Belajar dari Suciwati dan Sipon

Apa yang kita ingat dari sebuah kehilangan?

Mobil Avanza hitam yang saya tumpangi mulai memasuki jalanan yang berliku, naik-turun. Fikrie dan Yoyok membuka kaca jendela mobil setengah. Udara segar menyelinap masuk dari jalanan yang berkabut. Saya terbangun, rupanya sudah sampai di Batu. Jam digital di telepon genggam saya menunjuk angka 05.30. Berarti hampir 2 jam saya tertidur. Terakhir saya ingat kami masih di sekitar Kediri dan mendendangkan lagunya Fatin yang diputar radio.

Suhu udara di Batu tak sedingin yang saya kira. Karena datang kepagian, kami memutuskan ke Malang terlebih dulu untuk mencari penginapan harian. Sekadar untuk melepas penat dan merebahkan badan. Pukul 10.30 kami baru berangkat ke Omah Munir untuk bertemu Suciwati, istri almarhum Munir.

Hampir satu jam kemudian kami sampai di Omah Munir. Tak susah mencari museum hak asasi manusia pertama di Indonesia ini. Dari arah Malang lurus  mengikuti jalan utama sampai alun-alun Batu. Di lampu merah pertama belok ke kanan sampai ketemu Omah Munir di sebelah kanan jalan. Tepatnya di Jalan Bukit Berbunga 2.

Ketika kami datang, Suciwati sudah menunggu di teras Omah Munir. Kedua anaknya, Alif dan Diva, sedang membaca komik Hai Miiko. Siang itu, Suciwati bercerita tentang harapannya mengenai masa depan penuntasan kasus Munir dan kasus-kasus HAM lainnya.

“Kita menemui orang-orang yang di masa lalu melanggar HAM tapi sekarang justru memainkan peran penting dalam pemilihan presiden di Indonesia,” ujar Suciwati membuka obrolan siang itu. Wajar saja dia geram. Tahun ini, kasus pembunuhan Munir sudah memasuki usia 10 tahun dan tidak ada tanda-tanda akan menemui titik terang.

10 tahun ternyata masih terlalu pendek untuk mengurai siapa aktor intelektual dibalik pembunuhan tersebut. Yang ada justru hukuman terhadap terpidana kasus pembunuhan Munir, Pollycarpus, diringankan setelah Peninjauan Kembalinya dikabulkan Mahkamah Agung tahun lalu. Entah di mana ujung kasus ini.

Ungkapan SBY yang di tahun 2004 pernah menyebut pengungkapan kasus pembunuhan Munir sebagai “test of our history” ternyata hanya lip service penguasa. Barangkali karena SBY ingin menarik simpati rakyat di awal kariernya sebagai presiden. Mungkin SBY sudah lupa dengan pernyataanya sendiri. Penegakan hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah memang terdengar klise. Tapi nyatanya hal itu yang terjadi sampai sekarang.

Kondisi ini tentu menggelisahkan. Hari-hari ini, isu HAM seolah menemukan kembali momentumnya menjelang pemilihan presiden. Setidaknya di media sosial, HAM ramai diperbincangkan, dari yang bersimpati terhadap keluarga korban sampai yang nyinyir mengenai isu ini.

Hiruk-pikuknya wacana tentang hak asasi ini tentu karena orang-orang yang naik ke gelanggang pemilihan presiden ini berlumuran darah di masa lalunya. Prabowo adalah calon presiden yang pernah melakukan penculikan terhadap para aktivis pro demokrasi. Kelompok-kelompok pendukungnya banyak yang terlibat aksi-aksi kekerasan dan intoleransi. Sementara jenderal-jenderal lain bersembunyi di benteng-benteng kekuasaan partai politik di belakang Jokowi.

Yang menyedihkan, banyak yang menganggap isu HAM adalah persoalan basi dan dimunculkan 5 tahun sekali, ada juga yang menganggap kasus orang hilang harus dilupakan demi kepentingan bangsa yang lebih besar, dan sebagainya. Untuk masalah ini, beberapa kawan saya kerap berkomentar pendek baik di facebook maupun twitter : move on! Komentar-komentar itu menjemukan.

Saya susah memahami bagaimana persoalan pelanggaran hak asasi oleh negara bisa menjadi sebuah isu yang basi. Bagaimana bisa move on kalau masalahnya sendiri belum jelas benar. Sementara keluarga korban setiap hari berhadapan dengan nyerinya perasaan kehilangan. Dan sejarah mencatat pelanggaran HAM yang berderet-deret. Atau mungkin komentar semacam itu muncul karena belum merasakan apa yang dialami oleh korban dan keluarganya?

