Arwah-Arwah Warisan Rezim

IMG_3164

Beberapa tahun setelah kemenangan rezim sosialis melalui jalan demokratis, kata “Jakarta” tertulis besar-besar di tembok jalanan kota. Alba membacanya, namun ia gagal memahami maksud kata yang ditulis pihak oposisi tersebut. Ia bertanya pada sekelompok pemuda di dekatnya. Nihil, tidak ada yang tahu.

Sibuk “jor-joran revolusioner” memenuhi tembok dengan mural-mural patriotik, anak-anak muda ini belum mendengar kabar bahwa di kota yang ditulis dengan cat merah tersebut, nyawa ribuan orang – yang dianggap – komunis begitu murah. Sebuah deja vu yang berulang di negeri mereka. Ribuan orang ditangkap, diculik, dan dihilangkan. Rezim militer memerintah dengan tangan besi.

Membaca The House of the Spirits karya Isabel Allende, entah kenapa benak saya langsung teringat senyum Soeharto yang setiap hari semakin berkembang dalam berbagai poster dan stiker di perempatan jalan. Sebagai generasi yang tumbuh dewasa pasca 1998, saya tentu tidak merasakan secara langsung teror negara Orde Baru yang dibalut dengan senyum tersebut. Ketika kecil bahkan saya pernah ikut-ikutan kampanye Golkar di pemilu 1999.

Seiring dengan akumulasi bacaan dan pengalaman, ingatan akan teror tersebut menjadi satu hal yang demikian nyata. Saya kira, pengalaman semacam ini juga dialami anak-anak muda seangkatan. Ingatan kolektif yang belakangan ini, pelan-pelan coba dilapukkan secara sistematis. Pada satu titik saya kerap membayangkan, senyum Soeharto di jalan-jalan ibarat operasi “Jakarta” yang pernah digunakan CIA dan kelompok kanan di Cile untuk membabat habis kaum nasionalis kiri.

Dalam novel yang judul aslinya La Casa de Los Espiritus (1982), Allende memang tidak sekalipun menyebut Cile. Namun dengan membuka sedikit literatur tentang abad politik di Amerika Latin pasca perang dunia, kita bisa segera tahu Allende sedang memberi satu kesaksian pergolakan berdarah yang terjadi di negaranya.

Pergolakan yang membelah negeri secara diametral. Sebagai pegangan sederhana, sempatkan membaca disertasi Arief Budiman yang malih rupa menjadi buku tipis berjudul Jalan Demokratis Ke Sosialisme : Pengalaman Cile di Bawah Allende.

Dalam novel ini, Alba merupakan mata rantai yang menggerakkan cerita sekaligus menghubungkan masa lalu dan masa depan keluarga besarnya. Alba adalah cucu kesayangan Esteban Trueba, tuan tanah yang memiliki ladang pertanian Tres Marias. Dari tempat yang gersang dan memprihatinkan, Trueba mengubahnya menjadi ladang yang produktif. Ia menjadi tuan tanah yang arogan, memimpin para petani dengan marah-marah. Pengalaman seksualnya telah membawa Trueba menggagahi hampir seluruh gadis di Tres Marias.

Bosan dengan kehidupan seksual, Trueba memutuskan menikahi Clara adik Rosa. Rosa adalah perempuan yang ia cintai namun meninggal karena keracunan. Ia memutuskan masuk ke gelanggang politik dengan menjadi senator yang gigih dari partai konservatif. Politikus yang sejak dini berteriak tentang bahaya Marxisme. Bahkan ketika tidak ada orang yang mempercayainya.

Dari situ, kisah novel bergerak melaju dari dinamika keluarga Trueba sampai pergolakan sosial politik yang semakin masif. Clara seorang cenayang. Ia bisa meramalkan berbagai kejadian yang akan terjadi di masa depan. Kerap ia menghabiskan waktu dengan berinteraksi dengan arwah-arwah yang ada di rumahnya. Satu kegiatan yang membuatnya mengalienasi diri dari lingkungan sosial.

Keduanya memiliki tiga orang anak, Blanca dan si kembar Jaime-Nicolas. Blanca, perempuan yang lembut meski punya sifat keras dan pemberontak seperti ayahnya. Sifat pemberontak yang membawanya menjalin hubungan gelap dengan Pedro Tercero Garcia, putra mandor di Treas Marias. Trueba membencinya karena menggerakkan ide-ide sosialisme kepada para petani di tempat tersebut.

