Kisah Sang Saksi Kunci

IMG-20130819-00702

  • Judul Buku    : Saksi Kunci
  • Penulis             : Metta Dharmasaputra
  • Penerbit          : Tempo
  • Tebal               : xliv + 446 halaman
  • Cetakan          : Pertama, 2013

Membaca lembar demi lembar buku Metta Dharmasaputra membuat saya merasa bahwa negeri ini sedang berjalan dalam lorong gelap. Kasus Asian Agri adalah pertunjukan telanjang betapa kuasa modal telah mencengkeram berbagai sudut republik. Tangan-tangan tak terlihatnya mampu menjangkau media, pejabat pemerintahan, penegak hukum, bahkan para begawan di kampus. Melalui liputan investigasi dan berbagai ekses yang muncul sebagai konsekuensi, Metta menunjukkan bagaimana tangan-tangan tak terlihat tersebut beroperasi.

Kasus Asian Agri ini meledak di tahun 2007-2008, meskipun tidak banyak media yang memberitakan. Pemberitaan yang minim ini memang terdengar ironis jika kita melihat siapa dan apa yang diberitakan, Sukanto Tanoto dan penggelapan pajak. Di tahun 2006, majalah Forbes menobatkannya sebagai orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan ditaksir sebesar Rp 25 triliun! Dengan angka kekayaan sebesar itu, memang juga terasa ironis ketika Asian Agri – perusahaan perkebunan kelapa sawit miliki Sukanto – melakukan penggelapan pajak senilai Rp 1, 3 triliun.

Isu penggelapan pajak ini muncul ke muka publik diawali dengan email Vincentius Amin Sutanto kepada Metta. Vincent mengaku memiliki segepok dokumen mengenai manipulasi pajak yang dilakukan Asian Agri. Ia akan memberikan data-data tersebut sehingga meminta Tempo secepatnya ke Singapura. Saat itu memang masa-masa yang menegangkan bagi Vincent karena ia sedang berada dalam pelarian setelah membobol uang perusahaan sebesar Rp 28 miliar.

Vincent jelas bukan orang sembarangan. Ia menjabat sebagai Group Financial Controller Asian Agri sebelum pembobolan tersebut. Dengan jabatan itu, semua transaksi keuangan termasuk perencanaan pajak harus mampir ke mejanya sebelum persetujuan akhir. Tempo kemudian menugaskan Metta ke Singapura. Dan dari situlah manipulasi pajak terbesar dalam sejarah republik pelan-pelan terbuka. Sepanjang 446 halaman, investigasi dirajut pelan-pelan seiring dengan perkembangan kasus yang bergulir cepat.

Buku ini mengacu pada catatan harian  Metta dan Vincent serta verifikasi pada dokumen-dokumen otentik, kesaksian di pengadilan, serta wawancara dengan narasumber. Ibarat novel detektif, kita tidak tahu ke mana kasus ini akan bermuara sebelum mengurai lapis demi lapis peristiwa. Berbagai peristiwa yang muncul juga menjadi semakin terasa menegangkan karena kisah-kisah ini memang benar-benar terjadi. Metta membawa ikut merasakan ketegangan di Singapura, Jakarta, Medan, bahkan di penjara Salemba dan Cipinang.

Simak misalnya ketika pelarian Vincent di Singapura dan kembali ke Indonesia (bagian II dan III). Beberapa kali Vincent kepikiran untuk bunuh diri, istri dan anak-anaknya diintimidasi, sampai detektif swasta bernama Mr. Goh yang memburunya. Sementara untuk beberapa ancaman yang menimpa Metta terlihat di bab VIII. Mette menuliskan bahwa pihak Sukanto Tanoto sampai menyewa Pinkerton – jasa layanan konsultasi keamanan dan investigasi terbesar di dunia –  untuk mematai-matai dirinya dan Toriq Hadad yang saat itu menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Tempo (halaman 285). Ban mobil Metta juga sempat ditusuk menggunakan pisau beberapa kali.

Tentu saja, skandal penggelapan pajak yang merugikan negara sampai angka Rp 1, 3 triliun adalah satu hal yang penting. Bagaimana modusnya, siapa aja pelakunya, apakah sudah menjadi praktik yang lazim, dan sebagainya merupakan deret pertanyaan yang menarik untuk didalami. Namun, buku Metta ini juga menarik didiskusikan dalam konteks perkembangan kajian jurnalisme di Indonesia.

Efek Samping

Efek samping liputan investigasi yang dilakukan Metta dan Tempo memang cukup kompleks. Setelah cover story majalah Tempo tentang dugaan manipulasi pajak Asian Agri berjudul “Akrobat Pajak?” terbit pada 15 Januari 2007, skandal ini menggelinding semakin besar dan melibatkan banyak pihak. Ada beberapa hal yang saya kira menjadi pemantik diskusi lebih lanjut.

Pertama, ihwal aspek-aspek etik dalam peliputan investigatif yang dilakukan Tempo. Banyak protes yang bermunculan dan  mengecam pemberitaan yang dirasa sepihak dan menghakimi. Salah satunya melalui kajian “ilmiah” yang dilakukan Jurusan Ilmu Komunikasi UGM dan Pusat Pengkajian dan Penelitian Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (P3ISIP) UI. Kesimpulan dari penelitian atas teks berita yang didanai Asian Agri tersebut mengatakan bahwa liputan Tempo tersebut bias, mengabaikan prinsip praduga tak bersalah, mengarah pada trial by the press dan menjadikan prinsip kebebasan pers sebagai tirani (halaman 299).

