Ketika Media Membingkai SS

Seperti disampaikan Robert Entman dalam Framing : Toward Clarification of a Fractured Paradigm (1993), framing media terhadap berita mencakup dua hal : seleksi isu dan penekanan aspek-aspek tertentu dari sebuah isu.  Melalui dua hal tersebut media menyajikan, menonjolkan, menutupi, menggiring opini publik seperti yang mereka inginkan. Dari situ juga bisa dilihat bagaimana “sikap politik” atau ideologi suatu media. Ada beberapa bagian dalam berita yang bisa dijadikan objek framing jurnalis atau media. Di antaranya yaitu : judul berita, fokus berita, dan penutup berita.

Pada bagian mana sebuah framing berita diletakkan akan menjelaskan apakah framing yang digunakan – mengutip Entman (1993: 52)– berfungsi untuk i) defining problem (memetakan masalah berdasarkan pertimbangan umum), ii) diagnosing causes (mendiagnosis akar masalah dengan identifikasi kekuatan-kekuatan yang terlibat), (iii) making moral judgement (memberikan penilaian moral terhadap permasalahan) atau (iv) suggesting remedies (menawarkan solusi dengan menunjukkan apa yang seharusnya ada).

Saya tergelitik untuk membaca kembali tulisan lawas Entman tersebut setelah ribut-ribut dugaan kekerasan seksual yang dilakukan Sitok Srengenge beberapa hari belakangan. Ribut-ribut ini tiba-tiba merebut ruang publik setelah sebelumnya penuh sesak dengan demo buruh, aksi mogok dokter, sampai ihwal pembagian kondom gratis. Komentator – sebagaimana biasa – datang silih berganti dengan segenap caci maki, kenyinyiran, pembelaan, dan sebagainya, dan seterusnya.

Peristiwa ini juga mendapatkan perhatian banyak media online. Menariknya (atau ironisnya?) berbagai media online itu membingkai isu ini dengan cara yang beragam. Komentar para jurnalis di media sosial juga menunjukkan reaksi yang berbeda-beda. Kali ini mereka tidak satu suara sebagaimana dalam pemberitaan terkait mogok dokter kemarin. Setidaknya ini bisa dilihat dari framing pemberitaan beberapa media online – tempo.co (Tempo), kompas.com (Kompas), republika.com (Republika), dan jppn.com (Jawa Pos) –  mengenai kasus SS.

Berita ini pertama kali muncul pada hari Jumat 29 November 2013 yang berawal dari laporan ke polisi oleh pengacara korban. Sementara Tempo dan Republika menunjukkan nama “Sitok Srengenge” sebagai pihak yang dilaporkan, Kompas hanya menggunakan inisial sastrawan “S”. Meskipun Tempo menyebutkan nama terang, namun dalam berita berjudul Penyair Sitok Srengenge Dilaporkan ke Polisi hanya menjelaskan bahwa Sitok dilaporkan atas “perbuatan tidak menyenangkan terhadap seorang wanita”. Tidak ada kata-kata menghamili.

Bandingkan misalnya dengan Kompas dalam berita Diduga Hamili Mahasiswa, Seorang Sastrawan Dilaporkan ke Polisi dan Republika dalam berita Penyair Sitok Srengenge Dilaporkan Hamili Mahasiswa. Kedua berita ini menuliskan tentang kehamilan korban. Oh iya, dalam berita Tempo, tanggapan Sitok terhadap pelaporan itu diletakkan sebagai penutup berita.

1

Nanti kita akan melihat strategi semacam ini diulang-ulang Tempo dalam beberapa berita lain dalam kasus SS.

