Belajar dari Washington Post

Kabar mengejutkan itu datang dari The Washington Post. Agustus 2013, surat kabar yang berusia 136 tahun itu resmi dilego kepada pemilik Amazon.com dengan nilai 250 juta dollar, atau sekitar 2, 5 trilyun rupiah. Penjualan tersebut mengakhiri kepemilikan keluarga Graham yang telah membawa The Washington Post menjadi surat kabar legendaris di Amerika Serikat. Salah satu kisah epiknya, liputan investigatifnya tentang skandal Watergate berhasil memaksa presiden Richard Nixon untuk mengundurkan diri.

Salah satu alasan yang melatarbelakangi penjualan tersebut adalah penurunan pendapatan iklan selama tujuh tahun berturut-turut. Kondisi ini seperti menegaskan senjakala media cetak. Awal tahun 2013, mingguan populer Newsweek memutuskan untuk mengakhiri edisi cetaknya dengan sepenuhnya fokus menjadi media digital.

Tahun 2009, harian The Rocky Mountain News yang berusia 153 tahun memutuskan mengakhiri edisi cetaknya. Demikian juga dengan The Seattle Post Intelligence yang sudah berusia 146 tahun. Sedangkan koran kenamaan seperti Chicago Tribune dan New York Times mengadakan penghematan besar-besaran.

Asosiasi Surat Kabar Amerika Serikat (2012) menyebutkan bahwa di semester satu 2012, media cetak kehilangan iklan sampai USD 798 juta bila dibandingkan tahun sebelumnya. Gejala ini pun melanda ke Eropa. Di Jerman misalnya, Financial Times Germany dan Frankfurter Rundschau tutup.

Dalam bukunya yang berjudul The Vanishing Newspaper (2004), Philip Meyer pernah meramal bahwa media cetak akan menemui kematian totalnya pada 2043. Dengan hitung-hitungan statistik yang detail, Meyer mengajukan analisis bahwa media cetak kalah total dari media digital. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin cepat meringkas dunia menjadi kampung global. Dalam penyebaran informasi, media digital sebagai anak kandung perkembangan teknologi mendesak media cetak ke tepian.

Aktualitas dan kecepatan media digital tidak bisa disaingi. Inilah era survival of the fastest. Lebih-lebih, media cetak harus menanggung beban produksi yang teramat mahal karena harga kertas meningkat drastis. Pendapatan dari pengiklan menurun. Keuntungan yang didapatkan tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Nubuat ini, meski memang terdengar radikal dan sedikit mengabaikan faktor adaptasi media cetak, pelan-pelan terbukti kebenarannya.

Kondisi ini tak dapat dipungkiri membuat gelombang kematian media cetak ini akan menerpa berbagai belahan dunia dalam tahun-tahun ke depan. Tak terkecuali di Indonesia.

Dalam World Association of Newspapers and News Publishers Conference yang digelar di Bali tahun 2012 lalu, muncul kesimpulan bahwa industri media cetak di Indonesia masih baik-baik saja. Era kematian media cetak di Indonesia masih jauh. Oplah surat kabar harian maupun majalah tidak mengalami penurunan. Ini berarti minat masyarakat dalam membaca media cetak masih tetap terjaga.

Namun, beberapa fakta tentang perkembangan teknologi yang berpengaruh terhadap distribusi informasi mesti diperhatikan. Fakta bahwa di tahun 2012 jumlah pengguna internet yang menurut YLKI sudah mencapai 55 juta orang tidak bisa diabaikan begitu saja. Angka ini naik 30, 9 % dibandingkan 2011. Bandingkan dengan jumlah total oplah surat kabar yang berkisar antara 14- 19 juta eksemplar. Survei yang dilakukan oleh AC Nielsen juga menunjukkan kecenderungan serupa. Tahun 2007, pembaca media cetak di Indonesia mencapai angka 37 persen populasi penduduk. Sementara di tahun 2012, jumlah itu turun drastis sampai 16 persen.

Kenaikan kuantitas pengguna internet ini mempengaruhi perilaku masyarakat dalam mengakses informasi. Penetrasi media sosial dalam memberikan informasi alternatif begitu menggeser peran media cetak atau konvensional. Apalagi, akses terhadap internet semakin mudah dan bisa digunakan secara mobile. Artinya, jika gagal diantisipasi, era kematian media cetak di Indonesia rasanya tinggal menunggu waktu.

Untuk mengantisipasi kematian dini tersebut, inovasi dan integrasi ke dalam dunia maya adalah sebuah keniscayaan. Integrasi (yang dalam beberapa hal menuntut konvergensi) tentu dimulai dari penyesuaian standar jurnalisme yang dipraktikkan sampai pergeseran budaya baca masyarakat. Penyesuaian tersebut dilakukan agar informasi tidak hanya cepat diberitakan tetapi memiliki perspektif yang mendalam (insightfull).

Hal ini berlaku juga untuk koran daerah yang memberikan banyak ruang untuk berita-berita daerah. Tantangannya tentang bagaimana membuat satu berita yang penting menjadi relevan untuk disajikan kepada masyarakat. Dalam era tsunami informasi, berita-berita yang penting kerap tumpang tindih oleh informasi-informasi sensasional yang sama sekali tidak berguna untuk masyarakat.

Banyak media cetak yang sudah mengintegrasikan diri dengan dunia maya. Sayangnya pola kerja yang digunakan masih menggunakan logika media cetak. Misalnya saja seperti jarang update berita yang membuat informasi menjadi cepat basi. Ini tentu membuat integrasi menjadi sia-sia karena tingkat keterbacaannya akan tetap rendah. Masyarakat yang cenderung mengakses informasi dengan menggunakan perangkat elektronik tentu lebih memilih kanal media yang memperbarui beritanya dengan rutin.

Tidak sekadar mengintegrasikan diri, media cetak juga mesti mampu melakukan engagement public. Caranya, dilakukan dengan interaksi yang intim. Inilah yang gagal dilakukan oleh Washington Post. Di websitenya memang terdapat kanal-kanal untuk publik seperti surat pembaca dan tulisan blogger. Namun, interaksi dua arah antara publik dan redaksi terasa minim.

Adaptasi media cetak menghadapi gelombang digitalisasi ini adalah conditio sine qua non. Media cetak saat ini berada di dalam dunia yang berlari. Hal ini memang tidak akan serta merta langsung terjadi di Indonesia. Prosesnya masih terus berlangsung pelan-pelan. Namun, mau tidak mau media cetak juga harus ikut berlari. Jika gagal, jangan heran jika generasi selanjutnya hanya akan menemui media cetak di ruang-ruang museum yang berdebu. Semoga tidak.

Tulisan ini dimuat di Harian Analisa 14 September 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s