Serpihan Sejarah Pers (di) Minangkabau

IMG_2277

Sebuah opini yang menggegerkan dimuat di surat kabar Soera Koto Gadang edisi Oktober 1920. Penulisnya B. Salim. Isinya pembelaan terhadap Diana, seorang perempuan pegawai di kantor pos yang dibuang tingkarang – dibuang dari adat dan kaumnya – setelah menikah dengan laki-laki yang berasal dari Jawa. Hukuman itu diberikan karena Diana dianggap melanggar aturan adat. Saat itu, seorang perempuan Koto Gadang hanya boleh menikah dengan laki-laki tulen asal Koto Gadang.

Pembelaan B.Salim dalam opini tersebut cukup keras. “Benar sekali perboeatan jang begini sampai masa ini beloem digalibkan, serta diadatkan, tetapi tiada poela adat kita menghinakan dia. Dan lagi pikiran saja segala adat yang diadatkan (bukan adat pusaka) tidak dapat kekal, melainkan berdikit-dikit djoega beroebah menoeroet kemaoean perboeatan berbagai bangsa.”

Pembelaan itu mendapatkan respon beragam baik yang mendukung maupun menolak. Adat perkawinan Koto Gadang dipertanyakan dan digugat di sana-sini. Lembar-lembar Soera Koto Gadang menjadi ruang diskusi. Menariknya, ruang diskusi itu juga melebar ke surat kabar-surat kabar lain seperti Neratja dan Soenting Melajoe dan berlangsung sampai bertahun-tahun setelahnya.

Tiga tahun polemik terbuka di surat kabar itu membuat aturan tentang perkawinan kemudian diperbaiki oleh Ninik Mamak di Koto Gadang. Sastri Sunarti dalam bukunya Kelisanan dan Keberaksaraan dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau ini mencatat bahwa polemik adat tersebut adalah salah satu contoh peran penting surat kabar di masa itu sebagai pemicu perubahan adat.

Dari contoh kecil itu bisa dilihat bagaimana surat kabar di Minangkabau membuka ruang polemik, menjadi tempat diskusi, sampai menggagas ide-ide baru. Dari mulai problem keseharian, adat, juga ihwal nasionalisme terutama menjelang kemerdekaan Indonesia. Yuliandre Darwis melalui buku Sejarah Perkembangan Pers Minangkabau mencoba melacak awal kelahiran serta membentang pasang-surut pers Minangkabau dari tahun 1859 sampai 1945.

***

Dalam narasi sejarah perkembangan pers di Indonesia, kehadiran pers di Minangkabau tidak mungkin diabaikan begitu saja. Setelah kota-kota di Jawa, Padang memang menjadi kota terkemuka yang menghidupkan tradisi persuratkabaran. Tak bisa dipungkiri, pertumbuhan Padang sebagai salah satu pusat perdagangan memiliki peran penting dalam perkembangan pers tersebut.

Tak heran jika surat kabar-surat kabar awal yang terbit di Padang seperti Padangsche Nieuws-en Advertentieblad dan Sumatra Courant Nieuws Handels en Advertentieblad berisi tentang berita perdagangan, bisnia dan periklanan. Keduanya terbit dalam Bahasa Belanda. Sementara itu pers berbahasa Melayu pertama yang terbit adalah Bintang Timor pada 7 Desember 1864. Sejak saat itu ratusan surat kabar tumbuh.

Sastri Sunarti mencatat sekurangnya ada 167 terbitan yang muncul di seluruh Minangkabau dalam periode 1859 sampai 1940-an. Terbitan-terbitan itu terbit dengan merentang dari berbagai latar belakang baik asal daerah, agama, juga ideologi. Pendirinya adalah perserikatan-perserikatan atau persatuan-persatuan tertentu seperti guru, pegawai pemerintah, saudagar, juga perempuan.

Salah satu yang menonjol adalah surat kabar yang berbasiskan Islam. Seperti diutarakan Yuliandre Darwis, perkembangan pers Islam di Minangkabau dapat disebut sebagai perwujudan kesinambungan perjalanan sejarah pers Islam di seluruh dunia. Pers Islam yang terbit pertama di Minangkabau adalah majalah Al-Munir. Pendiri dan pengelolanya merupakan modernis atau para pembaharu di bidang agama.

Tak heran jika isinya baik berita, opini, maupun tulisan-tulisan di majalah ini banyak berkaitan dengan unsur-unsur pembaruan Islam. Misalnya saja mengenai analisis kemunduran agama Islam dalam ranah sosial, ekonomi, dan kebudayaan sehingga didominasi oleh Barat. Sebagai medan pembentukan opini, tak jarang berbagai surat kabar Islam juga berhadapan dan “baku hantam” dengan surat kabar bercorak komunis atau dengan latar belakang adat.

Dari ratusan terbitan tersebut, lebih dari separuhnya terbit di kota Padang. Sementara lainnya terbit di Kayu Tanam, Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi (dulu Fort de Kock) sampai Payakumbuh. Apa yang menarik dari terbitan-terbitan tersebut? Sastri Sunarti menyimpulkan bahwa keberaksaraan sama kuat daya tariknya dengan kelisanan yang selama ini menjadi teras bagi orang Minang untuk beradu argumentasi di depan publik.

