Jurnalisme Politik dan Akumulasi Kapital

Daniel Dhakidae. 1991. The State, The Rise of Capital, and The Fall of Political Journalism: Political Economy of Indonesian News Industry. xxx + 583 halaman. Disertasi. Tidak diterbitkan

Banyak orang mengutuk terpusatnya kepemilikan media di tangan segelintir pengusaha cum politikus. Terutama pasca 1998, konglomerasi media kerap dijadikan sebagai kambing hitam penyebab terjadinya krisis wacana di ruang publik. Media telah dianggap sebagai perpanjangan tangan kepentingan pemiliknya sehingga berita-berita jauh lebih sering direspon dengan sikap sinis. Jurnalisme politik yang di era Orde Baru mati suri kembali muncul dengan bentuk yang sama sekali berbeda jika dibandingkan dengan apa yang ada sebelumnya dalam perkembangan media dan jurnalisme di Indonesia.

Sayangnya, kondisi semacam ini toh tak juga banyak melahirkan studi-studi tentang konglomerasi media serta dampak yang dimunculkannya. Kalaupun ada, studi-studi tersebut masih lebih banyak memberikan perhatian pada aspek permukaan konglomerasi media. Dengan demikian ia tidak sampai menelusuri lebih jauh tentang kondisi objektif ekonomi politik yang menyebabkan ekspansi kapital di bidang media cepat menyebar. Dan akhirnya, susah untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan dengan kondisi semacam itu.

Disertasi Daniel Dhakidae yang dituntaskan tahun 1991 ini tidak sampai menjawab pertanyaan tersebut. Selain karena sistem politik yang sudah berubah secara dramatis, industri media juga telah berkembang pesat sejak studi tersebut diselesaikan. Namun, studi ini menjadi karya yang paling otoritatif untuk melihat bagaimana kelahiran kapital dalam industri media dan kejatuhan jurnalisme politik di Indonesia.

Dhakidae membuka disertasinya ini dengan memberikan review atas delapan kajian tentang media di Indonesia yang mewakili dua pendekatan arus utama dalam studi media saat itu. Pertama, pendekatan sosio-politico-historical yang terlihat dari karya Edward Smith (1967), Chamber-Loir (1974), Ahmat Adam (1984), Francois Raillon (1984), dan de Jong (1990). Sementara pendekatan disiplin komunikasi – tipe pendekatan yang memusatkan pembahasan pada analisis isi – bisa dilihat dari studi Crawford (1967), Oey Hong Lee (1971), dan Bachtiar Aly (1984). Tidak semua karya tersebut diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Nah, Dhakidae mencoba melepaskan diri dari dominasi dua pendekatan tersebut dan menawarkan pendekatan ekonomi politik dalam studinya ini. Dengan menggunakan pendekatan tersebut, studi ini hendak melihat tentang perubahan yang terjadi dalam jurnalisme di Indonesia di masa otoritarianisme negara Orde Baru, awal mula pertumbuhan industri media, serta apa implikasi industri tersebut terhadap kejatuhan jurnalisme politik di Indonesia.

Terdiri dari lima bagian, di bagian awal Dhakidae mendeskripsikan tentang perkembangan pasar yang mencakup sirkulasi dan iklan media di periode 1950-an. Di masa itu, pasar media masih didominasi oleh koran-koran yang berafiliasi dengan partai politik. Pers partai menguasai pasar dengan total 77, 77 persen (komunis 28, 57 persen, sosialis 18, 14 persen, Islam 11, 56 persen, nasionalis 19, 5 persen) sementara pers yang independen hanya menguasai 22, 22 persen. Harian Rakjat menjadi surat kabar terbesar dengan oplah 55.000 eksemplar per hari.

Pada masa ini, pers baku hantam satu sama lain termasuk menyerang pemerintah dan menjadi corong propaganda partai politik. Jurnalisme politik di era ini menempatkan dirinya sebagai senjata yang ofensif dan destruktif. Sementara kabinet jatuh bangun sebagai konsekuensi sistem parlementer, pemberontakan di berbagai daerah, dan kondisi sosial masyarakat pasca revolusi masih labil, kritikan dan serangan keras dari pers semakin memperburuk keadaan.

Dalam sistem politik yang penuh goncangan inilah pasar media tumbuh berkembang. Pasar media yang berlari dalam politik yang masih labil pada akhirnya mengundang intervensi pemerintah untuk melakukan tindakan represif terhadap pers. Represi di era Soekarno ini bisa dengan detail dalam studi Edward C Smith yang telah dialihbahasakan ke bahasa Indonesia dengan judul Pembreidelan Pers di Indonesia (1986). Setelah kejatuhan Soekarno, langgam jurnalisme politik mengalami perubahan.

