Lini Masa Penghancuran Buku

IMG-20130926-00842

  • Judul Buku     : Penghancuran Buku dari Masa ke Masa
  • Penulis            : Fernando Baez
  • Penerbit          : Marjin Kiri
  • Cetakan          : Juli, 2013
  • Tebal               : 373 halaman

“Mengapa orang menghancurkan buku-buku?” Pertanyaan dari Emad, seorang mahasiswa di Bagdad ini membuat Fernando Baez tercekat. Doktor ilmu perpustakaan kelahiran Venezuela itu kebingungan menjawab pertanyaan tersebut dan memilih menghindar. Hari-hari itu, Mei 2003, Baez sedang berada di Bagdad dan menyaksikan sendiri bagaimana penghancuran buku di era kontemporer tengah berlangsung justru di tempat lahirnya buku-buku. Satu bulan sebelumnya, sejarah mencatat sekitar satu juta buku dibakar di Perpustakaan Nasional Irak dengan lebih dari sepuluh juta entri dari zaman Ustmaniyah sampai republik.

Fakta yang ditampilkan Baez dalam bukunya Penghancuran Buku dari Masa ke Masa dalam buku ini membuat saya merinding. Namun, semakin menyimak lembar demi lembar buku setebal 373 halam ini, ternyata hal itu memang belum apa-apa. Apa yang terjadi di Irak itu bukan satu hal yang baru dalam sejarah umat manusia. Baez melacak sejarah penghancuran buku dari mulai zaman kuno di Sumeria sekitar 5.300 tahun yang lalu. Lini masa yang disusun Baez  berjalin kelindan dengan nama-nama besar di berbagai peradaban, negara, bahkan agama.

Menariknya, rentangan lini masa tersebut berujung pada satu kesimpulan : Semakin terpelajar suatu bangsa atau seseorang, semakin besar syahwat untuk menghancurkan buku-buku di bawah tekanan apokaliptis. Dalam bahasa Yunani, apokaliptis bisa berarti “kiamat” atau juga “wahyu”. Pesannya jelas, kedatangan kiamat beriringan dengan keberadaan wahyu baru. Adanya penghancuran buku yang menandai keterlepasan ikatan dengan memori di masa lalu, muncul zaman baru dengan ingatan yang sama sekali baru.

Orang-orang terpelajar itu adalah kaum bibliokas, para penghancur buku. Seperti diungkapkan Baez, kaum bibliokas adalah orang-orang yang “berpendidikan, berbudaya, perfeksionis, dengan bakat intelektual yang tidak biasa, cenderung depresif, tidak mampu menolerir kritik, egois, mitomania, dan cenderung dalam lembaga yang mewakili kekuatan yang berkuasa dengan fanatisme berlebihan pada agama atau paham tertentu.” Simak beberapa momen penghancuran yang tak terbayangkan berikut :

B9

Zhao Zeng yang menggelari dirinya sebagai Shih Huang Ti (Kaisar Pertama) sekitar tahun 213 SM menyetujui pembakaran semua buku-buku di Cina kecuali yang berkenaan dengan pertanian, kedokteran, atau ilmu nujum. Lebih dari 400 cendekiawan yang menolak membakar buku-bukunya dikubur hidup-hidup. Tahun 8  SM, Kaisar Romawi, Agustus, memerintahkan pembakaran delapan ribu buku dengan alasan negara serta dua ribu karya Yunani dan Romawi yang tidak ia sukai.

Antara abad 2 sampai 6 M, ribuan buku-buku di Eropa terutama filsafat dan sastra dibakar dan dihilangkan dengan gereja sebagai aktor utama. Alasannya, “filsafat memicu semua bidah” sehingga semua karya-karya berbau filsafat mesti dihancurkan. Setelah memenangkan kembali perebutan Spanyol dari kalangan muslim, Raja Ferdinand V dan Ratu Isabela I memerintahkan 5.000 Al Quran, risalah keagamaan, sampai karya mistik sufi untuk dibakar.

Di tahun-tahun revolusi Prancis, setelah 1789, rezim teror Roberspierre yang menghukum pancung ribuan orang tak luput juga menghancurkan buku-buku. Di Paris setidaknya 8.000 buku dirusak, sementara di kota lain lebih dari empat juta buku dengan 26.000 di antaranya merupakan manuskrip kuno. Sementara Komune Paris 1871 menyebabkan hancurnya perpustakan Louvre yang katalog untuk koleksi saja tebalnya mencapai 9 jilid.

