Aku Mendakwa Hamka Plagiat

kover buku hamka 

  • Judul Buku    : Aku Mendakwa Hamka Plagiat
  • Penulis             : Muhidin M Dahlan
  • Penerbit          : Scripta Manent, Yogyakarta
  • Tebal               : 238 halaman
  • Cetakan          : September 2011

Sejarah sastra di Indonesia adalah sejarah yang penuh luka. Setiap penggalan episodenya sarat prahara dengan rangkaian manipulasi kekuasaan. Ia juga merupakan kronik tentang kekerasan, kebohongan, bahkan keculasan. Namun sejarah tetap harus kita baca. Pembacaan yang menjadi bekal untuk menentukan mana karya sastra yang pantas disiangi (karena menjadi gulma), mana yang perlu ditumbuhkan (karena penting untuk “kesuburan” sastra Indonesia).

Pesan itulah yang hendak dikatakan Muhidin M Dahlan dalam buku Aku Mendakwa Hamka Plagiat: Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 ini. Sebagaimana judulnya, buku ini merupakan bentangan polemik yang mengisi ruang sastra Indonesia pada periode 1960an. Polemik yang berpusat pada kasus plagiarisme Hamka dan memicu perdebatan publik. Bisa dibilang, perdebatan ini menjadi perang terbuka dalam medan politik sastra kala itu. Perang terbuka antara  seniman dengan idealisme “seni untuk seni” dengan mereka yang memegang teguh “politik sebagai panglima”.

Ihwal perang terbuka ini berawal dari roman Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Roman mengenai percintaan yang berkelindan dendam tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Pertama kali terbit pada tahun 1939, roman ini dicetak ulang sampai sepuluh kali. Oplah penjualannya mencapai angka 80 ribu eksemplar. Banyak yang memuji, tak sedikit yang mencaci.

Tanpa tedeng aling-aling, surat kabar Bintang Timur mendakwa bahwa roman Hamka ini adalah karya plagiat. Bintang Timur menganggap Hamka melakukan plagiasi terhadap roman Magdalena karya Manfaluthi. Roman Magdalena sendiri merupakan saduran roman Sous les Tilleuls yang ditulis pengarang Prancis Alphonse Karr.

Dakwaan dimulai dari esai Pramoedya Ananta Toer di rubrik Lentera dengan judul menantang, “Yang Harus Dibabat dan Harus Dibangun”. Tak langsung menyebut nama Hamka, Pram menganalisis berbagai faktor yang menyebabkan sastra Indonesia mengalami kemandekan. Plagiarisme dibiarkan, kritikus sastra tidak tegas, sastra dijauhkan dari realitas sosial. Semua ngeh bahwa itu adalah serangan terbuka terhadap Hamka.

Dakwaan berlanjut dengan esai dan surat pembaca di Bintang Timur berminggu-minggu kemudian. Puncaknya adalah esai Abdullah SP berjudul “Aku Mendakwa Hamka Plagiat” yang dimuat tanggal 5 dan 7 Oktober 1962. Dalam esainya, Abdullah menunjukkan bukti-bukti kesamaan antara novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dengan Magdalena Manfaluthi.

Abdullah menunjukkan bukti-bukti itu dengan menggunakan metode idea script dan idea strip. Meskipun metode ini relatif baru dalam dunia sastra Indonesia, ia mampu menjelaskan sejauh mana sebuah karya sastra memiliki kemiripan dengan karya lain. Dengan detail, metode ini menunjukkan persamaan yang identik dari mulai titik tolak cerita sampai kalimat demi kalimat. Gagasan kedua novel itu sama. Plot sama. Dinamika, filsafat sama (hlm 132).

Mempertegas kesimpulan Abdullah, Alhamid dalam esai “Tenggelamnya Kapal V-Der Wijck dan Magdalena” menjelaskan setidaknya ada lima persamaan kedua novel tersebut. Kelima hal tersebut adalah adat waris, pertentangan filsafat mengenai posisi laki-laki dan perempuan, manusia materialis yang idealis, perkawinan paksa, dan puncak derajat pencapaian manusia yang bersumber pada ilmu pengetahuan. Hampir semua pendakwa bisa membuktikan letak plagiarisme tersebut.

Serangan menghujam keras, tapi Hamka bergeming. Ia tidak mau terlibat dalam polemik yang berpusat pada dirinya tersebut. Yang pasti, Hamka mengatakan bahwa ia memang terpengaruh oleh novel Magdalena-nya Manfaluthi (hlm 41). Pembelaan justru datang bertubi-tubi dari simpatisan Hamka. Sayangnya, para pembela ini tidak mampu membuktikan bahwa Hamka tidak terbukti melakukan plagiarisme.

Pisau bedah ilmiah idea script dan idea strip yang diajukan pendakwa gagal dilawan dengan cara sama. Para pembela lebih suka menggiring persoalan plagiarisme ke arah sentimen personal. Mereka menganggap Pram –penabuh genderang awal polemik ini – cemburu terhadap keberhasilan roman Hamka ini yang dicetak mencapai 80 ribu eksemplar.

HB Jassin yang gigih membela Hamka pun gagal menjelaskan dengan argumentatif tentang pendapatnya tersebut. Ia tidak dengan tegas menyebut apakan novel Hamka ini jiplakan, saduran, terjemahan, atau bahkan plagiat.  HB Jassin bersama Junus Amir Hamzah justru menerbitkan buku Van Der Wijck dalam Polemik kumpulan esai-polemik plagiarisme yang terangkum dalam koran-koran periode 1962-1963.

Materinya sebagian besar diambil dari halaman Lentera di Bintang Timur. Buku yang tidak menjawab persoalan plagiarisme namun justru menelikung kerja keras yang dilakukan oleh Lentara dan Pramoedya Ananta Toer. Polemik plagiarisme ini berakhir antiklimaks. Penguasa Perang Daerah Jakarta Raya melarang lanjutan polemik karena dianggap bisa membahayakan stabilitas ibukota.

Sampai saat ini kita tidak tahu mana yang benar mana yang salah. Para pembela tetap keukeuh dengan pendapatnya. Padahal fakta-fakta plagiat sudah dibentangkan, namun kejujuran tak pernah diungkapkan. Jadi biarkan sejarah yang berbicara.

Dengan demikian, buku kecil ini menjadi semacam pesan upaya melawan lupa. Ia menjadi pemantik bagi generasi sastra saat ini untuk memilah mana yang “harus dibabat” dan “harus dibangun”.

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Aku Mendakwa Hamka Plagiat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s