Akhirnya Kita Juara!

IMG-20130923-00832

Untuk memahami makna kebahagiaan orang-orang Indonesia setelah Ilham Udin berhasil menuntaskan tugasnya sebagai algojo penalti di Final Piala AFF U-19, anda bisa membaca halaman muka koran-koran yang terbit hari ini (Senin, 23 September 2013). Saya sengaja membeli banyak koran – seperti kebiasaan ketika ada momen-momen khusus – untuk melihat bagaimana koran mengabadikan kebahagiaan yang dirasakan oleh puluhan juta orang di Indonesia.

Dan memang seperti yang bisa diduga, hampir semua sepakat bahwa prestasi ini berhasil menuntaskan dahaga panjang gelar juara tim merah putih. Catat saja beberapa judul berikut:

Garuda Jaya Akhiri Paceklik Juara (Jawa Pos), Kemenangan Heroik (Republika), Bravo Garuda Muda! (Suara Merdeka), Indonesia Cetak Sejarah (Kedaulatan Rakyat), Hebat Garuda Muda! (Bola), Sepakbola Indonesia Bangkit (Media Indonesia), Akhir Paceklik Gelar 22 Tahun (Kompas), Indonesia Juarai Piala AFF U-19 (Koran Tempo).

Tidak hanya itu, angka 22 tahun dijadikan sebagai titik tonggak gelar terakhir yang didapatkan. Tidak peduli bahwa Piala AFF U-19 baru dimulai tahun 2002. Angka 22 tahun tentu merujuk pada gelar resmi terakhir yang didapatkan timnas senior, emas sepakbola Sea Games 1991. Hantam krama yang menunjukkan betapa kita sudah sedemikian lama menantikan prestasi sepakbola. Indonesia barangkali adalah potret “sepakbola nyaris” yang sempurna. Tahun 1997, 2000, 20002, 2004, 2010, 2011 adalah tahun-tahun di mana Indonesia hanya bisa masuk ke final untuk kemudian kalah baik di ajang Piala Tiger, AFF, maupun Sea Games.

IMG-20130923-00831

Karena itu, halaman muka koran hari ini adalah kejujuran, cerminan kelegaan sekaligus harapan masyarakat. Dan dengan begitu, sekali lagi koran dan jurnalis menahbiskan dirinya sebagai pusat dokumentasi bagi keseharian sepakbola Indonesia. Peran yang demikian penting ketika ilmuwan-ilmuwan sosial di negeri ini – seperti disebutkan Freek Colombijn di awal tulisannya The Politics of Indonesia Football (2000) – masih ogah-ogahan menulis tentang olahraga yang digemari mayoritas orang Indonesia.

Halaman muka koran hari ini adalah monumen pengingat bahwa prestasi ini bukan hasil akhir. Justru itu, ia menunjukkan bahwa kita punya anak-anak muda yang jika diperhatikan dengan serius, punya potensi untuk membawa sepakbola negeri ini lebih berprestasi di masa depan.Wajah-wajah gembira para pemain timnas U-19 mesti dibaca sebagai penanda bahwa rasa haus sudah terobati. Dan selanjutnya adalah prestasi di level yang lebih tinggi.

Sebagai pengingat, ia memperlihatkan bahwa prestasi ini akan menjadi percuma jika bakat-bakat tersebut dibiarkan begitu saja. Kecenderungan pemain seperti Ilham Udin dan Maldini Pali untuk berlama-lama menggiring bola, hobi Ravi Murdianto yang kerap menangkap bola sambil memajukan kaki ke arah lawan,  saya kira bukan semata kenakalan ala pemain muda. Kecenderungan semacam itu muncul di Liga Indonesia dan dilakukan banyak pemain.

Artinya, dengan usia yang masih muda, kecenderungan negatif semacam itu bisa dibabat dengan mengasah skill dan visi bermain. Saya ragu jika kompetisi domestik masih dikelola dengan semrawut seperti ini akan bisa mengembangkan visi bermain mereka. Tak perlu susah-susah mencari contoh kisah tentang pemain muda di Indonesia yang pada akhirnya layu sebelum berkembang.

IMG-20130923-00825

Halaman muka koran-koran hari ini juga mengatakan kepada kita betapa banyaknya orang-orang yang mengklaim prestasi ini sebagai jerih payahnya. Sepakbola kita sudah cukup dirusak oleh mafia terutama orang-orang partai politik yang ada di tubuh PSSI. Sebagai catatan, coach Indra Sjafri yang mendampingi anak-anak muda ini membuat sejarah pun sempat diberhentikan oleh PSSI.

Belum lama kita menjadi saksi tim nasional senior yang semestinya fokus ke final Piala AFF 2010 dirusak persiapannya dengan berbagai kunjungan yang tidak penting. Wajah kesal Irfan Bachdim ketika dicubit penggemarnya memperlihatkan betapa pemain lebih banyak diganggu urusan di luar sepakbola. Anak-anak muda ini sudah semestinya dilindungi dari hal-hal tersebut.

Anehnya, belum juga euforia meraih juara tuntas, sang ketua PSSI justru menyarankan mereka menjadi bintang iklan untuk meningkatkan pendapatan! Kalau prestasi anak-anak muda ini stagnan, kita sudah tahu seperti apa sepakbola di negeri ini dikelola. Koran sudah merekam kegembiraan ini dan selanjutnya kita akan tahu apakah berita-berita di masa depan akan memberikan rekaman kegembiraan yang serupa atau justru menjadi antiklimaks. Namun, sebelum lebih jauh membincangkan karut-marut sepakbola Indonesia yang sudah sedemikian parah, setidaknya euforia juara ini layak untuk dinikmati terlebih dahulu. Terima kasih untuk timnas U-19.

Akhirnya kita juara!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s