Membaca Burung-Burung Cakrawala

burung-burung-cakrawala

Air hujan yang tiba-tiba membasahi langit Jogja membuatku terpaksa bertahan lebih lama di Toga Mas. Sore terakhir Januari itu rencanaku di sana sebenarnya sebentar saja. Hanya membaca Majalah Tempo lantas pulang. Tidak ada rencana untuk membeli buku karena kantong sedang kering. Kelelahan setelah menyunting bakal buku dari skripsi juga membuatku malas untuk berlama-lama di toko buku seperti biasa. Sayangnya hujan membatalkan rencana itu.

Sembari menunggu hujan reda, aku blusukan di meja bagian sastra. Kebetulan posisinya ada di bagian paling depan pintu masuk yang diperuntukkan untuk koleksi buku-buku baru. Sayangnya tidak banyak buku baru dan menarik yang bisa kutemukan. Meja itu masih dikuasai buku-buku kumpulan twit dan curhatan menye dari orang-orang yang habis putus cinta.

Beruntung, mataku menangkap buku dengan halaman sampul berwarna oranye dengan gambar enam burung yang sedang terbang di atas cakrawala. Judulnya : Burung-Burung Cakrawala. Ketika membaca nama penulisnya adalah Mochtar Pabottingi, aku segera ingat dengan laman Facebook. Di jejaring sosial tersebut, Mochtar beberapa kali menulis status dan membagi gambar sampul bukunya yang akan terbit.

Didorong rasa penasaran, aku ambil buku, meminta penjaga toko membuka bungkus plastiknya, lantas duduk manis di bangku tempat membaca. Pengunjung yang tidak terlalu ramai dan gemercik air kolam membangun suasana yang nyaman untuk memulai petualangan imajinatif.

*

Burung-Burung Cakrawala adalah novel otobiografis yang menarasikan perjalanan hidup peneliti senior di LIPI ini mulai kesederhanaan masa kecil di Bulukumba sampai pengembaraan intelektual di Honolulu. Satu perjalanan panjang yang merupakan rajutan cerita masa kecil, halaman demi halaman buku, dan rentetan pengalaman yang jalin-menjalin memperluas cakrawala. Perjalanan yang kerap menemui tikungan-tikungan tajam dan tebing curam namun sarat dengan pelajaran berharga. Bukankah inti dari setiap perjalanan adalah sebuah penemuan?

Bagi yang sudah membaca tulisan Mochtar berjudul Dari Rumah Karakter, Dari Buku Cakrawala yang dimuat di buku Bukuku Kakiku (2004) barangkali tidak akan terlalu kaget dengan kisah yang dinarasikan dalam novel ini. Bisa jadi, novel ini adalah “versi panjang” dari tulisan tersebut. Sebagai “versi panjang”, tentu ia jauh lebih kaya detail dalam tiap-tiap penggal episode kehidupan yang dilalui oleh Mochtar beserta keluarganya. Kita diajak untuk menghanyutkan diri dalam pergulatan batin yang dirasakan Mochtar dari masa ke masa.

Membaca novel ini, saya menangkap nada romantik yang begitu kuat. Mochtar misalnya, mengatakan bahwa sentuhan keteduhan desa tempat lahirnya berperan besar dalam kuatnya ingatan tentang buku yang ia baca ketika kecil. Kalimat-kalimat seperti “Si Minah sakit selesma” dan “angin sepoi-sepoi basa” seperti tak lapuk dimakan waktu.  “Kalimat-kalimat pertama yang tertanam dalam benak bersama ayat-ayat pendek Al Qura’an dari rangkaian Surah Makkiah,” tulisnya. Perpindahan tempat tinggal selalu menandai loncatan-loncatan cakrawalanya.

Bertolak dari buku teks pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Rakyat berjudul Bahasaku, kembang api cakrawala meledak dan berpendar mengisi lorong-lorong batin Mochtar di Makassar. Di kota ini, pendaran cakrawala tersebut hadir melalui bacaan-bacaan seperti Arjuna Wiwaha, Mahabarata, Hikayat Hang Tuah, sampai Abu Nawas. Di kota ini pula ketika menjadi mahasiswa di Universitas Hasanudin, ia merasakan pathos dan agon yang masif dalam huru-hara politik 1965. Satu “jor-joran revolusioner” yang beroperasi membelah republik.

Sementara perpindahan berikutnya adalah ke Yogyakarta. Dengan beasiswa Caltex, Mochtar melanjutkan kuliah di Jurusan Sasatra Inggris Fakultas Sastra UGM. Satu fase baru menuju the uncharted frontiers. Di kota ini, mesti aku akui – barangkali sambil merasa iri – Mochtar berada di masa yang sama ketika tokoh-tokoh seperti Presiden Malioboro Umbu Landu Paranggi, Pater Dick, WS Rendra, Kuntowidjojo, sampai Sartono Kartodirdjo tengah berada dalam puncak-puncak kreativitas dan produktivitasnya.

