Maaf, Dokter Sedang Mogok

IMG-20131128-01040

Rabu 27 November 2013 sepertinya akan dicatat dalam sejarah kedokteran di Indonesia. Hari itu, ribuan dokter melakukan mogok nasional serentak di berbagai daerah. Mereka melakukan aksi solidaritas terhadap tiga rekannya yang divonis 10 bulan penjara. Mahkamah Agung menyatakan tiga dokter ini telah melakukan malpraktik yang menyebabkan hilangnya nyawa pasien. Para dokter meradang, menganggap profesi dokter sedang dikriminalisasi, dan mengkhawatirkan kalau kasus ini akan menjadi preseden buruk di masa datang.

Seperti biasa, isu publik semacam ini menjadi santapan empuk komentator – yang kadang lebih sering menggurui – di media sosial. Singkatnya, mereka ini kerap disebut sebagai kelas menengah ngehe. Apapun definisi kelas menengah, dan apapun definisi ngehe. Sayang sekali buat para dokter, kali ini mereka pada posisi yang bersebarangan dengan para komentator ini. Dan jika diperhatikan lebih lanjut, berseberangan dengan masyarakat.

Hampir sepanjang hari saya menyaksikan silang pendapat dari yang halus sampai yang paling kasar baik di Facebook, BBM maupun Twitter. Banyak orang mengatakan bahwa vonis penjara terhadap dokter yang melakukan malpraktik itu sudah tepat. Semua profesi memiliki posisi yang sama di depan hukum. Sementara bagi para dokter, mereka merasa sedang didzalimi oleh hukum. Sampai di situ saya kira beda pendapat bukan merupakan satu hal yang aneh.

Namun saya mulai mengernyitkan dahi ketika membaca di media sosial beberapa dokter mulai menyalahkan wartawan dan media yang menyudutkan mereka. Dan semakin terusik ketika ada dokter yang mengatakan pernyataan semacam “biar masyarakat merasakanbagaimana rasanya tanpa dokter, atau “ijinkanlah kami esok meminta bantuan oknum wartawan yang sering memberitakan negatif kami untuk memeriksa kesehatan pasien kami”. Kenapa tiba-tiba pasien dijadikan sebagai kambing hitam?

Opini publik mulai terbelah dan tiba-tiba berada dalam situasi yang sama sekali lepas dari konteks. Misalnya saja terkait tanggapan yang emosional dari para dokter. Komentar-komentar yang mudah sekali tergelincir dan menampakkan wujud bentuk arogansi profesi. Menjadi sebuah kewajaran ketika aksi mogok nasional kemarin minim simpati dari masyarakat.

Di titik ini kita mesti berterima kasih pada dokter-dokter yang mogok. Aksi mogok kemarin membuka mata kita betapa dunia kesehatan di Indonesia penuh bopeng di sana-sini.

Saya membeli beberapa koran – Jawa Pos, Jakarta Post, Kompas, Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka – hari Kamis 28 November 2013 untuk melihat bagaimana media massa merekam peristiwa ini. Menariknya, nyaris semua koran menampilkan berita ihwal mogok nasional dokter ini dengan nada yang sama. Mengapa menarik? Karena posisi koran-koran tersebut dalam isu ini bertolak belakang bila dibandingkan dengan isu-isu kesehatan lain yang pernah diangkat. Tapi itu akan menjadi bahan diskusi di lain kesempatan.

IMG-20131128-01045

Dalam aksi mogok nasional dokter, 6 koran tersebut menunjukkan sikap yang bisa dilihat telanjang. Semua menyesalkan aksi tersebut dan menyebutnya sebagai “aksi kebablasan”, “melanggar kode etik”, serta “menelantarkan pasien”. Meskipun begitu, gradasi “sikap” media terhadap isu ini masih terasa.

