Ramadan, Televisi dan Kelesuan Rohani

Berpuasa di Indonesia rasanya lebih mudah bila dibandingkan dengan di negara lain. Tidak hanya karena waktu yang relatif pendek sekitar 12-13 jam (bandingkan, misalnya, dengan di negara-negara Eropa yang bisa mencapai 16-18 jam) tetapi juga karena televisi pun beramai-ramai menampilkan acara untuk merayakan bulan ini. Selama satu bulan, kita akan jauh dari tayangan-tayangan yang “mengumbar aurat” dan “menggoda iman”. Artis-artis yang biasanya tampil dengan pakaian serba minim mendadak berjilbab dengan ngejreng, siraman rohani bertebaran sepanjang waktu, sampai kuis-kuis yang berhadiah jutaan rupiah.

Namun, benarkah banyaknya tayangan itu betul dimaksudkan untuk menghormati bulan ramadan? Sepertinya tidak. Barangkali tidak akan pernah. Tayangan-tayangan tersebut mengisi ramadan dengan menghilangkan nilai-nilai ramadan. Di minggu pertama ramadan 2013 saja, Komisi Penyiaran Indonesia setidaknya sudah melayangkan teguran kepada 4 tayangan televisi. Ironisnya, teguran tersebut tidak hanya diberikan kepada tayangan yang sudah bisa “diprediksi” seperti Sahurnya Fesbuker (ANTV) dan Yuk Kita Sahur (Trans TV), tetapi juga Hafidz Indonesia (RCTI) yang banyak disebut sebagai tayangan berkualitas.

Fakta sederhana tersebut menjadi ilustrasi betapa religiotainment ala televisi menampilkan ramadan sebagai bulan yang penuh sesak dengan hiburan bertopeng agama. James Hoesterey dalam buku Expressing Islam : Religious Life and Politics in Indonesia (2008) mengatakan bahwa revivalisme Islam membuat otoritas keagamaan menyebar di berbagai entitas tak terkecuali dalam televisi (media). Otoritas keagamaan televisi ini dalam pengalaman di Indonesia nampak dalam fenomena yang disebut Hoesterey sebagai tele-dai.

Tele-dai dengan gemilang mengambil ceruk krisis kultural masyarakat karena gempuran gaya hidup materialistis dan hedonis. Terutama di bulan ramadan, hasrat untuk mensucikan diri membuat mayoritas masyarakat mendekat kepada agama. Kesadaran ketuhanan (god consciousness) ini terjadi secara masif, apalagi di negara seperti Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Pendekatan diri kepada agama mendesak orang-orang ini untuk belajar agama secara praktis dan aplikatif.

Keinginan semacam ini tentu cocok saat berjumpa dengan televisi. Perjumpaan ini menjadi mesra karena televisi merupakan media penyiaran dengan penetrasi informasi ke publik yang begitu kuat. Dalam scarcity theory disebutkan bahwa frekuensi itu terbatas jumlahnya. Namun, karena keterbatasan tersebut, kemampuannya untuk masuk ke ruang privat masyarakat justru menjadi semakin besar.

Kekuatan visual – ditambah waktu intensitas penetrasi informasi yang banyak – yang dimiliki juga membuat televisi mampu mempengaruhi memori publik. Pengaruhnya jauh berbeda jika kita bandingkan misalnya, dengan media cetak. Ketika syiar Islam berjalin kelindan dengan televisi, ia tidak lagi sekadar perkara fikih. Dalam era tele-dai, syiar agama telah menjadi mode konsumsi itu sendiri.

Yang sakral, yang profan, yang etis, yang estetis, lebur dalam arus besar budaya populer. Ustad-ustad muda yang sering (di)tampil(kan) di televisi menjelma selebritis dengan penggemar fanatik. Tidak hanya tampil dalam acara ceramah keagamaan, ustad-ustad ini muncul dalam sinetron juga iklan. Kehidupan pribadinya kerap diekspose dalam tayangan-tayangan infotainment. Ketika ustad ini telah menjelma menjadi selebritis, selera pasar yang kemudian berbicara. Frekuensi penampilannya di televisi tidak berbanding lurus dengan pemahaman sang ustad tentang agama. Ustad-ustad ini menjadikan agama sebagai bungkus, bukan isi.

