Menguak Isi Dapur Media

IMG_3133

  • Judul Buku    : Dapur Media : Antologi Liputan Media di Indonesia
  • Penulis             : Basil Triharyanto, Coen Pontoh, dkk
  • Penerbit          : Yayasan Pantau
  • Cetakan           : Maret 2013
  • Tebal                : 262 halaman

Senyum Soeharto mengembang seiring dengan krisis yang pelan-pelan semakin merusak kehidupan bangsa ini tahun-tahun belakangan. Senyumnya menempel di bak truk, dalam stiker yang dijual di perempatan, juga poster-poster yang hiruk pikuk di media sosial. Senyum satire yang menandai puncak kegalauan masyarakat ketika rezim reformasi tak bisa memenuhi janji dan harapan akan kesejahteraan.

Kalau ada warisan reformasi yang masih patut dibanggakan sampai saat ini, barangkali itu adalah kebebasan pers. Katup-katup informasi yang pernah tertutup rapat karena otoritarianisme berhasil dijebol. Pers menjadi salah satu aktor utama penggerak demokratisasi. Ruang bebas untuk menulis berita yang dimiliki pers membuat aktor-aktor politik dalam lembaga negara mesti berpikir ulang jika ingin menyelewengkan kekuasaannya. Benarkah?

Sebenarnya pesona warisan ini memudar pelan-pelan. Sebagaimana dicatat dalam buku Dapur Media : Antologi Liputan Media di Indonesia, kebebasan pers menampilkan sisi gelapnya. David T. Hill dalam pengantar mengatakan bahwa pers justru menjelma aktor yang tidak demokratis dalam dirinya sendiri. Kebebasan organisasi media, serikat pekerja jurnalis, serta individu di dalamnya terkekang oleh dominasi pemilik media. Komodifikasi informasi berjalan segendang sepenabuhan dengan kepentingan pemilik media.

Melalui sembilan liputan mendalam yang ditulis delapan penulis, pembaca diajak untuk melihat kondisi dapur media yang menampilkan wajah muram tersebut. Konon, dari dapur setiap pesta bermula. Di dalamnya terdapat tegangan-tegangan antara idealisme dengan komersialisme yang menjadi satu keniscayaan. Ada sembilan media yang diulas dalam buku ini dan merentang dari media cetak (Kompas, Tempo, Jawa Pos, Sriwijaya Pos, Bisnis Indonesia, Suara Timor Timur), media daring (Kaskus, Yahoo!), serta televisi (Metro TV).

Dari dapur media-media tersebut kita juga bisa melihat seperti apa sebuah informasi diracik, diolah, untuk kemudian dihidangkan kepada publik. Bumbu-bumbu kepentingan dalam setiap berita yang muncul adalah hal mendesak yang mesti kita ketahui. Ibarat sebuah makanan, tentu – idealnya – kita harus tahu apakah bahan-bahan yang diolah di dapur tersebut berbahaya bagi kesehatan kita atau tidak.

Tiga Sorotan

Ada tiga hal utama yang disorot dalam buku ini. : konglomerasi media, serikat pekerja media, dan migrasi ke dunia maya. Konglomerasi media merupakan isu sentral dalam diskursus media pasca reformasi 1998. Kepemilikan media terpusat di segelintir orang atau kelompok. Industrialisasi pers yang tumbuh berkembang sejak era Orde Baru merupakan pintu masuk untuk memahaminya.

Max Wangkar menulis tentang Jawa Pos. Dikelola Dahlan Iskan sejak 1982, koran yang hampir bangkrut ini menjelma salah satu pusat industri pers terpadu di Indonesia. Jawa Pos memiliki bisnis di bidang pers, percetakan, kertas, sampai tinta. Kunci keberhasilannya sebagai sebuah institusi bisnis, pers harus dikelola dengan efisien. Dalam pengelolaan, efisiensi tersebut kerap diterjemahkan dengan menentukan standar gaji wartawan yang sangat rendah (halaman 122).

Siapa mengira sebuah koran kecil ini kemudian mampu mendominasi kepemilikan media cetak di Indonesia? Ekspansi bisnisnya meluas ke berbagai daerah. Penelitian yang dilakukan Yanuar Nugroho (2012) menunjukkan bahwa Jawa Pos Group memiliki 12 stasiun televisi dan 142 media cetak. Konglomerasi semacam ini menyimpan bahaya. Ketiadaan diversity of ownership akan meniadakan diversity of content. Implikasinya dalam arus informasi, kepentingan publik terabaikan dan digantikan dengan agenda kepentingan pemilik media.