Bagi sebagian orang, isu HAM kerap dianggap sebagai persoalan elite dan tidak berhubungan dengan persoalan rakyat sehari-hari. “Padahal hak asasi itu tidak jauh, hak asasi itu sedekat hembusan nafas kita,” ujar perempuan berusia 46 tahun tersebut. Suciwati mengungkapkan kekecewaannya kepada para aktivis korban pelanggaran HAM yang kini justru bergabung dengan para penculiknya.

“Tentu ada banyak faktor yang membuat apakah anda mau menggadaikan diri anda atau tidak. Bisa jadi karena Stockholm Syndrome. Bisa juga karena urusan perut,” kata Suciwati. Stockholm Syndrome adalah kondisi di mana para korban kekerasan penculikan justru menjadi akrab dan bersimpati dengan para penculiknya. Istilah ini merujuk pada kejadian perampokan bank di Stockholm tahun 1973.

Fenomena serupa ternyata juga terjadi di Indonesia. Dan ini salah satu faktor yang membuat agenda penuntasan kasus-kasus HAM mengalami kemandegan. Bagi Suciwati, orang-orang tersebut pada akhirnya hanya akan sibuk mencari pembenaran atas apa yang dilakukannya. Bukan kebenaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Ia mengakui ada pihak-pihak yang mendekatinya menjelang pemilihan presiden. Suciwati menjelaskan bahwa “Apa yang kami (keluarga korban) lakukan jadi komoditas politik ya pasti. Makanya ada yang berusaha mengajak kita. Tapi yang dia pikir hanya soal kekuasaan, bukan menuntaskan kasus. Ini problem di Indonesia.”

Meski begitu, Suciwati tetap optimis bahwa kasus Munir dan pelanggaran HAM lainnya bisa terselesaikan,entah kapan waktunya. Ironis memang, negara tak serius menuntaskan berbagai kasus tersebut. Dan sejarah ini tentu akan selalu mengganjal bangsa ini di masa mendatang. Sementara satu per satu keluarga korban meninggal dimakan usia.

Suciwati sempat berkaca-kaca ketika saya menanyakan tentang alasan yang membuatnya kuat berjuang bertahun-tahun. “Saya berjuang tidak hanya karena Munir suami saya, tetapi juga karena tidak boleh ada orang yang nyawanya dirampas sewenang-wenang oleh penguasa,” katanya. Ia ingin anak-anaknya mewarisi semangat sang ayah dalam memperjuangkan kebenaran.

Omah Munir menjadi salah satu ikhtiar mewariskan semangat Munir. Selain itu juga bentuk melawan lupa kepada kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran hak asasi yang dilakukan negara. Obrolan kami berakhir sekitar pukul 13.40. Suciwati ingin menemani anaknya yang sedang liburan sekolah untuk jalan-jalan.

Kami beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Solo.

***

Siti Dyah Sujirah marah besar. Tetangga yang persis berada di samping rumahnya memasang spanduk bergambar Prabowo-Hatta. Spanduk itu dipasang tepat di depan rumah bahkan bisa dilihat dari dalam rumah Sipon, sapaan akrab istri Wiji Thukul tersebut. “Sebenarnya mau beda pilihan capres ya monggo. Tapi masang spanduk Prabowo di depan rumah jenenge ngece aku mas,” tuturnya.

Terang saja Sipon marah. Prabowo adalah mantan Danjen Kopassus yang memerintahkan Tim Mawar untuk menculik aktivis di sekitar tahun 1997-1998. Karena itu ia lantas memasang poster dengan tulisan Adili! Jangan dipilih! di spanduk tersebut dan tepat di muka Prabowo. Setelah diprotes, spanduk itu hanya dipindah tidak sampai 1 meter dari tempat sebelumnya. Kejadian tersebut terjadi sehari sebelum kami datang.

Kegeraman Sipon kepada tetangganya membuka obrolan siang itu. Ia menceritakan bahwa tetangganya yang kader PKS itu memang tidak suka dengan Wiji Thukul sudah sejak lama. Ketika dirinya sakit keras beberapa tahun lalu, tetangganya tersebut justru membuka angkringan dan sering berbincang keras sampai larut malam.

Teguran dari ketua RT pun tidak diindahkan. Sekarang bahkan rumahnya dijadikan sebagai posko pemenangan Prabowo-Hatta di kampung tersebut. Satu tindakan yang jahat dan intimidatif.

Tekanan-tekanan semacam itu kerap ditemui Sipon dan anak-anaknya dalam 16 tahun perjuangannya mencari keberadaan Wiji Thukul. Wiji Thukul adalah penyair-aktivis yang dihilangkan karena perlawanannya terhadap rezim Orde Baru. Anggota Partai Rakyat Demokratik itu termasuk dalam 13 orang hilang korban penghilangan paksa negara. Ia hilang dalam prahara dan sampai kini tak pernah kembali.