Maksudnya begini, meskipun orang Minang sudah memiliki tradisi keberaksaraan (melalui gegap gempita persuratkabaran) namun kelisanan tetap memiliki pengaruh dalam menyampaikan argumentasi dalam tulisan-tulisan di surat kabar. Kelindan kelisanan dan keberaksaraan ini nampak dari tertinggalnya apa yang disebut oleh Amin Sweeney sebagai orientasi lisan dalam berbagai tulisan di surat kabar.

Istilah orientasi lisan ini digunakan Sweeney setelah menolak istilah oral residu yang dikatakan Walter J Ong. Istilah oral residu, kata Sweeney, menunjukkan bahwa ada ampas kelisanan yang sudah tidak berfungsi. Sementara orientasi lisan menunjukkan adanya interaksi dalam kelisanan dan keberaksaraan. Ada banyak contoh yang menunjukkan bentuk-bentuk orientasi lisan ini dalam surat kabar.

Salah satu yang paling kelihatan jelas adalah penggunaan bahasa percakapan langsung dalam sebuah tulisan. Bahasa percakapan langsung bisa disebut sebagai ciri masyarakat lisan. Para penulis memiliki tendensi untuk menyampaikan ide melalui dialog dan menghindari penggunaan subordinasi maupun analisis yang berbelit-belit. Bahkan sering ditemui polemik antar penulis dengan menggunakan pantun maupun syair.

Orientasi lisan ini juga memperlihatkan dipegangnya konsep adat alue jo patuik yang kurang lebih memiliki arti sesuai aturan adat yang ada. Maka dalam polemik-polemik tersebut kita tetap akan menemui argumen yang keras namun tetap mengindahkan alue jo patuik. Penulis yang tidak mengindahkannya akan disebut sebagai orang yang bersikap angkuh dan tidak tahu adat.

Meski orientasi lisan dalam tulisan-tulisan di surat kabar ini begitu pekat terasa, tidak berarti bahwa masyarakat Minangkabau meremehkan kehadiran tulisan. Hasil tulisan tetap dapat dinikmati oleh kaum niraksara. Penyampaian beberapa tulisan di surat kabar masih menggunakan cara lama untuk menjangkau khalayak luas yaitu menggunakan format lisan. Sastri Sunarti memberikan contoh tradisi pembacaan hikayat yang masih berlangsung sampai tahun 1990-an.

***

Membaca dua buku ini, saya tersadar tentang betapa kaya dan dinamisnya perkembangan pers di Indonesia. Atau dalam konteks buku ini, Minangkabau. Gambaran semacam ini, di tengah gegap-gempita konglomerasi media dan tetek bengeknya, ibarat teriakan yang hanya terdengar lamat-lamat di gurun pasir. Tentu saja saat ini kita lebih sering disuguhi berbagai berita dari media-media baik cetak, online, maupun elektronik dengan bias Jakarta yang kental.

Dua buku ini menarik untuk didiskusikan lebih jauh terutama untuk melihat sejarah dan ekonomi politik media di Indonesia. Keduanya saling melengkapi meski ada beberapa catatan yang mesti diajukan. Di buku Yuliandre Darwis, misalnya, judul Sejarah Perkembangan Pers Minangkabau hanya berhenti sampai pembacaan sekilas atas lanskap persuratkabaran di Minangkabau. Penulis lebih banyak memberikan fokus perhatian pada surat kabar Islam.

Itupun tidak banyak diberikan analisis yang menjelaskan parameter yang membuat sebuah surat kabar bisa disebut sebagai pers Islam atau bukan. Penulis mengabaikan beberapa surat kabar berbasis wilayah kampung halaman yang dalam beberapa periode kerap memicu perdebatan soal peraturan adat. Menurut saya lebih tepat memang jika buku ini menggunakan judul sejarah pers Islam Minangkabau yang memang menjadi inti pembahasan.

Sementara dalam buku Sastri Sunarti, fokus diarahkan pada interaksi antara kelisanan dan keberaksaraan dalam surat kabar Minangkabau tahun 1859-1940. Yang saya heran, pembentukan ide-ide “nasion” keindonesiaan sedikit sekali dibahas dalam karya yang berawal dari disertasi ini. Padahal banyak founding fathers republik yang berasal dari Minangkabau dan rata-rata juga mengelola surat kabar sendiri.

Sejarah pers tidak berada dalam ruang kosong. Ia berkembang sesuai dinamika lokal masyarakatnya. Kajian-kajian seperti yang muncul dalam buku ini memiliki peran penting dalam menggambarkan dinamika tersebut. Ia mengisi di tengah minimnya literatur sejarah pers tidak hanya di Minangkabau tetapi juga Indonesia.

  • Judul              : Kelisanan dan Keberaksaraan dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau (1859-1940-an)
  • Penulis           : Sastri Sunarti
  • Tebal               : vii  + 254 halaman
  • Cetakan          : 2013
  • Penerbit          : Kepustakaan Populer Gramedia 
  • Judul              : Sejarah Perkembangan Pers Minangkabau (1859-1945)
  • Penulis          : Yuliandre Darwis
  • Tebal             : 209 halaman
  • Cetakan        : 2013
  • Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s