Pada Mulanya adalah Pemakaman Praha

IMG_3125

Dunia tidak lebih dari sekadar main-main dan senda gurau belaka.

Dua hari ini kuhabiskan dengan menuntaskan novel terbaru Umberto Eco, The Prague Cemetery. Perjumpaan dengan novel ini tak disengaja. Seperti biasa, setelah kelelahan menulis di depan laptop, toko buku menjadi pilihan untuk menghibur diri. Desain sampul buku dengan beragam warna kadang menyilaukan, tapi lebih sering menyegarkan.

Apalagi kalau ada buku baru. Beli urusan nanti. Yang penting baca dulu. Dengan warna sampul yang muram, kehadiran novel ini tidak begitu mencolok. Melihat sekilas, aku ambil dan putuskan untuk membeli. Aku ingat pernah membaca judul novel ini dalam liputan Pameran Buku Frankfurt 2011 di Majalah Tempo. Dalam bahasa Italia, judulnya Il Cimitero di Praga.

Kata Eco, ia butuh setidaknya 5 tahun melakukan riset untuk novel tersebut. Itupun hanya untuk menelusuri referensi-referensi utama seputar pertengahan abad 19 di Eropa. Aku selalu kagum dengan orang yang berumah dalam kerumunan buku-buku. Kubayangkan, novel ini akan serumit-tapi-mengasyikkan seperti the Name of the Rose atau Foucault Pendulum yang sudah kubaca.

Siapakah aku? (halaman 7). Eco memulai novel ini dengan satu pertanyaan eksistensial.  Dengan lapis demi lapis alinea setelah pertanyaan tersebut, toh itu tak membuatku mudah mencerna maksud Eco yang sedang mengenalkan latar belakang tokohnya. Aku lebih dulu mengajukan pertanyaan serupa ke dalam benakku sendiri. Tentang aku.

Aku yang menjadi aku hari ini. Mengapa aku tidak lagi menjadi aku yang kemarin? Aku teringat Wahib. Apa yang ia maksud dengan absolute entity? Apa yang ia maksud dengan aku adalah semuanya? Bukankah menjadi semua sama dengan tidak menjadi semua? Pertanyaan datang tak habis-habis. Namun Eco memang sedang tidak menuju ke arah pencarian kesadaran eksistensial yang semacam itu.

Pertanyaan ini sedang diajukan Simone Simonini, sang tokoh utama. Seorang anggota dinas rahasia, pembenci Yahudi, dan mengidap kepribadian ganda. Ia menceritakan persinggungannya dengan berbagai peristiwa sejarah yang terjadi di Eropa. Ia menulis catatan harian yang membingungkan tentang pengalaman persinggungan tersebut.

Catatan harian yang sekali waktu ia tulis, dan di waktu yang lain ditulis alter egonya. Simonini kebingungan, apakah alter egonya adalah orang yang sama dengan dirinya? Sama-sama menulis catatan harian dan bertukar pesan? Atau sosok Dalla Piccola memang orang yang sama sekali berbeda?

Lebih baik menanyaiku tentang hasratku daripada apa yang telah kulakukan selama hidupku(halaman 7). Simonini membenci Yahudi sampai mengurat akar. Kebencian yang berasal dari kakeknya – seorang ci devant, seorang yang mengingat rezim monarki Prancis dengan romantik. Karena itu ia begitu muak dengan revolusi yang membawa kesetaraan dan kebebasan dengan pertumpahan darah. Katanya, revolusi adalah konspirasi besar para Kesatria Templar. Ia mengenang Robespierre sebagai seorang gergasi.

Konspirasi. Entah mengapa kata ini menjelma mantra yang terus diulang-ulang banyak orang. Di Indonesia, adalah sangat mudah untuk menyebut satu kejadian sebagai konspirasi besar Yahudi. Apalagi kalau ia menyangkut persoalan agama. Sekularisme, pluralisme, kapitalisme, bahkan komunisme, pasti akan selalu mendapat label bagian dari konspirasi. Seolah ada satu pemikiran murni, yang imun dari berbagai persilangan kebudayaan.

Atau sesekali kau bisa menyebut konspirasi asing. Ucapkan saja kata itu ketika sedang berdiskusi dan kau tidak perlu membangun argumen susulan untuk mendukungnya. Tentu, sebuah konspirasi tidak butuh argumen, ia hanya butuh keyakinan. Argumen-argumen runtuh dengan sendirinya. Konspirasi adalah bahan bakar yang ideal untuk membangun militansi.

