Anak Muda dan Oligarki Politik

Prahara yang melanda partai politik akhir-akhir ini membawa dunia politik kita pada postcriptum yang menggelisahkan. Rangkaian dugaan korupsi menunjukkan bahwa anak-anak muda menjadi aktor utama. Kaum muda justru sedang menjalani peran antagonis dalam ikhtiar pemberantasan korupsi di tanah air. Sementara konflik internal parpol juga menunjukkan bagaimana anak-anak muda telah terjebak pada kontestasi politik minus etika.

Menjelang regenerasi kepemimpinan nasional di 2014, kondisi seperti ini tentu memprihatinkan. Melihat wajah anak-anak muda adalah melihat wajah masa depan republik. Lantas, dengan wajah yang bopeng-bopeng saat ini, wajah masa depan Indonesia seperti apa yang akan muncul?

Dunia politik di Indonesia saat ini sebenarnya sudah banyak diisi oleh anak-anak muda idealis yang dibesarkan oleh zamannya. Bahkan banyak di antara mereka yang merupakan aktivis yang pernah dipenjara oleh rezim Orde Baru. Keinginan untuk mewujudkan demokrasi partisipatoris membuat mereka berani berhadap-hadapan dengan penguasa. Artinya integritas mereka ketika masuk ke institusi-institusi demokrasi seperti partai politik dan birokrasi tidak perlu dipertanyakan lagi.

Sayangnya, gagasan untuk “mengubah dari dalam sistem” menjadi kontraproduktif karena terganjal oleh nalar oligarkis yang masih bertahan. Nalar oligarkis ini menjadi satu faktor penting yang membuat anak-anak muda aktivis ini mengalami “penuaan dini”. Sebagai catatan, oligarki bukan merupakan satu kelompok tunggal yang memiliki kekuasaan. Oligarki merupakan persekutuan berbagai kelompok kepentingan dari politik, bisnis, sampai birokrasi.

Oligark yang memiliki kecendurungan koruptif akan saling menjaga agar perburuan rente dan pemenangan politik bisa diamankan. Seperti disebutkan Vedi Hadiz dan Richard Robison dalam Reorganizing Power in Indonesia : the Politics of Oligarchy in an Age of Markets (2004), persekutuan yang dibesarkan Orde Baru ini merentang dari elit partai politik di pusat kekuasaan di Jakarta sampai di daerah.  Persekutuan ini menjadi patron yang menjerat anak-anak muda yang masuk ke gelanggang politik.

Konsekuensinya, mereka akan sulit untuk segera naik ke dalam hierarki tertinggi partai karena dihambat oleh para oligark. Atau, ketika ia mampu melakukan akselerasi ke atas dengan cepat, bisa dipastikan ditopang (baca : terbelenggu) oleh jaring-jaring oligarki di belakangnya. Jaring-jaring ini menyebabkan anak-anak muda aktivis ini kemudian hanya menjadi mesin pengeruk suara partai dalam kontestasi politik eletoral. Gagasan-gagasan ideal tentang etika politik mengabur berganti dengan watak koruptif.

Untuk meruntuhkan oligarki memang bukan merupakan perkara yang sederhana. Apalagi habitus ini sudah bertahan cukup lama. Meskipun demikian, tembok tebal ini mesti diruntuhkan jika panggung politik ingin diisi oleh visi progresif, bukan sekadar drama yang menguras air mata. Benturan idealisme ala para ksatria, bukan adu kelicikan khas Sengkuni. Anak-anak muda mesti menjaga dirinya agar bisa lepas dari jeratan oligarki. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengubah pola perekrutan kader muda partai politik.

Rekrutmen partai selama ini banyak yang mengabaikan asas meritokrasi. Politik dinasti telah membuat partai sekadar menjadi ajang reuni keluarga. Kerap kita temui anak-anak muda yang duduk di posisi penting di partai hanya karena ia memiliki trah pemimpin partai. Akhirnya yang muncul kemudian adalah parpol dengan wajah baru namun ide dan gagasan lawas. Pada titik ini, dengan menggunakan prinsip meritokrasi, partai politik bisa menyaring anak-anak muda yang memiliki kualitas, integritas, dan kesegaran ide.

Selain mengubah rekrutmen di partai politik, anak-anak muda juga mesti membangun basis massa yang mengakar di masyarakat. Satu hal yang hampir-hampir diabaikan.Pengabaian ini misalnya bisa kita lihat dalam berbagai konflik elit politik yang nyaris tidak berhubungan dengan masyarakat. Personalisasi yang membuat dunia politik menjadi panggung teater dengan masyarakat sebagai penontonnya.

Yang perlu digaris bawahi, bangunan basis massa di kalangan akar rumput tidak hanya mendukung seorang tokoh an sich dengan buta. Lebih dari itu juga memahami dan mengimplementasikan ide maupun gagasannya. Basis massa yang kuat ini memiliki fungsi untuk “memastikan” dan “mengingatkan” agar kaum muda yang saat ini berada dalam sistem tidak terperosok ke dalam jebakan oligarki. Dengan demikian, imajinasi politik masa depan Indonesia yang baik tetap terjaga. Semoga.

(Dimuat di Kedaulatan Rakyat 4 Maret 2013)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s