Kita tidak akan menyaksikan ustad-ustad seleb bicara tentang isu keagamaan yang akhir-akhir ini kerap berujung pada konflik sosial. Tema-tema ceramah hanya sampai pada tataran moralitas normatif. Pada akhirnya, gegap gempita hiburan di sekitar ceramah keagamaan justru meminggirkan (bahkan meniadakan) pesan-pesan religius yang ingin disampaikan.Sebagai produk industri budaya populer, komodifikasi televisi adalah satu keniscayaan.

Setiap tayangan yang “tidak laku” akan cepat mati. Jika ingin berusia panjang dan mendapatkan rating tinggi, nilai tambah harus diberikan. Kalau perlu bumbu seks, humor, maupun kekerasan ditaburkan di sana-sini. Nilai tambah yang pada satu titik justru berakibat pada hadirnya kedangkalan. Hari-hari ini, proses pendangkalan tersebut bisa kita rasakan dengan begitu masif.

Tak perlu heran jika sembari menemani waktu sahur, lawakan sarkastik ala Olga Syahputra maupun Eko Patrio sang anggota dewan yang terhormat muncul setiap malam. Alih-alih tertawa seperti para penonton di studio televisi tersebut dan membuat saya semangat untuk makan sahur, yang ada justru rasa muak. Religiusitas macam apa yang bisa didapatkan dengan menonton tayangan semacam itu?

Pendangkalan pesan sebagai konsekuensi komodifikasi televisi patut dijadikan salah satu penyebab kelesuan rohani masyarakat, alih-alih meningkatkan religiusitas. Televisi tidak menampilkan agama sebagai basis norma-norma religius yang menjadi tuntunan masyarakat. Agama justru dibajak sebagai modus untuk menarik keuntungan. Ia tidak lebih sekadar menjadi tontonan. Kelesuan rohani yang muncul ini setidaknya terjadi karena dua hal. Pertama, sifat tayangan sambil lalu karena hanya memanfaatkan momentum ramadan.

Asosiasi citra beragama didangkalkan. Simak misalnya, dalam banyak tayangan maupun kuis, kerap dikutip ayat-ayat dari kitab suci Al-Qur’an tanpa pemberian konteks yang tepat. Tentu ironis bagaimana simbol-simbol agama ditampilkan serampangan yang berpotensi menimbulkan kesalahan tafsir dari masyarakat. Sebagai tontonan sambil lalu, tak ada nilai-nilai yang bisa dijadikan sebagai bahan refleksi. Jejaknya ini begitu mudah terhapus.

Selepas ramadan, hampir bisa dipastikan bahwa sebagian besar tayangan tersebut hilang tanpa bekas. Artis perempuan kembali menggunakan baju yang minimalis, reality show mengumbar kembali caci-maki dengan vulgar, dan sebagainya. Lebih klise, tayangan agama kemudian dilokalisir dalam doa di akhir malam, atau menjelang pagi. Arus besar konsumtivisme yang menandai eksistensi televisi di bulan ramadan ini menjadi penyebab kelesuan rohani selanjutnya.

Puasa, pada hakikatnya berfungsi melatih kesabaran. Tidak sekadar perkara makan dan minum, ada dimensi sosial yang melekat di dalamnya. Namun televisi nyaris selama 24 jam sehari menjejali masyarakat dengan berbagai iklan yang memiliki daya menghipnotis masyarakat. Adrenalin khalayak sebagai consumer (alih-alih citizen) dipacu kencang dengan berbagai iklan yang merentang dari makanan, obat, alat komunikasi, sampai fashion. Relasi gempuran iklan oleh televisi dengan khalayak ini menegaskan apa yang pernah disebutKuntowijoyo dengan budaya pasar. Siklus komodifikasi agama berputar sempurna.

Pada akhirnya, memang tak ada nilai-nilai ramadan dalam tayangan ramadan di televisi. Berharap pada televisi barangkali akan terasa fatalis karena raison d’etre televisi yang berorientasi pada akumulasi kapital dan anak kandung industri budaya populer. Pada momen krusial semacam ini, kita tentu berharap pada negara untuk menegakkan regulasi dan melindungi publik. Atau kalau negara memang sudah segendang sepenarian dengan derap kapital, harapan tersisa hanya kepada publik agar tayangan semacam itu tidak berulang setiap tahun. Bagaimana?

(Artikel ini tayang di Remotivi 31 Juli 2013)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s