Dalam buku ini, Metta memberi klarifikasi – dengan telak –  terhadap kesimpulan-kesimpulan penelitian tersebut. Sebagai catatan, Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen sudah menyatakan bahwa dari sisi karya jurnalistik, tidak ditemukan pelanggaran atas standar professional dan kode etik jurnalistik. Laporan yang ditulis Metta bersifat faktual, objektif, dan berimbang (halaman 266). Ekses penelitian ini sendiri pernah membuat “panas” pers mahasiswa yang saya ikuti semasa menjadi mahasiswa.

Kedua, tentang relasi antara jurnalis dengan narasumbernya. Hal ini menjadi salah satu bahasan menarik. Hubungan antara Metta dan Vincent tidak lagi sekadar relasi antara jurnalis dan narasumbernya. Metta tidak melaporkan persembunyian Vincent kepada polisi. Ia juga membantu Vincent dan keluarganya untuk menghubungi pengacara yang mau mendampinginya. Untuk itu Metta bahkan mesti mencari penyandang dana yang mau membiayai. Etiskah ini?

Hal ini memang problematis, apalagi yang dilakukan oleh Metta sudah tidak lagi berkaitan dengan aktivitas jurnalistik yang dilakukannya. Namun, saya kira, apa yang dilakukan oleh Metta memang dapat dipahami. Bagaimanapun juga, meskipun menjebol uang perusahaan, Vincent adalah saksi penting yang harus dilindungi karena ia akan membongkar rahasia besar perusahaan. Sebagai saksi utama, keamanannya wajib dilindingi. Namun bagaimanakah nasib mereka?

Pertanyaan tersebut membawa pada catatan ketiga yaitu tentang whistleblower. Di Indonesia, para peniup peluit ini naasnya belum mendapatkan jaminan perlindungan yang kuat. Tangan-tangan para penjahat itu dengan mudah mampu menjangkau mereka. Penjara yang ketat pun bukan merupakan tempat yang aman. Simak saja pengalaman Vincent selama di penjara yang membuat detak jantung terus dipacu. Ancaman pembunuhan sewaktu-waktu bisa terjadi.

Keempat, isu kebebasan pers yang terancam direnggut. Satu hal yang mengherankan dan janggal dalam kasus ini adalah penyadapan yang dilakukan oleh polisi terhadap Metta.  Penyadapan ini tentu mengherankan. Sementara ada dugaan penggelapan pajak dengan angka fantastis, polisi justru sibuk menyadap jurnalis. Apalagi yang disadap tidak hanya sms tentang kasus tersebut tetapi juga yang sms seputar keluarga dan kantor. Salinan sms tersebut beredar luas di tangan wartawan bahkan anggota DPR.

Semakin mengherankan karena polisi tidak mampu memberikan argumen yang meyakinkan ihwal penyadapan ini. Garis bawahnya, jika penyadapan macam ini bisa menimpa wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik, hal yang sama juga bisa melanda siapa saja. Tentang ancaman terhadap jurnalis ini bisa juga dibaca di salah satu bagian buku Dandhy Dwi Laksono Jurnalisme Investigasi (2010). Dandhy yang saat itu masih wartawan RCTI berkisah bagaimana timnya yang juga menginvestigasi kasus Asian Agri ini diawasi oleh orang tak dikenal ketika sedang liputan di Singapura.  Foto-foto tersebut kemudian dikirim ke kantor RCTI.

Kelima, dan yang menurut saya paling menarik adalah – mengutip Janet Steele dalam pengantar – kembalinya tradisi jurnalisme naratif. Buku Metta adalah teks yang melibatkan diri. Jika ringkas, jurnalisme naratif membuat pembaca bisa menikmati sebuah berita layaknya sebuah novel. Tentu saja ia sepenuhnya bersandar pada fakta. Pembaca diajak untuk mengikuti adegan demi adegan dengan membiarkan karakter-karakter dalam tulisan mengisahkan dirinya sendiri.

Seperti dituturkan Tom Wolfe dalam The Birth of The New Journalism: An Eyewitness Report (1972), dalam jurnalisme naratif para jurnalis merekonstruksi ulang seluruh adegan, mewawancarai banyak orang, memeriksa dokumen-dokumen otenti, lantas menjadikannya sebuah kisah yang bergerak dalam tulisan. Gaya penulisan semacam ini hanya lamat-lamat terdengar dalam dunia jurnalisme di Indonesia. Tidak banyak media cetak yang menggunakannya.

Tentu saja, hal-hal yang saya sebutkan tadi hanya beberapa cabang saja. Masih banyak cabang-cabang dari kasus ini yang bisa didalami lebih jauh. Di antaranya tentang gugatan hukum kepada jurnalis dan media, bocornya naskah yang belum diterbitkan, sampai pembentukan opini publik yang dirancang oleh jurnalis senior. Belum lagi gugatan terhadap buku ini yang dilayangkan Asian Agri. Dari buku ini juga kita bisa mencatat nama-nama (dari politisi sampai penegak hukum) yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam kasus ini. Nama-nama yang mesti diwaspadai di masa depan.

Pada titik ini, saksi Kunci telah menuntaskan kesaksiannya.

Iklan

2 pemikiran pada “Kisah Sang Saksi Kunci

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s