Di era modern, amuk fasisme terhadap buku tak kalah mengerikan. Di Spanyol, agen-agen polisi Franco menghancurkan buku-buku di lebih dari 257 perpustakaan rakyat. Di Jerman, peristiwa Holocaust terhadap orang Yahudi diawali dengan sebuah Bibliocaust. Hampir setiap hari pasukan Nazi merazia toko buku dan mengancam para penulis keturunan Yahudi. Tahun 1933, sayap pemuda Nazi membakar lebih dari 35.000 buku. Ironisnya, pembakaran buku tersebut diawali dengan ritual dan menyanyikan himne oleh mahasiswa.

Tahun-tahun berikutnya kekejaman tersebut semakin menggila. Terutama ketika Nazi melakukan ekspandi keluar Jerman. Di Polandia, 15 juta koleksi buku dilenyapkan, serangan udara ke Inggris berhasil menghancurkan 150.000 lebih buku, di Rusia 112 perpustakaan dihancurkan, di Ukraina bahkan sampai 19.200 perpustakan yang dibumihanguskan. Tidak hanya yang dilakukan negar a secara sistematis, penghancuran buku dalam sejarah juga melibatkan tokoh-tokoh terkemuka.

Rene Descartes memerintahkan buku-buku yang tidak sesuai pemikirannya dihancurkan untuk mengukuhkan metode pemikiran yang ia susun. David Humme, filsuf Skotlandia yang dikenal toleran meminta semua buku-buku berkaitan dengan metafisika diberangus. Gutenberg sang penemu mesin cetak bahkan menghancurkan separuh dari 180 Injil yang ia cetak.  Jangan lupakan juga bahwa filsuf Martin Heidegger pernah meminta mahasiswa filsafat untuk membakar buku-buku Edmund Husserl dalam sebuah teater pertunjukan fasisme.

Dengan rentangan lini masa penghancuran buku yang demikian panjang, wajar saja jika Noam Chomsky mengatakan bahwa buku ini merupakan buku terbaik tentang tema bibliosida. Sayang sekali, Baez tak memasukkan bibliosida ketika Indonesia di bawah rezim Orde Baru. Padahal bibliosida dalam negara Orde Baru juga menggunakan cara-cara yang sistematis dan mengerikan.

4769765p

Tentang penghancuran buku di Indonesia, saya hanya melihat Baez memasukkan peristiwa pembakaran tahun 2007 di mana 30.000 buku ajar SMA di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan yang tidak sesuai dengan sejarah versi pemerintah. Di edisi Spanyol yang terbit 2004, tentu saja tidak ada catatan tentang peristiwa ini. Saya tidak tahu apakah di versi bahasa Inggris yang terbit tahun 2008 memasukkan peristiwa ini atau tidak.

Sejak dari sampul, buku ini menarik karena memperlihatkan sampul yang seolah-olah bekas terbakar. Pun demikian dari judul. Menurut saya, judul dalam versi Indonesia lebih timeless karena menggunakan istilah umum “penghancuran buku dari masa ke masa”. Bandingkan dengan edisi Inggris maupun Spanyol yang memberikan titik awal (Sumeria 2750 SM) dan akhir (Irak 2004).

Tapi tentu saja, hal-hal semacam itu tidak mengurangi kadar mengerikannya sejarah penghancuran buku yang coba direntangkan Baez. Ketika tuntas membaca buku ini, saya teringat beberapa waktu yang lalu penerbit buku terbesar di negeri ini membakar buku yang diterbitkannya sendiri. Ironis karena pembakaran tersebut dilakukan atas tekanan kelompok-kelompok intoleran. Saya meresensi buku tersebut dan tentu saja bergidik membayangkan buku-buku yang masih ada di toko buku habis dibakar. Kecenderungan untuk menjadi bibliokas bisa menyusup ke dalam diri setiap orang. Jangan-jangan kita termasuk orang yang senang jika buku-buku dibakar?

Iklan

2 pemikiran pada “Lini Masa Penghancuran Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s