Perkembangan pasar menyebabkan media tidak lagi mengandalkan partai politik sebagai sumber utama pendanaan. Dan ini juga berakibat pada media yang semakin independen. Mereka harus mencari sumber pendanaan sendiri agar bisa mandiri. Independesi ini yang disebut Dhakidae membawa media pada tahap yang lebih jauh untuk menentukan politiknya sendiri. Ia menyebut setidaknya ada tiga jenis jurnalisme politik di era ini yaitu militan, moderat, dan konservatif nasionalis. Masing-masing membentuk satu persekutuan politik yang rumit dan bisa dilihat dalam tabel berikut :

Political Journalism

Gaya semacam ini pada akhirnya mengundang kembali represi negara. Kisah negara Orde Baru tidak lengkap jika mengabaikan cerita-cerita yang terjadi hampir sepanjang rezim tersebut berkuasa. Pembredelan besar-besar pasca peristiwa 15 Januari 1974 menjadi titik balik yang menunjukkan kejatuhan jurnalisme politik di Indonesia. Membaca bagaimana jatuh bangun jurnalisme politik dalam sejarah di Indonesia memang menarik.

Namun bagi saya, sumbangan terbesar studi ini adalah pelacakan terhadap “the rise of capital” dalam industri media di Indonesia. Dekade 1980-an, media massa ibarat seorang tentara yang pulang dengan keletihan luar biasa pasca perang. Depresi dan frustasi. Pengalaman represi negara yang traumatik, rendahnya jaminan keamanan terhadap bisnis media, serta pasar media yang berkembang pesat. Kebebasan pers dengan martabat namun mengundang represi atau kepatuhan terhadap negara yang menawarkan kemakmuran. Tak banyaknya pilihan yang tersedia memaksa pers untuk melakukan ekspansi dan diversifikasi produk.

Dhakidae menggunakan enam media sebagai contoh untuk melihat bagaimana akumulasi kapital terjadi. Pertama, akumulasi kapital yang terjadi di Sinar Harapan, Kompas, dan Tempo. Ketiga media ini ditandai dengan karakteristiknya sebagai media berorientasi pasar nasional dan terintegrasi dengan industrialisasi secara umum. Kedua, akumulasi kapital di Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, dan Pos Kota dengan karakteristiknya yang berorientasi pasar lokal dan integrasi yang rendah terhadap industrialisasi.

Akumulasi kapital dalam media cetak ini layak disebut sebagai pembuka jalan bagi industrialisasi media secara keseluruhan. Apalagi pasca rezim daripada Soeharto membuka lebar investasi asing pasca bonanza minyak. Simak pertumbuhan industri media cetak di Indonesia dalam tabel berikut :

jurnalisme politik

Intensitasnya yang semakin masif pada tahap selanjutnya membawa jurnalis terjebak pada pertanyaan yang sampai saat ini tetap relevan didengungkan : apakah jurnalis adalah buruh? Pertanyaan yang muncul karena jurnalis harus bekerja dengan menjual kemampuan profesionalnya di bidang jurnalistik. Pengusaha atau pemilik modal menjadikan berita-berita untuk meraih keuntungan yang kemudian bertransformasi menjadi kapital. Dalam kondisi tersebut, jurnalis tidak memiliki banyak wewenang dalam memutuskan kebijakan media.

Sifatnya yang profesional membuatnya tidak memiliki daya tawar yang kuat dalam hubungan produksi. Patut dicatat, rezim Orde Baru memberi batasan terhadap industri media dan tidak membiarkannya tumbuh tanpa batas. Penyebabnya, Orde Baru membutuhkan media sebagai penyalur informasi sekaligus sarana kontrol. Tak perlu heran jika – seperti dicatat Dhakidae – kita menemui berbagai kontradiksi internal dalam industri media yang segendang sepenarian dengan perkembangannya.

Studi ini semestinya bisa dibaca para akademisi, peneliti, pengusaha media, jurnalis, dan praktisi media lainnya. Seperti saya sebut di awal, ia menjadi fondasi yang kokoh dalam melihat ekspandi kapital dalam industri media dan runtuhnya jurnalisme politik di Indonesia. Dengan belajar dari sini, kita bisa mendapatkan gambaran yang komprehensif. Sayang sekali ia tidak diterbitkan dalam bentuk buku yang bisa dibaca kalangan luas. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s