Pelajaran langsung dari ilmuwan, seniman, budayawan, termasuk agamawan membuat cakrawala Mochtar mengalami peningkatan kualitas  dan semakin berpendar seperti kembang api di setiap malam tahun baru.  Modal berharga yang memberinya kerangka kokoh untuk menghadapi fase-fase selanjutnya di Jakarta, Massachusetts, dan Honolulu. Tak mengherankan jika semangatnya tetap menggebu meski usianya sudah 35 tahun dengan tiga anak saat mulai melanjutkan kuliah di Amerika tahun 1980. Terpaut 5-10 tahun dari rekan-rekan seangkatannya.

Di Amerika, ia menghabiskan banyak waktu dengan buku-buku di perpustakaan. Tak ada hal menarik dari laku tersebut. Sebuah kewajaran bagi seorang intelektual yang dituntut untuk mengarungi jalur sunyi. Namun apa yang bagiku menarik bagiku adalah kejujuran Mochtar dalam menulis dirinya sendiri ketika berada di Amerika. Salah satu berkaitan dengan kegalauan batinnya pasca kelulusan.

Ia bimbang akan memilih melanjutkan kehidupan di Amerika atau kembali pulang ke Indonesia tepat ketika otoritarianisme sedang keras-kerasnya. Dilema seorang intelektual yang dipecahkan seorang Mochtar dengan “kesadaran seorang pribadi yang tak pernah lepas dari akar,  yang setiap saat pulang dan karena itu tidak pernah merasa atau menjadi Malin Kundang.

Namun kejujuran yang mesti diapresiasi terutama dalam pasang-surut relasi dengan istrinya. Ia pernah “tergelincir” dan meninggalkan luka pada diri Nahdia, istrinya.Bagian tersebut menjadi salah satu titik-titik ketegangan dalam novel ini. Mochtar tak malu-malu menulisnya. Ia mengakui pernah menyaksikan penari strip-tease bersama rekan-rekannya. Meskipun ia lebih sibuk memberikan tafsiran makna atas mata sendu sang penari.

Kejujuran yang menunjukkan bahwa studi di luar negeri tidak melulu berkaitan dengan laku kontemplasi untuk mencandra fenomena kebudayaan, tetapi juga ikhtiar merawat relasi dengan pasangan. Di apartemen yang kecil, Mochtar sering menghabiskan waktu selama berjam-jam di toilet untuk membaca buku karena tidak mau mengganggu tidur istri dan anak-anaknya dengan lampu yang menyilaukan.

Membaca bagaimana perjuangan Nahdia membawa tiga anaknya yang masih kecil ke Boston untuk menyusul Mochtar adalah kisah yang mengharukan. Berpindah-pindah pesawat selama kurang lebih 30 jam , hampir pingsan di bandara dan sempat minum susu dari botol anaknya yang paling kecil tentu menunjukkan pengorbanan seorang ibu yang luar biasa agar “anak-anak bisa dekat dengan ayahnya.”

Tidak mudah membaca novel ini. Meski ditulis dengan bahasa yang mengalir, kita mesti pelan-pelan memahami tulisan-tulisan Mochtar. Sebabnya, selain berkisah tentang kehidupannya sejak kecil, Mochtar juga menuliskan pandangan-pandangan tentang berbagai fenomena. Tak terkecuali dengan kesepakatan atau ketidaksetujuan pendapatnya mengenai pemikiran banyak ilmuwan. Kita bisa melacak genealogi kumulasi bacaan-pengalaman yang membentuk dirinya saat ini.

Novel otobiografis yang ilmiah-populer. Memberikan kita pengetahuan tentang perjalanan hidup sekaligus gagasan-gagasan yang bersemayam di benak Mochtar.

*

Waktu hampir menunjukkan pukul sembilan malam. Toga Mas hampir tutup dan berarti aku sudah duduk sekitar empat jam untuk menuntaskan novel ini. Novel kukembalikan lagi ke tempatnya semula. Membaca novel ini sungguh membesarkan hati di tengah episode-episode menegangkan yang sedang aku hadapi. Dan tentu, aku harus berterima kasih kepada Mochtar Pabottingi yang sudah menuliskan kisah hidupnya dengan jujur. Tulisan yang menginspirasi, membuka cakrawala, dan semoga bisa menjadi tambahan semangat untuk mewujudkan cita-cita yang dirawat hari demi hari. Semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s