Saya mengetahui sosok ini ketika kuliah. Reputasi Thukul mendahului sosoknya. Puisi-puisinya sering terdengar dalam orasi demonstrasi-demonstrasi yang saya ikuti. Puisi-puisinya juga kerap dikutip di banyak tulisan. Saya penasaran betul bagaimana sosok yang hidup dalam represi negara masih bisa melahirkan puisi seperti itu.

Meski sudah belasan tahun mencari, Sipon mengaku tak kehilangan harapan. Ia optimis suatu saat akan menemukan suaminya baik hidup atau mati. “Sampai mati saya akan terus berjuang menemukan Wiji Thukul mas,” katanya. Harapannya tak muluk-muluk, ia ingin keadilan. Kalau Thukul masih hidup, di mana ia sekarang berada. Kalau memang sudah meninggal, di mana kuburannya. Dan yang pasti,  aktor pelaku penculikan harus dihukum.

Salah satu obrolan yang menarik siang itu ketika Fajar Merah mengisahkan “perkenalan” dengan bapaknya. Pada mulanya anak kedua Thukul ini apatis dengan orang-orang yang bertanya kepadanya mengenai sosok sang bapak. Ia bahkan jarang bertanya kepada ibu dan kakaknya. Bisa dipahami, ia masih terlalu kecil ketika bapaknya hilang.

Titik balik muncul ketika Fajar mulai menyenangi musik dan mengenal para pemusik seperti John Lennon dan Kurt Cobain. Ia belajar biografi keduanya yang kerap menggunakan lagu-lagu sebagai medium kritik sosial. Setidaknya terlihat dari beberapa lirik lagu. Dan dari situ ia mulai membaca karya-karya Wiji Thukul. “Masak sih aku baca tentang John Lennon dan Kurt Cobain tapi tidak tahu tentang bapak,” ujarnya.

Belakangan ia membentuk band dan beberapa kali membawakan puisi-puisi Wiji Thukul dalam penampilannya. “Kalau buat para demonstran, puisi Thukul itu bisa membakar semangat. Tapi kalau dinyanyikan Fajar, puisi itu terasa lebih adem dan tenang,” kata Sipon.

Ketika ngobrol, Fajar terlihat lebih antusias saat ditanya tentang karya-karyanya ketimbang bercerita mengenai sosok bapaknya. Meski sekarang sering membawakan lagu dari karya-karya Wiji Thukul, Fajar bilang bahwa itu hanya sementara saja. “Saya ingin lepas dari puisi-puisi bapak.”

Bakat kepenyairan Thukul terlihat dalam diri anak pertamanya, Fitri Nganthi Wani. Tahun 2009 ia menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Selepas Bapakku Hilang. Buku yang ditulis sejak tahun 2000 itu berisi 74 puisi. Wani menceritakan pengalamannya menulis puisi.

Ia mulai suka menulis ketika datang masa penuh tekanan di keluarganya. Bapaknya jarang di rumah, sementara ibunya kerap didatangi orang asing yang bertanya macam-macam. Sedangkan di sekolah ia sering dicibir teman-temannya. Wani kecil kebingungan, belum tahu apa arti semua itu. Dan jadilah ia menjadi seorang pendiam.

Melihat anaknya yang pendiam, Sipon memberinya alat tulis. Pelan-pelan Wani menulis. Dengan kata-kata, seperti diungkapkan Wani, ia bisa membekukan kenangan. Setiap menulis puisi, ia sering teringat ayahnya. “Bapak selalu berusaha untuk menjadi orang tua yang baik ketika bersama saya. Itu yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Kadang saya ingin sekali kembali ke masa-masa itu,” kenang Wani.

Wani berkisah bahwa kadang ia juga merasa iri dengan Sava, anaknya, yang sekarang tumbuh didampingi ayah-ibunya. Usia Sava kini 1,5 tahun. Wani tidak ingin apa yang menimpa dirinya itu dirasakan baik oleh anaknya maupun orang lain. Karena itu sampai sekarang ia tidak lelah memperjuangkan kasus bapaknya tersebut. Tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk kemanusiaan.

Di akhir perbincangan, Wani memberi kami kaos yang bertuliskan puisinya dan puisi Wiji Thukul:

Darimu jendral penindas, hamba belajar meracik senjata

Dari bubuk mesiu kebenaran, membentuk peluru-peluru kata

Dan kau tercengang, ketika peluruku lebih mematikan dari milikmu

Kemudian aku kau lenyapkan, namun kata-kataku selamat

Mereka terbang keliling dunia, membawa sukma tuan  yang melahirkannya

Merasuk pada memori anak-anak jaman, mengeras dalam tubuh yang semakin dewasa

Di masa lalu aku tertindas, namun di ruang waktu kau tergilas

Karena kata-kataku beranak pinak, dalam keabadian kebenaran membatu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s