, sampai momen ketika Munir memesan mi goreng dan minum jus jeruk di pesawat menuju Amsterdam. Pesanan yang ternyata sudah dimasuki racun arsenik.

Membaca cerita ini, kita diajak untuk menyelami pikiran seorang anak yang sejak kecil kehilangan ayahnya. Alif baru berusia 6 tahun ketika Munir meninggal, sementara Diva adiknya baru berusia 2 tahun. Ia tak bisa merasakan kehangatan sebagaimana yang dirasakan oleh anak-anak lain. Ia hanya bisa mengenal sang ayah lebih jauh dari cerita-cerita ibunya.

Di mata Alif, abahnya adalah seorang pahlawan. Sosok orang yang hebat dan membanggakan. Apa yang dirasakan Alif, adalah apa yang dirasakan oleh anak-anak yang orang tuanya menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia. Ia merasakan nyeri dan rindu setiap hari. Di Indonesia, kita akan menemui banyak anak dengan nasib serupa Alif.

Selain mengisahkan Munir, Sulaiman juga mengajak kita berziarah ke berbagai peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Ada beberapa peristiwa yang dijelaskan dalam novel ini. Di antaranya adalah pembunuhan Marsinah, kasus Tanjung Priok, dan Penculikan Aktivis pro-demokrasi 1997-1998. Sebagian besar kasus tersebut belum menemui kejelasan sampai saat ini. Bahkan seperti hanya menjadi komoditas politik elite saja terutama setiap menjelang pemilihan umum.

Dalam beberapa penuntasan peristiwa tersebut, Munir terlibat secara aktif untuk mengadvokasi korban. Salah satunya ketika di tahun 1998 ia mendirikan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Komitmen dan keberanian Munir dalam proses-proses advokasi tersebut membuatnya meraih berbagai penghargaan internasional.

Bersama Kontras Munir lantang menuntut penuntasan kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh negara. Aktivitas yang secara langsung mengancam posisi jenderal-jenderal yang berkuasa dan otomatis menjadikan Munir memiliki banyak musuh. Musuh yang pada akhirnya mengakhiri nyawanya.

Novel grafis ini hadir di saat yang tepat. Hari-hari ini, diskursus ihwal hak asasi manusia mengisi ruang publik kita. Belum pernah sebelumnya persoalan hak asasi manusia dibicarakan secara terbuka dan masif. Bisa jadi hal tersebut karena salah seorang calon presiden yang maju dalam pemilihan presiden tahun ini merupakan pelanggar hak asasi manusia.

Dari sisi cerita, sebenarnya tak banyak hal baru yang digali di novel ini. Sulaiman hanya menyorot secara sekilas apa yang telah dilakukan oleh Munir. Apalagi bahan-bahan yang menjadi referensi penulisan novel ini, seperti film dokumenter Garuda’s Deadly Upgrade dan Kiri Hijau Kanan Merah, bisa diakses publik dengan mudah. Selain itu memang akan sulit merekam utuh jejak perjuangan Munir hanya dalam 108 halaman.

Namun setidaknya novel grafis ini bisa menjadi referensi pengantar bagi anak-anak sekolah untuk belajar tentang hak asasi manusia. Dengan begitu anak-anak bisa lebih terbuka dan tidak termakan buku-buku pengetahuan sejarah resmi yang manipulatif. Artinya, ia menjadi semacam ikhtiar untuk terus mengingatkan bahwa ada persoalan hak asasi manusia yang belum tuntas di negeri ini.

Munir boleh mati, tetapi semangat dan keberaniannya akan tetap hidup.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s