Suporter dan Tugas Kultural

Mereka yang hadir langsung menyaksikan PSS vs Persis Solo (9/6) pasti bisa merasakan bahwa stadion Maguwoharjo menjelma medan perang yang menandai notorious rivalry baru dalam dunia sepakbola Indonesia kontemporer. Lemparan botol bir, air kencing, batu, flare, sampai kembang api ke atas rumput lapangan menegaskan ekspresi identitas suporter yang jauh lebih menonjol ketimbang semata dukungan terhadap klub. Kecenderungan yang hampir merata di berbagai daerah. Sepakbola menjadi minoritas sore itu.

***

Drama di Maguwoharjo dimulai ketika wasit hampir saja meniup peluit kick-off. Di gawang sebelah selatan, I Komang Putra jatuh terkapar. Ada batu dan botol bir dalam paper rain yang dilakukan Brigata Curva Sud (BCS). Saya ragu IKP terkena botol bir itu. Dari tribun biru saya menyaksikan botol itu berada di sebelah barat tiang gawang, agak jauh dari lokasi terkaparnya IKP.

970867_611403052211041_1220968214_n

Kapten Persis ini dibawa keluar lapangan, kepalanya diperban, pertandingan ditunda sekitar 15 menit. Saya hampir yakin IKP tidak mudah takut dengan teror suporter. Ia jelas memiliki segudang pengalaman yang cukup untuk berada di depan gawang, dan berarti langsung berada di bawah tribun penonton. Sejak bermain di PSIS, kiper ini menjadi salah satu pemain yang saya idolakan.

Loyalitasnya terhadap klub sangat tinggi. Di hari pernikahannya, ia bahkan tetap memutuskan untuk bermain. Pagi menikah di Solo, sore membela PSIS di Jatidiri. Satu hal yang belum hilang, pengalaman membuatnya mampu mengatur tensi pertandingan. Menaikkan semangat teman-temannya, menghentikan pertandingan, termasuk mengintimidasi penyerang lawan dan wasit. Ia aktor yang baik. Termasuk sore itu.

Hampir selama pertandingan, wajah sepakbola Indonesia “sebagaimana biasanya” terlihat begitu telanjang. Dari mulai lemparan penonton ke lapangan, wasit yang berat sebelah, protes pemain terhadap kepemimpinan wasit, pembakaran syal, sampai pemain yang mengincar kaki alih-alih mengejar bola. Tentu saja saya bilang biasa karena beberapa kali pernah berada pada situasi yang jauh lebih buruk dari sore itu. Salah satunya di tahun 2000 ketika ribuan suporter PSIS mengamuk di Jatidiri – sampai membakar jala gawang dan menghadiahi manajemen tim dengan anak ayam – karena melihat permainan gajah timnya sendiri.

Pertandingan PSS vs Persis ini semakin panas karena dibalut dendam antarsuporter sejak tahun lalu. BCS dan Pasoepati. Kebetulan, tahun lalu saya juga menyaksikan duel kedua tim di stadion Maguwoharjo. Bentrokan yang begitu kompleks dengan bumbu provokator di sana-sini telah menyebabkan hubungan yang awalnya baik-baik saja, membuat kedua kubu tiba-tiba bermusuhan. Simak saja video bentrokan di Youtube.

Sementara di twitter maupun di facebook, ungkapan-ungkapan provokatif semakin kencang. Dendam yang kelihatan akan bertahan lama. Persekutuan rumit terbentuk, bahkan melibatkan kelompok suporter tim lain. Beberapa kali BCS tur ke Jawa Timur, hampir pasti dicegat di Solo. Rekonsiliasi masih jauh. Kecuali dendam, sebenarnya hampir tidak ada alasan yang membuat pertandingan ini menjadi begitu panas. Secara historis, PSS dan Persis jelas bukan rival bebuyutan. Jauh berbeda misalnya kita bandingkan dengan Persib vs Persija, Arema vs Persebaya, atau bahkan PSS vs PSIM.

Namun dari situ bisa dibaca bahwa sepakbola (modern?) menyediakan ruang lebar bagi ekspresi identitas komunitas suporter yang terorganisir. Sifatnya yang kolektif minus ideologi membuat potensi konflik timbul tenggelam dengan cepat. Sifat kekerasan dalam sepakbola ini menunjukkan wajah berbeda dibandingkan era awal permainan ini di Indonesia. Dalam tulisannya yang berjudul The Politics of Indonesian Football (2000), Freek Colombijn menjelaskan bahwa kekerasan dalam sepakbola di era kolonial mencerminkan benturan etnisitas dalam masyarakat majemuk sebagai konsekuensi dari politik segregasi pemerintah Hindia-Belanda.

Rumput hijau adalah lahan perjumpaan bagi identitas etnis tim – dan dengan demikian juga suporter – yang sedang bertanding. Di dalamnya kita akan menyaksikan “perjuangan kelas sosial”. Memang, penjelasan semacam ini hanya bisa kita gunakan untuk melihat sisi historis sepakbola Indonesia. Ia nyaris gagal untuk membaca situasi saat ini. Kekerasan memang masih berjalin-kelindan dengan kebijakan politik penguasa, namun benturan etnis pelan-pelan mengabur.