Tumbuh besar dengan penempaan berbagai teori konspirasi di sekitarnya, Simonini bekerja di dinas rahasia pemerintahan. Ia turut hadir dalam episode penyatuan Italia yang melibatkan kaum republikan dan konservatif. Ia mulai merekayasa kasus agar anak-anak muda Carbonari republikan tidak bertindak tolol dengan terburu-buru melakukan revolusi “seenak sendiri”. Ketergesaan yang beberapa kali membunuh kelompok mereka sendiri.

Anak muda adalah api setiap generasi. Masalahnya, kadang keberanian itu hanya menjadi api yang membakar lilin. Cepat habis. Tidak sabar. Dan kemudian lenyap. Kukira, aku punya banyak teman semacam ini, barangkali aku sendiripun demikian. Sahabat yang sungguh mengilhami ketika masih menjadi mahasiswa. Pukulan polisi, bahkan tentara, menjadi warna-warni idealisme. Sayang, belum purna tugasnya menjadi agen perubahan, jiwanya keburu terserap lumpur. Hidup, tetapi mati.

Di Prancis,  Simonini bekerja untuk dinas intelijen kekaisaran Prancis. Salah satu tugasnya, mencari informasi siapa orang istana yang berada di balik Maurice Joly. Nama ini di tahun 1894 menerbitkan buku The Dialogue in Hell Between Machiavelli and Montesquieu. Isinya, sebuah dialog satire yang menyerang monarki Prancis di bawah kekuasaan Napoleon III.

Belakangan, buku ini kerap disebut-sebut sebagai “bahan utama” pembuatan the Protocols of the Elders of Zion. Komune Paris menyisakan pengalaman batin yang mendalam bagi Simonini sang mata-mata. Harus ada pertumpahan darah habis-habisan agar segalanya kembali normal (halaman 362). Pengalaman semacam itu toh tak mengubah pikiran Simonini bahwa Yahudi adalah pusat dari berbagai kerusakan dunia.

Dan karena itu mereka harus dihilangkan. Lantas ia mulai mendesain sebuah cerita, sebuah narasi untuk menuntaskan “kewajiban yang nyata”. Ia menulis sebuah dokumen, Protokol Pemakaman Praha. Dalam benak Simonini, dari pemakaman inilah rencana besar Yahudi untuk menguasai dunia bermula.

Di pemakaman ini Rosche-Bathe-Abboth – para pemimpin dua belas suku Israel – berjumpa setiap 100 tahun sekali. Seluruh dunia harus jadi milik kita. Anak Sapi Emas itu telah menjadi milik kita sejak zaman Harun (halaman 288). Karena itu rencana menguasai dunia harus dilakukan dan dilaporkan dengan detail. Ekonomi dunia harus dikuasai, kesadaran orang-orang mesti dimanipulasi.

Para penggemar teori konspirasi, tentu tak akan kaget dengan dokumen ini. Literatur awal tentang teori konspirasi. Apa yang membuat novel Eco ini menjadi menarik, hampir semua tokoh dan latar belakang dalam novel ini adalah sebuah fakta sejarah. Eco menghabiskan 5 tahun untuk menelusuri berbagai literatur tentang ini. Hanya tokoh Simonini yang fiktif. Dan karena itu ia menjadi kolase.

Simonini menjadi penghubung krisis politik di berbagai negara di Eropa. Apakah protokol tentang rencana Yahudi itu palsu? Banyak yang sudah berusaha membuktikan bahwa dokumen tersebut tidak lebih dari sekadar hoax terbesar dalam sejarah manusia. Namun, bagaimana menjelaskan hoax yang pernah melegitimasi Hitler untuk melakukan genosida terhadap orang-orang Yahudi? Atau, mengapa hoax itu bisa bersemayam kuat bahkan mengendap di benak sebagian kelompok Islam Indonesia hingga kini?

Nada anti-semit pekat terasa sepanjang novel ini. Tapi tentu saja kita bisa menafsirkan bahwa Eco sedang menunjukkan hal yang sebaliknya. Eco sedang membuat sebuah teori konspirasi atas konspirasi. Mempercayai sebuah konspirasi tentu sah-sah saja. Tapi menjadikannya sebagai satu-satunya penjelasan atas berbagai nasib baik atau buruk yang kita alami, barangkali menjadi penanda kelumpuhan nalar. Seperti kata Einstein, Tuhan toh tidak sedang bermain dadu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s