Isu konglomerasi berjalin-kelindan dengan minimnya keberadaan serikat pekerja di media. Basil Triharyanto dalam tulisannya mengangkat kasus Luviana eks wartawan Metro TV yang dipecat secara sepihak. Tulisan ini menjadi pintu masuk untuk melihat betapa kontrasnya jumlah perusahaan media dengan serikat pekerja media yang ada. Seperti dicatat Basil, dari sekitar 3000 perusahan media, hanya 34 di antaranya yang memiliki perusahaan media (halaman 249).

Kekangan terhadap serikat pekerja barangkali menjadi satu hal yang mencerminkan getirnya era kebebasan pers. Kita mafhum, selama ini media berada di garda terdepan dalam menyuarakan isu-isu seputar hak asasi manusia dan demokrasi. Ironisnya,  jurnalis-jurnalis yang menjadi tonggak terdepan pencarian berita justru berada dalam posisi lemah untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraannya. Para pemilik media seolah tutup mata.

Selain konglomerasi dan serikat pekerja, sorotan berikutnya dalam buku ini adalah migrasi media ke dunia maya. Migrasi sebagai konsekuensi perkembangan teknologi komunikasi yang semakin masif ini bukan tanpa masalah. Kecepatan informasi membuat akurasi berita kerap menjadi (di)nomordua(kan). Belum lagi jika memperhatikan praktik jurnalistik yang pelan-pelan mengalami pergeseran kultur. Berita minus akurasi ini beberapa kali menimpa Yahoo!.

Komarudin menulis bahwa untuk merevisi berita yang sudah terlanjur diunggah membutuhkan waktu. Kesalahan memang bisa diperbaiki oleh penyedia berita namun tidak segera bisa ditampilkan di Yahoo! (halaman 228). Kesalahan kadang bisa berakibat fatal mengingat daya jangkaunya yang begitu luas. Apalagi, bekerjasama dengan penyedia konten berita lokal, Yahoo! menyediakan berita-berita ringan yang menyasar anak-anak muda digital natives.

Lanskap Media

Dengan mengajak pembaca berkunjung ke dapur media, buku ini memberi bekal yang cukup untuk mencandra perubahan lanskap ekonomi politik media setelah kejatuhan Orde Baru. Periode ini adalah episode-episode yang cukup menggelisahkan. Ashadi Siregar menyebutnya sebagai era di mana pers lepas dari cengkeraman kooptasi menuju era komodifikasi.

Buku ini juga menggambarkan bagaimana bopeng-bopeng dalam dapur membuat makanan (baca : informasi) yang diolah banyak yang tidak bergizi. Ia menjadi semacam peringatan agar publik tidak memakan berita secara mentah-mentah. Berita yang tidak sehat dan bisa menyebabkan gembrot informasi.

Satu hal yang cukup menganggu, enam dari sembilan tulisan ini berupa liputan lama yang pernah dimuat di Majalah Pantau dalam rentang tahun 2001-2002. Tanpa memperbarui data-data, tulisan tersebut berpotensi menjadi cepat basi. Dinamika yang terjadi di dunia media satu dekade belakangan berjalan cukup kencang. Turbulensi bahkan mengubah budaya kekeluargaan  menjadi bersifat seperti perusahaan.

Meski demikian hal itu juga bisa dibaca bahwa tulisan-tulisan lawasan tersebut menjadi penanda bonanza kebebasan pers tepat di awal reformasi. Catatannya, butuh liputan-liputan lanjutan yang tidak hanya menampilkan isi dapur, tetapi juga melihat orang-orang yang tinggal di dalam “rumah”. Dengan demikian ia bisa menjadi laku otokritik bagi kebebasan pers yang kebablasan. Tentu kita tidak berharap senyum Soeharto berkembang semakin lebar.

Iklan

Satu pemikiran pada “Menguak Isi Dapur Media

  1. Maaf ijin bertanya, jika saya ingin mendapatkan buku ini bagaimana cara nya? untuk membatu referensi skripsi saya mengenai kasus-kasus kepemilikan media. mohon informasinya. terimakasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s