Memecah Kebekuan Generasi Nol Buku

Dalam salah satu penelitiannya, Taufik Ismail membandingkan kebiasaan membaca buku siswa di Indonesia dengan siswa SMA di beberapa negara. Hasilnya sangat mencengangkan. Di Eropa, negara seperti Prancis dan Belanda mewajibkan siswanya untuk membaca minimal 30 judul buku setahun. Amerika Serikat mewajibkan 32 judul buku, Jepang 15 judul buku, Malaysia 6 judul buku, serta Thailand 5 judul buku. Sedangkan Indonesia, 0 buku! Padahal, di masa penjajahan ketika Indonesia masih bernama Hindia-Belanda, siswa setara SMA saja kala itu diwajibkan membaca minimal 25 judul buku dan menghasilkan 108 karangan!

Fakta yang mencengangkan tersebut membuat Taufik mengatakan bahwa siswa-siswa sekolah di Indonesia sebagai generasi nol buku. Dengan kondisi yang demikian, generasi nol buku saat ini memiliki potensi melumpuhkan pusat syaraf kesadaran kebudayaan republik. Tingkat membaca saja rendah, apalagi menulis. Menulis adalah persoalan menuangkan endapan emosional yang muncul dari aktivitas membaca. Tulisan ini bahkan menjadi dasar atau landasan konseptual untuk membangun sebuah bangsa yang dicita-citakan bersama. Sebuah komunitas imajiner. Sebagai contoh, Soekarno muda pernah menulis serangkaian artikel yang menggegerkan.

Di tahun 1927, dia menulis “Nasionalisme, Islam dan Marxisme” dalamIndonesia Muda, penerbitan milik kelompok diskusi yang ia dirikan. Di artikel-artikel tersebut, Soekarno menjelaskan mengenai pentingnya sebuah persatuan nasional, satu front bersama kaum nasionalis, Islamis, dan Marxis. Sebuah persatuan nasional untuk perlawanan non-kooperatif terhadap Belanda. Ini adalah pemikiran awal sang proklamator yang selanjutnya menjadi ilham dalam merumuskan falsafah dan dasar negara Indonesia, Pancasila.

Dari satu contoh tersebut saja kita bisa melihat bagaimana kekuatan tulisan yang menjadi landasan persatuan sebuah bangsa. Pertanyaannya, ketika kita berada dalam generasi nol buku, aktivitas menulis menjadi satu hal yang mewah. Ketika membaca tidak dilakukan, apa yang mau ditulis? Inilah paradoks kehidupan modern. Ragam fasilitas yang menyediakan berbagai kesempatan untuk membaca dan menulis tampak menjadi demikian sia-sia. Kebanyakan siswa di Indonesia justru menggunakan berbagai perangkat teknologi untuk hal yang tidak produktif.

Tentu, saya tak ingin kelewat pesimis. Selalu ada celah untuk menggunakan perangkat teknologi sebagai kekuatan produktif yang mampu mendorong penciptaan imajinasi secara kreatif. Misalnya saja, menggunakan blog sebagai ruang ekspresi bagi para siswa untuk menampilkan gagasan-gagasannya. Melalui blog, ruang ekspresi menjadi tidak terbatas. Siswa tentu memiliki ruang pribadi untuk mencurahkan ide-ide yang ia miliki. Namun, sekolah semestinya juga mulai memanfaatkan blog ini sebagai upaya untuk memacu potensi siswa dalam menulis.

Misalnya saja, sekolah bisa bekerjasama dengan mereka yang bergerak di bidang penulisan kreatif untuk membantu memberikan pelatihan kepada para siswa. Setelah itu, siswa dibebaskan untuk menuliskan gagasannya baik itu berupa reportase lapangan maupun sekedar curahan hati. Saya percaya bahwa menulis itu bukan sebuah bakat. Ia lahir dari latihan yang dilakukan terus menerus dan konsisten. Sekolah bisa memberikan reward bagi siswa yang memiliki potensi bagus di bidang penulisan. Buat para siswa pun, ide menggagas majalah sekolah online dalam sebuah blog pun tampak begitu relevan dalam kondisi seperti saat ini.

Selain itu, era internet seperti sekarang ini seharusnya juga ditanggapi dengan menyediakan perpustakaanonline yang bisa diakses dengan muda. Perpustakaan saat ini selalu berkonotasi dengan tempat kuno yang sepi dan angker. Mitos ini perlu didekonstruksi, tapi juga perlu diadaptasikan dengan zaman. Seringkali orang malas ke perpustakaan karena mereka sudah dimanjakan dengan teknologi internet yang memungkinkan mereka bisa mencari berbagai informasi tanpa harus bersusah payah. Akibatnya orang-orang ini tidak membaca sumber sebuah informasi secara langsung dari buku yang ada. Pengadaan perpustakaan online, bisa menjembatani problem ini.

Nah, perpustakaan online ini bisa diintegrasikan dengan blog yang dimiliki oleh siswa. Integrasi pun bisa bermanfaat secara positif bagi para siswa. Misalnya saja, para siswa bisa mendiskusikan seputar buku-buku terbaru maupun isi sebuah buku dalam blognya. Saya kira, upaya semacam ini memiliki potensi untuk mengalihkan siswa dari hal-hal yang kontraproduktif seperti tawuran. Pun, ia menjadi ikhtiar untuk mendekatkan perkembangan teknologi pada dunia pendidikan. Sehingga, generasi ini tidak lagi menjadi generasi nol buku. Semoga.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s