Budiman dan Perlawanan Itu..

IMG-20131118-01008

  • Judul Buku    : Anak-Anak Revolusi
  • Penulis            : Budiman Sudjatmiko
  • Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan          : 2013
  • Tebal               : 473 halaman

Apa yang bisa dipelajari dari sebuah buku otobiografi – politik – salah satu sosok utama penantang Orde Baru yang terbit selang 15 tahun setelah runtuhnya rezim tersebut? Tidakkah ia bisa terjebak pada hasrat narsistik untuk menegaskan kembali peran  sang tokoh di masa lampau?  Pertanyaan-pertanyaan semacam ini kerap mengganggu saya ketika melahap lembar demi lembar buku Anak-Anak Revolusi yang ditulis Budiman Sudjatmiko, mantan ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Kita mafhum, PRD termasuk berada di shaf terdepan dalam barisan penentang Orde Baru. Berbagai aktivitas yang mereka lakukan berhasil membangkitkan berbagai aksi perlawanan rakyat baik dari sektor mahasiswa, buruh, petani, maupun seniman. Pramoedya Ananta Toer dalam pidatonya yang berjudul Angkatan Muda Sekarang (1999) menyebut mereka melanjutkan tugas sejarah sebagai tonggak generasi muda dalam dinamika sejarah di Indonesia.

Dalam istilah Pram, kedudukan anak-anak muda PRD ini menyamai agungnya generasi muda di era 1900-an yang memupuk ide-ide keindonesiaan, 1920-an yang  merumuskan sumpah pemuda, sampai generasi 1945 yang mengawal kemerdekaan. Sebagai ketua, tentu Iko – sapaan Budiman di lingkungan keluarga –  merupakan sosok utama dalam kepeloporan anak-anak muda tersebut.

Membincangkan PRD, hampir tak bisa dilepaskan dari membicarakan sosok Budiman. Buku Menolak Lupa: Catatan Anak Muda Melawan Tirani (1999) misalnya, cukup menggambarkan bagaimana peran penting sosok bertubuh kurus ini. Dari catatan tersebut kita bisa melihat keberanian seorang anak muda yang dari dalam penjara tetap memberikan instruksi kepada kader PRD untuk terus melakukan aksi perlawanan.

Nah, ketika Budiman menulis apa yang ia sebut sebagai catatan refleksi ini lama selepas rezim jatuh, atau setelah banyak orang menganggap reformasi mengalami kegagalan, tentu tidak cukup menganggap buku ini sebatas untuk mengabadikan “episode-episode menegangkan” Indonesia menjelang akhir rezim otoriter . Lebih dari itu, kehadiran buku ini bisa digunakan untuk mencandra beberapa fenomena kekinian. Salah satunya, memotret kisah eks aktivis PRD yang saat ini banyak duduk di lingkaran kekuasaan.

Budiman banyak menceritakan kehidupan aktivisme  di PRD termasuk persinggungannya dengan orang-orang yang getol memperjuangkan demokrasi. Ketika rezim otoriter sudah lengser, banyak dari aktivis-aktivis ini yang merapat ke lingkaran kekuasaan. Ironisnya keputusan masuk gelanggang politik itu juga kerap dilandasi pilihan-pilihan yang semakin pragmatis.

Bisa kita lihat dari munculnya tren Stockholm syndrome pasca reformasi. Aktivis-aktivis yang pernah diculik kini justru bekerja dengan para penculiknya. Dengan begitu otobiografi ini menjadi cermin untuk melihat apakah orang-orang tersebut konsisten memperjuangkan sikap politiknya atau berubah total setelah merasa nyaman menggenggam kekuasaan. Ia juga bisa digunakan untuk menilai kegagalan atau keberhasilan Budiman saat ini.

Selain itu, buku ini juga bisa dibaca sebagai bentuk “berbagi inspirasi” kepada anak-anak muda. Terlebih lagi, bagi mereka yang memutuskan ingin masuk ke gelanggang politik. Pesannya, “menjadi politisi adalah puncak kematangan intelektualitas dan spiritualitas manusia”. Karena itu menjadi politisi berarti menjadi manusia yang lengkap. Tidak hanya mengerti politik tetapi juga memahami filsafat, sains, teater, sampai musik (halaman 228).

Salah satu sumber untuk menjadi manusia lengkap adalah dengan membaca buku. Tak mengherankan jika dalam otobiografi ini Budiman mengutip banyak buku serta penulis yang banyak mendewasakan intelektualitasnya. Buku ini kaya literatur. Jika jeli mengindeks, kita akan menemukan sekurangnya 76 penulis yang dikutip Budiman. Beberapa di antaranya bahkan diberikan catatan kaki untuk menjabarkan pemikiran lebih detail.

Sebut saja di antaranya Albert Camus, Alejo Carpentier, Andre Gunder Frank, Antonio Gramsci, Cornelius Ryan, Carl Sagan, Erich Fromm, Erik Erikson, Fernando Henrique Cardoso, Friedrich Nietzsche, Fritjoff Capra, Gabriel Garcia Marquez, Gaston Bachelard, Jacques Derrida, Jose Luis Borges, Hassan Al-Banna, Karl Marx, Karl May, Napoleon Cybulski, Maxim Gorky, Michael Hart, Pablo Neruda, Ralph Milliband, Richard Robison, Sayyid Qutb, Sigmund Freud,

Sementara dari Indonesia, Budiman mengutip nama-nama seperti Arief Budiman, Pramoedya Ananta Toer,  Sapardi Djoko Damono,  Soekarno, Tan Malaka, Soedirmo Boender, Wiji Thukul. Daftar tersebut belum menghitung tokoh-tokoh yang  banyak disebut sekilas. Mereka semua berjalin-kelindan dengan setidaknya 42 buku, 21 lagu dan 14 film yang menemani Budiman dalam perjalanan karier politiknya.

Buku pertama dari dua seri yang direncanakan terbit ini disusun dalam alur kronologis. Budiman berkisah dari mulai masa kecilnya, persinggungan dengan dunia aktivisme, dan diakhiri dengan persidangannya di pengadilan. Kisah tentang pengejaran dan penghancuran PRD secara sistematis dimunculkan di sela-sela bab. Menurut saya ini menjadi bagian yang paling menarik dalam buku ini. Kisah yang menunjukkan betapa bengisnya rezim yang ingin membungkam rakyatnya sendiri.

Selayaknya otobiografi, jebakan glorifikasi diri sendiri menjadi satu hal yang sulit dihindari. Tak terkecuali dalam buku ini. Di sekujur isi buku bisa kita rasakan Budiman banyak menulis tentang pemahaman dan penafsirannya terhadap sejarah hidupnya ketimbang bercerita apa yang ia alami di masa lalu. Pada titik ini, Anak-Anak Revolusi tak ubahnya buku-buku biografi para politisi yang kerap beredar di pasaran terutama menjelang pemilihan umum.

Lepas dari itu,  Anak-Anak Revolusi tetap menarik  untuk dibaca. Terutama karena ia mengisahkan radikalisasi anak-anak muda berusian 20-an tahun yang berani melawan rezim otoriter yang berusia 30 tahun lebih. Sedikit banyak buku ini memberikan konteks bagi radikalisasi tersebut. Generasi muda saat ini yang membacanya tentu bisa mengambil keberhasilan dan kegagalan mereka sebagai bahan pelajaran. Tidak sekadar romantisme.

Iklan

Satu pemikiran pada “Budiman dan Perlawanan Itu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s