Beberapa secara terang-terangan menunjukkan “ketidaksukaan” terhadap aksi tersebut. Ini misalnya bisa dilihat dari berita di halaman 1 Kompas berjudul Nasib Pasien : Menunggu Lima Jam yang Sia-Sia. Tulisan tersebut dimulai dengan paragraf pembuka :

Suganda (60) berjalan tertatih-tatih di lorong RSUD Tarakan, Jakarta Pusat. Wajahnya memerah. Napasnya tersengal-sengal. Kadang-kadang, langkahnya terhenti di tengah jalan. “Saya mau periksa penyakit jantung, tetapi disuruh pulang lagi. Katanya, dokternya sedang demo, padahal kondisi sudah payah gini,” ujarnya.

IMG-20131128-01044

Jawa Pos di halaman depan bahkan menulis lebih jauh dengan menampilkan berita berjudul Surat Izin Praktik dr Ayu Palsu. Paragraf pembukanya :

… Dari publikasi tersebut, terungkap bahwa tiga dokter itu dinyatakan bersalah karena tidak memiliki surat izin praktik saat melakukan operasi cito secsio sesaria terhadap korban, Julia Fransiska Makatey, sehingga meninggal.

Bayangkan, jika surat izin praktik dokter terbukti palsu, maka aksi mogok nasional sedang bersolidaritas terhadap dokter yang tidak memiliki izin praktik. Barangkali framing ini yang coba dibentuk Jawa Pos?

Suara Merdeka tanpa tedeng aling-aling bahkan menulis judul Demo Dokter Kebablasan di halaman depan. Ada 14 item berita – terbanyak dari 6 koran di atas –  yang ditulis Suara Merdeka. Masing-masing berisi liputan aksi mogok dokter di berbagai daerah. Beberapa judul yang digunakan antara lain “Sriyanti Pulang, Subur Nunggu Tiga Jam di RSUD”, Dokter Mogok, Pelayanan Kesehatan Terganggu, dan Demo Dokter Padatkan Pantura.

Sementara itu, beberapa berita mencoba mendudukkan aksi tersebut secara lebih proporsional. Untuk itu saya segera merujuk ke Kedaulatan Rakyat. Tidak ada berita tentang aksi mogok dokter ini yang diletakkan di halaman depan.

Berita tentang aksi ini diletakkan di halaman 8 dengan judul diplomatis. Aksi Mogok Belum Telantarkan Pasien : Dokter Tolak Kriminalisasi Profesi. Di edisi ini ada 8 item berita terkait dengan aksi mogok dokter. Beberapa judul berita-berita tersebut di antaranya Paguyuban Dokter di Sleman Gelar Doa Bersama, dan IDI Kebumen Dukung Aksi Solidaritas.

Tidak semua tajuk rencana koran-koran tersebut membahas tentang kejadian ini. Hanya ada dua media yang secara khusus memberikan rubrik yang menunjukkan “sikap” media terhadap aksi mogok dokter tersebut. Jakarta Post dalam tajuk rencana berjudul Criminalizing Doctors?  menulis … “the supreme court has done its utmost to make every citizen in the country aware that the principle of equality before the law is not nonsense”.

IMG-20131128-01048

Suara Merdeka menutup tajuk rencananya berjudul “Solidaritas Dokter yang Membabi-buta” dengan kalimat “… Solidaritas yang membabi buta tidak akan membawa kebaikan bagi profesi luhur itu. Masih banyak cara-cara yang elegan untuk menyelesaikan sengketa, apalagi bagi para dokter yang tergolong kelompok elite intelektual”.

Di Suara Merdeka saya mendapatkan berita yang paling unik jika dibandingkan dengan berita lain. Di lembar Fokus Jateng, Suara Merdeka memberitakan tentang aksi tandingan di Purwokerto yang dilakukan oleh korban malpraktik dokter.

Untuk kolom opini, hanya ada tiga tulisan yang membahas isu aksi mogok nasional. Masing-masing di Jakarta Post, Kompas, dan Jawa Pos. Opini berjudul Malpractice and the criminalization of doctors  yang ditulis Tommy Darmawan hampir serupa dengan nada tulisan Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti Kepantasan Dokter Melakukan Mogok di Kompas. Keduanya melihat aksi mogok sebagai bentuk solidaritas yang bisa dipahami. Ali Ghufron bahkan terang menulis kalau para dokter ingin jasa-jasanya diingat oleh masyarakat dan kesalahan yang jumlahnya sedikit mestinya diabaikan.

