Narasi tentang Orang-Orang Biasa

sampul muka jangan tulis kami teroris

  • Judul Buku    : Jangan Tulis Kami Teroris
  • Penulis            : Linda Christanty
  • Penerbit          : Kepustakaan Populer Gramedia
  • Tebal               : x + 147 halaman
  • Cetakan          : Mei 2011

Inilah paradoks masyarakat modern: hiruk pikuk dengan kebebasan berekspresi tetapi penuh dengan persoalan kemanusiaan. Kemajuan peradaban membawa manusia merasakan berbagai kesejahteraan dan kenikmatan. Berbagai pendapat dan gagasan memiliki ruang. Namun pada saat yang sama, gerak peradaban membawa ketidakadilan yang datang mengatasnamakan apa saja. Atas nama mayoritas, sekelompok orang menindas mereka yang dianggap berbeda keyakinan. Atas nama nasionalisme, banyak orang membunuh mereka yang mengganggu pembangunan nasional.

Kebebasan berekspresi diterjemahkan sebagai kebebasan untuk menggunakan kekerasan. Padahal, kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Mereka yang tertindas akan menyatukan diri untuk melawan penindasnya. Kekuasaan menjadi sesuatu yang diperebutkan dengan darah dan nyawa. Lantas seperti sudah menjadi keniscayaan, orang-orang biasa akan selalu menjadi korban dari konflik kepentingan yang tak habis-habis.

Pesan inilah yang kira-kira ingin disampaikan oleh Linda Christanty dalam buku terbarunya Jangan Tulis Kami Teroris. Hampir sama seperti buku pertamanya Dari Jawa Menuju Atjeh, Linda menuliskan pengalamannya bergelut dengan orang-orang biasa yang dipinggirkan oleh kekuasaan. Titik jedanya, kali ini ia menulis mengenai persoalan-persoalan kemanusiaan di Aceh dan merentang ke utara menuju Malaysia, Thailand, dan juga Kamboja.

Pengalaman-pengalaman Linda di berbagai negara Asia Tenggara tersebut semakin membuka matanya bahwa masyarakat modern sedang menghadapi problem eksistensial akut. Problem yang membuatnya menyingkirkan mereka “yang lain”. Di tanah kelahirannya, Aceh, orang melawan kolonialisme Indonesia (Jawa?) selama puluhan tahun. Perlawanan yang sebenarnya bahkan belum berakhir meski perjanjian damai sudah ditandatangani di Helsinki pada tahun 2005 yang lalu.

Perjanjian damai ternyata justru melahirkan raja-raja kecil yang menindas warga yang sudah mengorbankan banyak hal termasuk nyawa. Pemberlakuan syariat Islam yang lama diperjuangkan ternyata justru menjadi persoalan baru. Kalangan muslim pecah menjadi dua aliran: fundamentalisme dan revivalisme. Syariat Islam yang dulu dianggap dapat menjadi solusi atas persoalan di Aceh nampak jelas  digambarkan dalam pepatah jauh panggang daripada api. Ironis.

Di Malaysia, pemerintah memberlakukan kebijakan New Economic Policy pasca kerusuhan antaretnis yang melanda negeri itu pada tahun 1969. Kebijakan ini merupakan bentuk proteksi terhadap ras Melayu yang kepentingan ekonomi politiknya terancam oleh ras non-Melayu. Dengan kebijakan ini, ras Melayu mendapatkan previllege di berbagai bidang kehidupan. Contoh kecil, Bumiputera (sebutan untuk ras Melayu) mendapatkan diskon lima persen saat membeli rumah tetapi ras China dan India tidak dapat (halaman 127).

Sementara itu di Kamboja, rezim Khmer Merah bahkan menyingkirkan mereka yang bersebarangan pandangan. Masyarakat perkotaan dipindah ke desa-desa untuk membangun negeri yang agraris (halaman 140). Kaum intelektual oposisi dan mereka yang dianggap mata-mata Amerika, dibunuh. Khmer Merah bahkan menandai tahun 1975 (tahun awal ketika mereka berkuasa) sebagai “tahun nol” negara Kamboja. Sejarah Kamboja dimulai ketika rezim komunis ini berkuasa.

Parahnya, berbagai ketidakadilan dan kesewenang-wenangan seperti di atas tidak juga menemui titik akhirnya. Rezim boleh berganti rezim, tapi persoalan demi persoalan terus terjadi. Tidak terhitung lagi pergolakan politik di Asia Tenggara yang berawal dari perbedaan etnisitas. Janji-janji demokrasi yang selalu dikampanyekan oleh Amerika Serikat pun hanya menjadi sekadar ilusi. Ilusi demokrasi. Demokrasi hanya milik elite kekuasaan yang bisa memaksakan kehendaknya sendiri. Dan rakyat tetap berada dalam penindasan yang membelenggu.

Buku ini terdiri dari 14 tulisan yang berasal dari tulisan Linda di kantor berita Aceh Feature yang ia dirikan, web pribadi, serta catatan di akun Facebooknya. Tidak semua berupa laporan jurnalistik. Tulisan seperti Saya dan Islam dan Bahaya Neofasisme lebih tepat disebut sebagai esai. Sekalipun demikian, buku ini menunjukkan bahwa kepiawaian Linda dalam menulis dengan gaya jurnalisme sastrawi masih cukup mumpuni.

Kepandaian mengatur detail serta membangun karakter membuat tulisannya menjadi lebih “hidup”. Tidak hanya itu, gaya bertutur yang asyik membuat kita mau berlama-lama untuk membacanya. Tanpa harus menggunakan diksi yang berlebihan, Linda mampu membuat orang-orang biasa yang ia tulis “menyuarakan” diskriminasi yang mereka alami sehari-hari. Buku ini adalah narasi tentang orang-orang biasa.

Kepiawaian Linda inilah yang membuat tulisannya sekaligus menjadi cermin dan memaksa kita untuk berefleksi. Jangan-jangan, berbagai tragedi yang muncul setiap hari menjadi penanda bahwa sifat kemanusiaan kita sudah mati. Diganti dengan hasrat untuk menguasai dan menindas orang lain. Benarkah?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s