Darmanto (2012) misalnya, mencatat bahwa depolitisasi melalui kebijakan floating mass Orde Baru telah menjadikan klub sepakbola – baik perserikatan maupun asosiasi sepakbola lokal – sebagai ruang pelarian masyarakat untuk mengekspresikan identitas lokalnya. Sentimen etnis direduksi ke dalam identitas kedaerahan berdasarkan pembagian administratif wilayah negara. Dengan sokongan dana dari APBD, klub mengikat emosi kelompok pendukungnya dengan basis lokalitas baik kota maupun provinsi.

Ikatan sosial ini menjadi fondasi yang kokoh bagi persaingan antartim dan sisa-sisanya masih bertahan sampai saat ini. Maka ketika LPI (Panigoro?) membentuk banyak “klub profesional” yang diniatkan sebagai bentuk kompetisi profesional di Indonesia, mereka gagal total. Tak ada dukungan, tak ada loyalitas, tak ada identitas yang mengikat suporter. Akhirnya bisa ditebak, satu per satu klub abal-abal tersebut bubar dengan sendirinya.

Mencairnya identitas lokal bisa dibaca dalam narasi pasca reformasi yang selanjutnya juga membedakan konflik dan kekerasan suporter dengan era sebelumnya. Freek Colombijn (2000:195) tak ragu untuk menyebut bahwa “westernisation (the example of European Hooliganism) is a cause of the violence. Penetrasi teknologi dalam gegap-gempita globalisasi tak bisa dipungkiri membuat kelompok-kelompok suporter lintas negara bisa saling terhubung dan belajar.

Maka ketika terjadi pendisiplinan suporter melalui pembentukan kelompok-kelompok resmi di awal masa-masa kritis pasca 1998, ia memunculkan apa yang disebut Lubabun Ni’am dan Wisnu Prasetya (2012) sebagai bom waktu yang sewaktu-waktu siap meledak. Kelompok resmi suporter menjelma penentu otoritas moral bagi para pendukung klub agar lebih kreatif dan tidak “anarkis” ketika berada di kuil selebrasi tribun stadion.

Berbagai upaya dilakukan untuk menegaskan otoritas tersebut. Misalnya saja pertemuan bersama pada tahun 2000 yang menyepakati 12 Juli sebagai Hari Suporter Nasional. Atau deklarasi damai dalam jambore suporter pertama tahun 2006. Lamat-lamat terdengar kabar juga bahwa Menpora Roy Suryo ingin mengadakan kembali jambore suporter.

Ledakan tersebut, tentu saja muncul karena pendisplinan pada satu titik mengabaikan kerumunan individu dalam rentetan krisis sosial masyarakat modern. Beberapa tulisan di berbagai website resmi kelompok suporter menunjukkan bagaimana sepakbola telah menjadi ceruk individu untuk mengekspresikan frustasi karena tekanan sosio-politik.

Selain itu, fenomena “ultras” yang ditandai dengan pakaian hitam-hitam menunjukkan kejenuhan terhadap kelompok suporter resmi. Ultras dalam konteks ini merujuk pada suporter sepakbola di Italia yang menganggap dirinya memiliki “tugas kultural”.

Dal Lago dan De Biasi dalam salah satu bab di buku Footbal, Violence, and Social Identity (1994:77) menjabarkan dengan jernih bahwa “tugas kultural” tersebut adalah “to conduct a spectacular display associated with the footballing spectacle, by a lively and persistent choreography of collective support, with big banners and flags, firework displays, choruses and chants which, sometimes, involve everybody in the stadium”.

Pemaknaan diri terkait “tugas kultural” tersebut memberi pengaruh terhadap pembelahan suporter satu klub yang nyaris terjadi secara merata di berbagai kota. Tak dapat dipungkiri pemaknaan semacam ini pun pada tahap selanjutnya membuat wajah konflik antarsuporter – bahkan suporter satu klub –  yang dilakukan dengan pembacokan, penusukan, sampai pembakaran kendaraan bermotor menjadi satu hal yang (di)wajar(kan). Kekerasan mendapatkan legitimasinya.

Yang ironis ketika kekerasan ini melebar dan tidak hanya melibatkan kelompok suporter tetapi juga masyarakat. Sebagai ekses pertandingan PSS vs Persis misalnya, isu sweeping kendaraan plat AB di Solo dan plat AD di Jogja sempat berhembus kencang. Contoh lain yang memalukan misalnya ketika beberapa waktu lalu kelompok suporter PSIS bentrok dengan warga Grobogan. Warga bahkan sempat memblokade jalan yang menghubungkan Purwodadi – Semarang karena perilaku suporter yang menjarah dan meresahkan warga.

***

Menyimak siklus kekerasan suporter yang terus terjadi sebenarnya segendang sepenarian dengan kisruh dunia sepakbola Indonesia dari hulu ke hilir. Saya kira, tak ada solusi jangka pendek yang bisa diajukan selain menghanyutkan diri dalam kuil selebrasi selama 90 menit.

IMG-20130609-00565

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s