Opini yang menurut saya menarik adalah tulisan Subagyo berjudul Momen Introspeksi Kedokteran di Jawa Pos. Tulisan ini menjadi lebih hidup karena penulis memiliki pengalaman buruk dengan dokter. Ayah tiri dan istrinya meninggal setelah operasi yang didahului dengan salah diagnosis. Subagyo mengakhiri tulisannya dengan refleksi bahwa akan menjadi gawat jika ada profesi yang merasa harus dibedakan dalam perlakuan hukum sembari melupakan orang yang berelasi dengan mereka juga punya hak.

Usai tuntas membaca berita-berita tersebut muncul satu pertanyaan yang mengusik: Mengapa hampir media bersikap seragam dalam memberitakan isu ini? Benarkah berita-berita ini muncul karena wartawan – seperti yang disebut beberapa dokter –  yang tidak becus dalam meliput dunia kedokteran?

Saya tidak tahu. Tapi menurut saya lebih tepat jika berita-berita ini dianggap mewakili akumulasi pengalaman-pengalaman buruk masyarakat ketika bersentuhan dengan dunia medis. Tentu saja saya mengumpulkan koran dan menulis “rangkumannya” di sini bukan karena saya membenci dokter.

Beberapa kali saya dirawat inap di rumah sakit, saat masih SD, SMA, juga ketika sudah kuliah. Dan kerap saya tersugesti bahwa ketika sakit, hanya dokter yang mampu menyembuhkan saya. Bagi saya, pesan-pesan dari berbagai berita itu begitu jelas : dokter mestinya tidak anti kritik. Dan tentu saja, semua orang pada posisi yang sama di hadapan hukum.

Oh, iya, kasus Prita Mulyasari beberapa tahun lalu – berhadapan dengan dokter dan rumah sakit, divonis 6 tahun dan 1 milyar sebelum bebas – mengajarkan bahwa solidaritas dari masyarakat bisa muncul karena kesamaan nasib. Dari situ bantuan bisa mengalir tanpa pamrih. Sebaliknya, eksklusifitas dan arogansi hanya melahirkan antipati masyarakat.

Sebagai penutup, saya hanya ingin berandai-andai. Semoga tidak ada lagi situasi ketika seseorang sedang sakit, butuh berobat ke dokter, susah payah pergi ke rumah sakit, dan hanya mendapat jawaban : maaf, dokter sedang demo, silahkan datang besok lagi.

Iklan

3 pemikiran pada “Maaf, Dokter Sedang Mogok

  1. dokter oh dokter…..jasanya sngat dibutuhkan saking dibutuhkannya perannya…… jadi merasa dirinya tuhan ” gimana rasanya bila ga ada dokter.huhuhuhuhu……dokter juga manusia,bisa salah,ditambah oknum2 yg menggunakan hukum alam sekolah dokter mahal so harus balik modAL……..SEDIKIT sekali yang tulus memberi pengobatan n konsultasi.TPI kembali lg kepada SDM, jaman sekarang banyak Dokter pintar secara IQ, NAMUN EQ N SQ sangat minim,bahkan jauh dibawah IQ,apalagi setaraf profesor…….

  2. “Eksklusifitas dan arogansi hanya melahirkan antipati…”
    Saya kira, inilah yang sangat perlu digaris bawahi. Sekeras apa pun dokter ingin memulihkan nama baik, tak ada yang bisa dicapai dengan menelantarkan pihak yang sudah merasa kecewa–pasien, dan masyarakat pada umumnya. Sesakit apa pun dipojokkan dengan berbagai pemberitaan yang kadang tak berimbang, balas memojokkan bukan solusinya.

    Jangan-jangan, sebetulnya, antara dokter dan pasien itu baiknya justru saling ‘mengakrabkan diri’ satu sama lain… karena sesungguhnya kedua pihak sama-sama cuma bidak catur yang dibatasi kebijakan dan aturan yang bernama Sistem Kesehatan Nasional. Kedua pihak tersebut sebetulnya berada di sisi yang sama. Sama-sama kecewa, terhadap situasi yang bukan semata tanggung jawab mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s