Perempuan di Balik Majapahit

Sampul Buku Gayatri

  • Judul Buku    : Gayatri Rajapatni : Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit
  • Penulis           : Earl Drake
  • Penerbit          : Penerbit Ombak, Yogyakarta
  • Terbitan          : Februari 2012
  • Tebal               : xx + 192 halaman

 Siapa mengira di balik imperium yang menggelegar itu terdapat perempuan yang menjadi faktor determinan dalam kesuksesannya?

Sosoknya selalu hadir dalam episode-episode menentukan Majapahit. Ia menjadi saksi ketika kerajaan itu baru berdiri dan belum stabil. Ia juga berada di lingkaran utama kekuasaan ketika Majapahit sedang berada dalam masa jayanya. Namanya Gayatri Rajapatni. Earl Drake, penulis buku ini, berhasil menemukan bukti otentik peran Gayatri tersebut dengan menelusuri sumber sejarah primer Majapahit, kitab Negarakertagama.

Drake dengan jitu mengutip bab 48 kitab karya Mpu Prapanca yang menulis: “Sudah menjadi kehendak Rajapatni yang agung bahwa mereka harus menjadi pemimpin besar dunia yang tiada tandingan. Putri, menantu, dan cucunya menjadi raja dan ratu. Dialah yang menjadikan mereka penguasa dan mengawasi tindak-tanduk mereka.”

Melalui buku ini, Drake menggambarkan dengan detail bagaimana peran Gayatri memapah dan membesarkan Majapahit dari mulai kelahiran sampai kejayaannya. Sosoknya begitu besar, namun namanya disembunyikan dan dipinggirkan teks-teks sejarah mainstream. Namanya ditimbun prestasi-prestasi Hayam Wuruk maupun Gadjah Mada. Karena itu, buku ini bisa menjadi pintu masuk untuk melihat keagungan Majapahit dari sudut pandang yang berbeda.

Mata Rantai

Gayatri menjadi mata rantai yang menghubungkan antara kejayaan Singosari dengan Majapahit. Ia adalah anak Kertanegara, raja Singosari terakhir yang mati karena serangan kerajaan Kediri; suami Raden Wijaya, pendiri Majapahit; Ibu dari Tribhuwana, raja ketiga yang menggantikan Jayanegara; dan nenek Hayam Wuruk, raja yang memimpin Majapahit dalam periode paling gemilang dari kerajaan tersebut.

Sebagai mata rantai yang menghubungkan lintas generasi tersebut, ia memiliki karakter yang bijaksana, berani, dan setia. Misalnya saja ketika ia menolak menjadi ratu ketika Jayanegara meninggal. Majapahit adalah kerajaan yang dibangun di atas reruntuhan kejayaan Singosari dan Kediri. Karena itu jika ia menjadi ratu, dikhawatirkan akan ada resistensi dari rakyat Kediri.

Gayatri lebih memilih menjaga perdamaian dan melakukan rekonsiliasi untuk memulihkan luka masa lalu. Akhirnya ia menyerahkan tahta kepada Tribhuwana, anak pertamanya (halaman 105). Sosok Tribhuwana menjadi pilihan tengah karena dirinya tidak terjebak pusaran konflik dan anak pertama Raden Wijaya yang dihormati semua pihak.

Karakter kuat itu yang membuat Gayatri disegani banyak pihak. Ia bahkan dihormati dan menjadi guru bagi mahapatih yang agung itu, Gadjah Mada. Konon ide untuk mempersatukan nusantara adalah bisikan dari Gayatri. Ide ini berawal dari keinginan ayahnya, Kertanegara, yang tak pernah tertuntaskan karena kandas oleh serangan Kediri.

Gayatri memimpikan bahwa negeri-negeri di nusantara akan bersatu dalam sebuah federasi yang dilandasi jalinan kebudayaan, bahasa, agama, serta peluang mencapai kemajuan ekonomi dan politik bersama. Persatuan ini tidak akan langgeng jika menggunakan metode penaklukan dengan kekerasan. Sebab, kekerasan hanya akan menjadi bara dalam sekam di mana sewaktu-waktu bisa muncul pemberontakan karena ketidakpuasan terhadap Majapahit.

Karena itu ia mengusulkan kepada Gadjah Mada untuk menggunakan doktrin Majapahit Raya (halaman 114). Doktrin ini adalah pandangan bahwa Majapahit tidak bermaksud menaklukan negeri-negeri tetangga. Majapahit justru mengundang negeri tetangga untuk bergabung dalam keramahan khas Jawa untuk saling menjaga. Angkatan laut diperluas dalam rangka menghindari musuh-musuh jauh. Urusan perdagangan dimudahkan untuk kepentingan ekonomi negeri yang saling bertetangga.

Sang mahapatih yang sebelumnya begitu bertekad untuk memulai penaklukan menuruti saran ini. Gayatri berhasil menekan agresivitas Gadjah Mada yang membabi buta. Karena itu dalam sumpah amukti palapa yang terkenal, ia tidak menggunakan istilah menaklukan, tetapi mempersatukan nusantara.

Kebijaksanaan dan kearifan Gayatri tersebut menjadi contoh bagaimana pentingnya peran perempuan dalam eksistensi sebuah bangsa. Ia menjadi tokoh di belakang layar kegemilangan Majapahit. Karena itu, Gayatri seharusnya menempati posisi yang terhormat dalam penulisan sejarah. Buku ini menjadi pembuka untuk memulai ikhtiar tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s