Setelah berkaitan dengan laporan ke polisi, alur kejadian yang terbaca dari berita-berita tersebut berpindah ke respon dari keluarga Sitok. Apalagi setelah istri dan anak Sitok mengeluarkan pernyataan di media sosial. Tempo bahkan sampai perlu dua kali mengangkat berita soal ini. Dalam berita Dituduh Memperkosa, Istri Tetap Setia dan Putri Sitok Srengenge Kecewa, Tapi.. terlihat penggambaran keluarga yang sedang mengalami ujian dan tegar menghadapinya. Kedua berita ini memberikan penutup yang sama, bahwa Sitok siap bertanggung jawab dan hubungannya dengan RW dilakukan atas dasar suka sama suka.

2

Kompas dalam berita Surat Terbuka Putri Srengenge mengutip utuh surat yang diunggap di blog tersebut. Namun berita tersebut diberi pengantar bahwa Sitok tidak mau bertanggung jawab terhadap kehamilan RW. Kepala Humas Polda Metro Jaya menjadi narasumber. Sementara Jawa Pos dalam berita Dimaafkan Istri, Sitok Tetap Harus Diproses Hukum tidak mengutip anak maupun istri Sitok. Jawa Pos justru menggunakan pernyataan yang disampaikan oleh Komisioner Komnas Perempuan.

Sampai di sini, di mana posisi RW yang melaporkan Sitok Srengenge?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Kompas, Jawa Pos dan Republika memberikan jawaban yang tegas. RW adalah korban. Jawa Pos memakai istilah “korban pencabulan SS”, Republika menggunakan “korban pemerkosaan SS”. Simak cuplikan berita BEM UI Dorong Korban Pencabulan Sitok Srengenge Bersuara yang ditulis Jawa Pos berikut:

Menurut Arimi kasus ini terjadi karena adanya relasi kuasa yang timpang antara pelaku dan korban. Sitok diduga melakukan penyalahgunaan kekuasaan untuk mendapatkan eksploitasi seksual. “Penyalahgunaan kuasa untuk memperoleh layanan seksual adalah bentuk eksploitasi seksual,” ujarnya.

Sedangkan Kompas meskipun tidak memakai istilah yang eksplisit, tapi dari skema berita yang ditulis menunjuk jelas ada di mana posisi RW. Dalam berita RW Hampir Bunuh Diri akibat Hubungannya dengan Sitok Srengenge, Kompas menulis tentang RW yang mengalami depresi dan tertekan karena tak mendapat kepastian dari sang penyair.

RW sudah mencoba beberapa cara untuk mengakhiri hidupnya, mulai melompat dari ketinggian hingga meminum minuman beracun. Karena upaya bunuh diri berkali-kali itulah, akhirnya pangkal permasalahan terkuak. RW mulai menceritakan kepada sahabatnya tentang permasalahan yang tengah ia hadapi.

Yang menurut saya agak aneh (atau malah wajar?) berita-berita yang ditampilkan Tempo. Dari awal Tempo sudah memframing bahwa kasus ini terjadi karena suka sama suka. Konsekuensinya, tidak ada yang menjadi korban. Apalagi ditambah dengan penonjolan respon dari istri dan anak Sitok serta tanggapan Sitok yang mengatakan akan bertanggung jawab. Sebagai catatan, Tempo yang pertama kali mendapatkan klarifikasi atau tanggapan dari sang penyair dari Komunitas Salihara ini.

Nada pemberitaan Tempo sebenarnya mulai berubah seiring dengan ditulisnya berita RW, Korban Sitok, Depresi Lima Bulan dan BEM FIB UI Tuding Sitok Teror Mahasiswi UI. Ah, tapi jangan percaya sebuah berita sampai anda membacanya tuntas. Dua berita tersebut diakhiri dengan kalimat berikut :

3

Bagaimana memaknai kalimat penutup sebuah berita yang diulang-ulang di beberapa berita lain? Tanpa susah-susah menganalisis, kita bisa menyimpulkan bahwa hal tersebut menunjukkan sesuatu yang hendak ditekankan sebuah berita. Nah. Tepat di titik itulah framing bekerja. Saya akan mengutip Entman sekali lagi, katanya : Salience means making a piece of information more noticeable, meaningful, or memorable to audience.

