Jatisaba dan Ketidakberdayaan Perempuan

sampul jatisaba

  • Judul : Jatisaba
  • Penulis : Ramayda Akmal 
  • Penerbit : ICE dan Jurusan Sastra Indonesia UGM 
  • Cetakan : Februari 2011
  • Tebal : iv + 348 hlm

Di tangan Ramayda Akmal, persoalan perdagangan manusia menunjukkan ketidakberdayaan perempuan untuk lepas dari jerat sistem yang membelenggunya. Tingkat pendidikan rendah, keadaan ekonomi memprihatinkan, sampai sistem patriarki yang masih melekat kuat menjadi titik lemah yang membuat perempuan dengan mudah dapat dimanfaatkan oleh sindikat perdagangan manusia.

Dalam novel Jatisaba ini, Ramayda menunjukkan bagaimana ketidakberdayaan itu membuat perempuan terjebak semakin jauh ke dalam sistem. Simak saja tuturan Mae, tokoh utama novel ini; “…Mereka dijebak untuk mengantar narkoba, menyelundupkan orang lain, menjadi nelayan liar, atau yang paling klise, dijual ke bapak ayam, sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menyadari apa yang tengah terjadi dan memberontak. Seandainya ada yang berhasil keluar, maka ia hanya akan mengotori dunia ini dengan trauma dan dendam. Seperti aku” (hal. 224).

Mae adalah perempuan yang menjadi korban perdagangan manusia. Mula-mula ia diiming-imingi bekerja di luar negeri oleh calo TKI. Sebagai perempuan desa yang ingin merasakan hidup layak, iming-iming gaji serta fasilitas yang ditawarkan tentu saja menjadi hal yang menggiurkan. Namun ia dijebak, Mae dijadikan seorang pelacur yang harus melayani laki-laki hidung belang setiap malam. Ketika mencoba lari, Mae jatuh ke dalam sindikat yang lain. Pilihannya hanya dua, ia bergabung menjadi anggota sindikat dan menjual perempuan sebanyak-banyaknya atau, kehilangan nyawanya.

Pilihan yang sulit, dan Mae memilih menjadi calo sindikat perdagangan manusia. Ia memiliki tugas untuk mencari perempuan yang akan dijual kepada penadah. Di titik ini, kita diajak untuk memahami rumitnya mimpi dan kenangan seorang perempuan. Mae harus kembali ke desanya untuk mengajak perempuan-perempuan yang ironisnya, teman-teman Mae ketika masih kecil. Kompleksitas batin ini berkelindan dengan dendam atas kekejaman nasib yang menimpa dirinya.

Tak heran jika di sekujur cerita berisi tentang konflik batin yang dirasakan oleh Mae. Frustasi dan tekanan yang dihadapinya bahkan sampai membuat Mae berkata : “…mungkin hanya kekejaman setan yang tertinggal di diriku ini. Oh, ada satu kemanusiaan yang masih aku miliki selain semangat bertahan hidup; kemampuanku dan ketidaktahumaluanku untuk mengakui segalanya, mempresentasikan kebrengsekan” (hal.171). Inilah yang membuat novel ini menarik untuk disimak.

Selain itu, sebagai sebuah novel etnografis, Jatisaba berhasil mendeskripsikan permasalahan sosial masyarakat desa yang ada di Indonesia pada umumnya dengan jernih. Salah satunya bisa dilihat ketika proses Mae menjaring korban di kampungnya sendiri. Mae memanfaatkan karut marut Pilkades yang tengah berlangsung. Layaknya sebuah panggung politik nasional, berbagai cara ditempuh oleh para calon untuk merayu warga.

Politik uang, korupsi, intimidasi fisik, sampai penggunaan ilmu hitam menghiasi fragmen-fragmen bab dalam novel ini. Sebagai contoh, setiap calon memiliki ninja yang bertugas untuk mengintimidasi pendukung dari lawannya. Sementara itu, suap kepada warga dilakukan dengan memberikan beras satu karung. Sedangkan upaya sabotase juga dilakukan satu sama lain termasuk mencampur beras dengan ulat. Bukankah ini mengindikasikan bahwa kebusukan politik nasional juga membudaya di tingkat pedesaan?

Membuka Mata

Jatisaba membuka mata kita betapa saat ini perempuan masih ditindas oleh sistem yang diskriminatif dan antiperempuan. Perdagangan perempuan masih terjadi, upah buruh perempuan rendah, penyaluran Tenaga Kerja Wanita (TKW) ilegal, sampai kurangnya perlindungan hukum terhadap TKW membuat masalah ini tidak pernah terselesaikan. Tak ada ujung, tak ada pangkal. Semakin tahun jumlah korban bahkan semakin bertambah. Dan ini membuat kisah-kisah seperti Mae menjadi semacam drama kolektif yang juga banyak dialami oleh perempuan korban perdagangan manusia.

Gaya bertutur yang kuat serta kelugasan Ramayda memilih diksi membuat realita sosial ini menjadi begitu hidup. Dan ini menjadi salah satu alasan dewan juri memilih novel ini sebagai salah satu pemenang unggulan sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2010. Sapardi Djoko Damono, salah seorang juri, mengatakan bahwa masalah perdagangan manusia sebenarnya isu lama yang sudah sering muncul di media. Namun, novel ini berhasil membangun drama yang mencekam dan menimbulkan ketegangan di sana-sini. Sehingga pembaca disuguhkan pandangan lain melihat masalah perdagangan manusia. Sudut pandang seorang agen perdagangan manusia.

Ramayda banyak menggunakan istilah lokal untuk memperkuat sudut pandang ini. Bahasa lokal jawa-banyumasan yang bertebaran di sana-sini membuat kesan yang lebih ringan, melampaui tabu dan norma, namun jujur. Ia ingin menunjukkan bahwa masyarakat desa yang diidentikkan dengan kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, memiliki kebaikan serta kejujuran yang tidak dimiliki masyarakat perkotaan. Bahasa yang menohok sikap hipokrit dan munafik masyarakat perkotaan yang merasa dirinya terpelajar.

Hanya saja itu menjadi sedikit mengganggu dalam novel ini. Banyaknya penggunaan bahasa lokal cukup membingungkan pembaca terutama yang tidak mengerti bahasa jawa. Beberapa kali kita harus melihat catatan kaki untuk memahami arti kata yang dimaksud.

Terlepas dari hal tersebut, novel ini mengingatkan kita bahwa persoalan perdagangan manusia mendesak untuk segera diselesaikan. Jatisaba sekaligus menjadi bentuk kritik kepada pemerintah yang tidak pernah serius menangani masalah ini. Jika masalah ini dibiarkan begitu saja, sama saja kita sedang membiarkan saudara-saudara kita dijual dan diperlakukan lebih rendah daripada binatang. Dan berarti, sifat kemanusiaan kita patut dipertanyakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s