Dinasti Atut : Goyah, Runtuh, Rontok

IMG-20131218-01118

Ditetapkannya Gubernur Banten Atut Chosiyah sebagai tersangka korupsi menjadi kabar gembira bagi media massa. Sehari setelah penetapan oleh KPK wajah Atut mendominasi di halaman muka berbagai surat kabar. Sebelumnya berita-berita terkait Atut memang sudah masif.

Dan seperti biasa, berita-berita yang berkaitan dengan persoalan hukum bisa membuat media terpeleset jatuh pada apa yang disebut sebagai trial by the press. Berita-berita yang ditampilkan oleh media menjelma panggung hiburan yang dirayakan banyak orang. Media menjadi hakim dan secara efektif membangun opini publik. Memplesetkan adagium lawas Winston Churcill, di media, seseorang mati berkali-kali.

Berita-berita terkait Atut sebagian besar berkaitan dengan kekayaannya. Beberapa media memotret kegemaran Atut membeli dan memakai barang-barang mahal ketika sedang ke luar negeri. Namun hal ini tidak menjadi fokus utama di berita-berita pasca penetapannya sebagai tersangka. Kalau diringkas, kebanyakan berita hari Rabu 18 Desember 2013 berisi tentang senjakala dinasti Atut.

Ya, penetapan sebagai tersangka ini tepat menghujam titik syaraf klan keluarga Atut yang memegang berbagai jabatan penting di Banten. Setidaknya ada tiga koran yang dengan percaya diri menulis tentang senjakala itu.

Koran Tempo misalnya, memasang judul Dinasti Atut Rontok di halaman muka. Empat item berita yang ditulis berisi tentang ancaman penjara 15 tahun yang akan dihadapi Atut, syukuran para pegiat anti korupsi di Banten, serta – ini yang paling menarik – Rano Karno yang diminta bersiap-siap mengendalikan orang-orang Atut di birokrasi sebagai persiapan menjadi gubernur.

Kompas menggunakan judul Dinasti Ratu Atut Goyah di berita headline. Dalam berita ini, penetepan Atut sebagai tersangka dibingkai sebagai pintu masuk untuk membongkar 1800 kasus dugaan korupsi di Banten. Dalam tajuk rencananya, Kompas menyebutkan bahwa kasus yang menimpa Atut ini adalah “persoalan hukum yang punya implikasi politik”.

Jawa Pos menggunakan judul Dinasti Ratu Atut Runtuh. Di halaman muka ada dua item berita yang berkaitan dengan dugaan korupsi Atut. Pertama, setelah Gubernur Banten menjadi tersangka korupsi, giliran berikutnya adalah Wali Kota Tangerang Selatan yang merupakan adik ipar Atut, Airin Rachmy. Kedua, Atut mendadak sulit ditemui setelah ditetapkan sebagai tersangka.

Sementara 3 koran tersebut membawa kasus Atut langsung menyangkut dinasti politiknya, 3 koran lain lebih halus membingkainya dengan menempatkan kasus ini mula-mula sebagai persoalan Atut. Bisa dilihat dari judul Republika dengan Atut Akan Ditahan. Di halaman muka koran ini ditampilkan kronologi dua kasus yang menjerat Atut yaitu suap pemilukada Lebak dan korupsi pengadaan alat kesehatan.

Dari 2 koran lokal yang saya dapatkan, Harian Jogja menulis Ratu Atut di Pintu Bui : KPK Tetapkan Tersangka Pilkada Lebak. Sedangkan Kedaulatan Rakyat menulis Dugaan Suap Akil dan Korupsi Alkes : Susul Adiknya, Atut Tersangka. Keduanya memberikan kronologi kasus ini dari mulai tertangkapnya sang adik, Chaeri Wardhana, pencekalan Atut ke luar negeri, sampai pengumuman status sang gubernur sebagai tersangka.

Di rubrik opini, hanya Jawa Pos yang memuat tentang Atut. Djoko Pitono membuka opininya dengan kutipan panjang dari novel Max Havelaar. Melalui novel ini Multatuli menggugat kepemimpinan Banten yang menjadikan rakyat sebagai mainan. Bahkan ketika kolonialisme runtuh, Multatuli bisa jadi tetap menganggap penguasa dengan mental inlander masih tetap mempermainkan rakyatnya. Di akhir tulisan, Djoko berandai-andai, mestinya Multatuli memikirkan keberadaan KPK yang akhirnya menjadikan sang pemimpin Banten sebagai tersangka.

Dari berita-berita di 6 koran di atas, menurut saya yang paling menarik adalah berita di halaman 8 Kompas berjudul Kekuasaan di Banten : Setelah 8 Tahun Berlalu. Mengapa menarik? Karena Kompas membingkai korupsi Atut dalam siklus kasus korupsi di Banten. Tahun 2005, gubernur Banten menjadi terdakwa kasus korupsi dana perumahan. Atut yang saat itu menjadi wakil gubernur lantas naik menjadi gubernur.

Di awal-awal menjadi gubernur ia mengatakan “Saya akan mendukung kelancaran penanganan kasus korupsi di Banten. Siapapun yang terbukti melakukan penyelewengan, akan kami serahkan ke penegak hukum.”

Kalimat tersebut ibarat nubuat Atut dalam membaca nasibnya sendiri. Sebagaimana ditulis Kompas, “Delapan tahun lalu, Atut mendukung penuh pemberantasan korupsi di Banten. Kemarin, KPK menetapkannya sebagai tersangka. Siklus tengah berjalan nampaknya. Delapan tahun rentangnya”.

Dinasti itu telah goyah, runtuh, rontok.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s