Framing semacam ini terasa aneh jika melihat bagaimana pemberitaan Tempo terkait dugaan pemerkosaan terhadap jurnalis perempuan di Jakarta beberapa bulan lalu. Saat itu, Tempo getol mengangkat kasus ini dan memberikan ruang yang lebar untuk korban. Pertanyaannya, mengapa dalam kasus SS ini Tempo tidak melakukan hal serupa dan justru memberikan banyak ruang untuk sang pelaku?

Saya percaya bahwa berita adalah dialektika antara jurnalis (realitas subjektif) dengan fakta sosial (realitas objektif). Dialektika ini yang akan mempengaruhi laku observasi dan pengumpulan fakta, teknik penulisan, dan penyiaran teks berita kepada publik. Kedekatan Tempo dengan Sitok dan Komunitas Salihara – seperti apapun hendak disangkal wartawan-wartawannya di media sosial – tidak bisa ditutupi.

Dan dengan berita-berita seperti itu, jangan salahkan publik jika menganggap Tempo “membela” SS dalam kasus ini.  Apalagi media-media lain bisa menulis dengan lebih “berani”. Satu hal yang menjadi karakteristik Tempo dalam menulis berita.

***

Data Komnas Perempuan menunjukkan bahwa pada tahun 2012, tercatat ada 4.336 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Empat jenis kekerasan yang paling banyak ditangani adalah perkosaan dan pencabulan (1620), percobaan perkosaan (8), pelecehan seksual (118), dan trafiking untuk tujuan seksual (403). Ironisnya, hukum kerap tidak berpihak kepada korban. Yang ada korban justru semakin termarjinalisasi.

Di titik ini sebenarnya media memiliki peran penting dalam memberikan dukungan kepada korban setidaknya agar berani bersuara. Simak dalam kasus SS ini, di Jakarta Post sudah muncul berita pengakuan korban SS lainnya. Artinya, berita-berita yang muncul juga sekaligus bisa menjadi alarm pengingat bahaya bahwa banyak predator bermodal kata-kata yang mengincar mangsa baru setiap saat.

Iklan

14 pemikiran pada “Ketika Media Membingkai SS

  1. Analisa media yang menarik. Bagus ini. IMO, seberapapun SS bisa dibela dgn menaikkan derajat partisipasi RW saat mereka bertukar lendir, tetap salah SS. Fakta bahwa SS selingkuh & RW hamil lalu dibiarkan dah cukup membentuk opini publik ttg kebenaran. 🙂

  2. Pada akhirnya semua paham, daripada meneruskan menulis soal Sitok Srengenge dan menjadikannya tajuk rencana harian sebagai peringatan pentingnya harkat martabat kaum perempuan dibela, Koran Tempo lebih memilih menulis tajuk rencana soal sterilisasi stasiun UI karena jalan tikus warga RW di situ tertutup, dan ada “FPI” yg mengancam bertindak (5 Des). Urusan jalan tikus lebih diangkat ketimbang tindak penjahat kelamin itu.

  3. tulisan yang menarik dan menularkan ketertarikan menganalisa berita 🙂
    kemarin2 saya bertanya2 sendiri, kok rasanya tidak dapat informasi apa2 dari berita2 online seputar kasus ini. (tp tentu saja arus informasi di social media sangat santer dan arahnya ke mana2 😐 )
    setuju, seharusnya berita2 bisa menyampaikan pesan pada pembaca (terutama perempuan) akan bahaya kaum smooth criminal ini.

  4. Semua tentang Framing, dan penjelasan atas Framing sangat baik, bahkan sampai-sampai tak sadar membuat penulisnya sendiri terpaksa menciptakan framing untuk analisis di atas, yang menurut saya lebih kejam tak berbelas kasih sedikitpun (dibaca: generalisasi) dibandingkan koran Tempo.
    Hahaha Penulisnya terjebak sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s