Toh betapapun bencinya Trueba, hubungan Blanca dan Garcia telah melahirkan Alba, cucu yang sangat ia sayangi. Trueba ingin cucunya mewarisi Treas Marias. Karena itu sedari kecil ia mengajaknya ke daerah tersebut agar “belajar mengenal tiap-tiap batu dan hewan dan terutama tiap-tiap orang dengan nama depan dan belakang mereka.”

Kelokan tajam membawa Alba jauh bertolak belakang dari cita-citanya kakeknya. Ia begitu dipengaruhi ide-ide sosialis pamannya – Jaime – seorang dokter yang melayani orang-orang miskin. Pun ketika kuliah, Alba berpacaran dengan Miguel, aktivis kiri yang banyak terlibat dalam aksi pemogokan kaum buruh.

Ada satu adegan yang menarik ketika Alba ikut serta dalam pemogokan mahasiswa sebagai bentuk solidaritas terhadap buruh. Situasi sedang hiruk-pikuk, mirip perang, mahasiswa bersiaga menduduki gedung universitas, polisi mengepungnya. Tepat di saat itu Alba menstruasi dan merasakan kesakitan yang sungguh.

Kata temannya dengan sinis, “Hanya perempuan kaya yang merasakan kesakitan demikian, kaum proletar sudah terbiasa dengan kesakitan dan kesedihan.” Dan akhirnya Alba diserahkan ke polisi untuk kemudian diantarkan ke rumah. Sebagai politikus konservatif anti komunis, kakeknya masih dihormati. Alba menunjukkan beratnya melakukan bunuh diri kelas.

“Rumah besar di pojokan” yang dibangun Trueba, saya kira menjadi alegori Allende untuk menggambarkan kondisi Cile menjelang dan pasca berkuasa rezim Pinochet. Di dalamnya kita menyaksikan konservatisme Trueba yang pada akhirnya melahirkan junta militer. Kebenaran pahit yang harus diterima karena rezim yang Trueba topang nyaris sepanjang hidup pun membuatnya gagal melindungi orang yang ia sayangi. Di dalamnya juga muncul benih-benih Marxisme dalam sosok Alba.

Arwah-arwah korban para rezim yang bergentayangan di dalamnya. Keheranan karena betapa syahwat politik manusia bisa menjadi legitimasi ampuh untuk mendirikan rezim pemerintahan yang dibangun di atas ribuan nyawa rakyatnya.

Kita tidak hanya diajak memahami bagaimana realisme magis Allende memberikan lanskap ideologis yang terus-menerus berbenturan di Cile – Amerika Latin secara umum – namun juga bagaimana konsep karma berlaku. Simak absurditas yang hadir ketika Trueba memperkosa Pancha Garcia – seorang gadis perawan berusia 15 tahun – di atas daun ekaliptus, di tepi sungai Tres Marias.

Bandingkan puluhan tahun kemudian ketika Esteban Garcia – cucu Pancha Garcia  yang menjadi polisi atas rekomendasi Trueba – menelanjangi dan melecehkan Alba di penjara. Satu interogasi yang brutal untuk mengorek informasi tentang pacar Alba.

Allende menulis kisah ini untuk memulihkan jiwa, mengenang emosi dan pedih pengalaman yang ia, keluarga, dan negerinya alami. Ia menulis ini ketika eksil di Venezuela. Awalnya, ia menulis surat-surat untuk kakeknya yang hampir meninggal di Cile. Kakeknya dikaruniai umur panjang nyaris 100 tahun untuk menyaksikan episode-episode kehidupan di Cile.

Di tengah-tengah hegemoni junta militer, hanya ada sedikit kemungkinan untuk berhubungan dengan kakeknya. Karena itu ia menulis surat batin untuk “memberitahu kakeknya bahwa ia bisa pergi dengan damai sebab segala ingatannya bersemayam dalam diri Allende.”

Di Cile, arwah-arwah korban para rezim barangkali sudah bisa beristirahat dengan tenang. Pinochet, meski keluar masuk pengadilan, memang belum pernah ditangkap dan ia keburu meninggal. Namun para serdadu pengawalnya banyak yang diadili karena kejahatan kemanusiaan. Berbeda dengan jenderal idolanya, Soeharto, Pinochet tidak pernah diusulkan menerima gelar pahlawan nasional.

Dari ingatan akan realitas yang dibekukan ke dalam novel ini, Allende seperti memberikan peringatan bahwa arwah-arwah korban rezim di banyak negara belum bisa tenang. Barangkali di Indonesia, mereka masih akan lama bergentayangan.

s_SM040420114

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s