Nietzsche Berdamai Dengan Islam?

kover nietzsche berdamai dengan islam2

  • Judul : Nietzsche Berdamai dengan Islam
  • Penulis : Ian Almond
  • Penerbit : Kepik Ungu, Depok
  • Terbitan : April 2011
  • Halaman : xxxiv + 106 halaman

Benarkah filsuf yang pernah mendeklarasikan kematian Tuhan itu berdamai dengan Islam?

Judul buku ini provokatif. Mau tidak mau, itu kesan pertama yang muncul ketika membaca sampul depan buku karya Ian Almond ini. Bagaimana tidak, membayangkan seorang Nietzsche berdamai dengan agama hampir sama dengan mengatakan bahwa Karl Marx berdamai dengan kapitalisme. Sebuah hal yang hampir tidak mungkin. Nyaris di sepanjang hidupnya Nietszche adalah filsuf yang rajin melakukan kritik terhadap agama.

Bagi Nietszche agama hanya mengajarkan tindakan destruktif kepada umatnya. Hal ini terlihat dari kecendurungan eksklusifitas agama sampai legitimasi teologis untuk melakukan tindak kekerasan. Menjadi wajar jika dia kemudian dengan lantang berani mewartakan kematian Tuhan. Pewartaan yang meluluhlantakkan puritanisme agama di Eropa. Inilah yang membuat saya meragukan adanya “perdamaian” antara Nietzsche dengan Islam.

Namun, keraguan yang muncul di awal itu sepertinya memang harus disingkirkan cepat-cepat usai kita menghabiskan buku setebal 106 halaman ini. “Perdamaian” memang terjadi. Di matanya, Islam adalah sebuah an affirmative semitic religion yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan dengan tegas. Agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Agama yang mengajarkan manusia untuk percaya dengan kemampuannya sendiri. Apresiasi Nietzsche terhadap Islam terutama dikarenakan agama ini mengelukan jihad sebagai perjuangan untuk mempertahankan keyakinan (halaman 11).

Bukankah ini hampir mirip dengan nasehat Nietzsche kepada setiap manusia untuk menjadi Ubermensch? Seperti yang ia bilang, manusia harus melepaskan hambatan berupa nilai-nilai moral yang mengikatnya. Ia menganggap ilmu, bahkan juga filsafat, menjadi penghambat utama dalam tahapan perkembangan “wajar” manusia. Maka ketika belenggu itu bisa dilepaskan, manusia akan menjadi sosok final manusia yang sempurna. Sindhunata menyebutnya sebagai adimanusia. Dan Nietzsche menemukan ini dalam Islam.

Sekalipun demikian, ia tidak lantas menganut Islam. Bagi Nietzsche, “Perdamaian” hanya berada pada sampai di titik menjadikan Islam sebagai sekutu dalam mendobrak kemunafikan otoritas keagamaan di Eropa. Selain itu, ia tetap menganggap bahwa Islam sama saja dengan agama lain. Dalam salah satu karya awalnya, Aforisme (1786), Nietzsche mengatakan bahwa semua agama adalah alat untuk melakukan manipulasi dan mengendalikan pikiran manusia.

Dalam buku ini sendiri, pembahasan mengenai Nietzsche dan Islam sebenarnya hanya pembuka saja. Ada dua tokoh lain yang juga diulas oleh Ian Almond, Michel Foucault dan Jacques Derrida. Keduanya adalah tokoh posmodernisme yang sering dianggap sebagai ahli waris pemikiran Nietzsche. Terutama dalam kaitannya dengan penghancuran total terhadap narasi besar modernitas.

Inilah yang unik dari buku ini. Melalui ketiga tokoh tersebut, Almond hendak menghubungkan antara Islam dan pasca-modernisme yang selama ini selalu diletakkan berhadap-hadapan. Simpati yang cukup besar dari tiga tokoh peletak fondasi pasca-modernisme ini terhadap Islam menunjukkan hubungan tersebut. Meskipun memang tidak dapat dipungkiri juga bahwa pemikiran mereka mendapat bias dari proyek Orientalisme.

Namun terlepas dari hal tersebut, buku ini tetap menjadi rujukan yang menarik. Buku ini seolah ingin mengatakan bahwa di Barat, Islam tidak selamanya digambarkan secara negatif. Karena itu sentimen Islam dan Barat yang memuncak pasca 11 September 2001 sudah seharusnya diakhiri. Ini adalah era untuk melakukan rekonsiliasi, saatnya untuk berdamai.  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s