Berkenalan dengan Pasar Bebas

kulit muka buku

  • Judul              : Petualangan Jonathan Gullible
  • Penulis           : Ken Scholland
  • Penerbit          : Freedom Institute
  • Tebal               : viii + 320 halaman
  • Cetakan          : Oktober 2010

Sebelum jatuh dalam karut-marut beragam gejala yang membuatnya dipahami secara salah kaprah, neoliberalisme awalnya bukanlah urusan ekonomi an sich. Neoliberalisme adalah proyek filosofis nan ambisius untuk mengatur manusia beserta tatanan masyarakat dengan lebih komprehensif. Gagasan radikalnya ini sekaligus menjadi pembeda dengan liberalisme klasik ala Adam Smith. Jika liberalisme klasik hanya membatasi diri pada prinsip pasar bebas yang menentukan alokasi barang dan jasa, maka neoliberalisme mengatakan bahwa prinsip pasar bebas akan menentukan semua bentuk relasi antarmanusia. Tidak hanya di bidang ekonomi tetapi juga di bidang sosial, politik, agama, dan lainnya.

Sesuai semangat dalam pasar bebas, manusia dipandang sebagai homo oeconimus. Homo oeconimicus menjadi bentuk manusia yang sejati. Untuk bertahan hidup, manusia akan mendayagunakan segala kemampuan yang dimiliki untuk bersaing dengan manusia yang lain. Campur tangan pihak lain termasuk negara harus dibatasi karena itu justru akan melecehkan harkat dan martabat manusia. Itulah yang hendak dikatakan Ken Scholland dalam novelnya Petualangan Jonathan Gullible ini. Melalui tokoh rekaannya, Jonathan Gullible, dosen ekonomi politik di Universitas Hawaii itu menjelaskan prinsip-prinsip mendasar dalam sistem pasar bebas seperti persaingan bebas dan penolakan pembatasan impor.

Gullible adalah sosok yang menjunjung tinggi kepemilikan pribadi dan pasar bebas. Karena itu ia menganalogikan bahwa membatasi impor sama artinya dengan membatasi sinar matahari. Sebuah usaha yang konyol dan sia-sia. Ini dapat kita lihat dalam kisah awal ketika Gullible terdampar di pulau aneh bernama Corrumpo. Di pulau itu Gullible menjumpai fakta bahwa sekelompok pekerja pabrik lilin beramai-ramai melakukan protes menolak sinar matahari. Mereka menuntut Dewan Bangsawan menghalangi sinar matahari agar tidak masuk pulau Corrumpo. Hal ini dikarenakan sinar matahari akan membuat pekerjaan pembuat lilin menjadi sia-sia. Konsekuensinya, industri lilin di pulau tersebut pun akan mengalami kerugian tak terkira.

Sementara itu, prinsip persaingan bebas bisa kita lihat lewat keheranan Gullible ketika mengetahui bahwa hukuman mati akan diberlakukan kepada tukang cukur rambut ilegal. Pemerintah Corrumpo memberlakukan hukuman tersebut dengan tujuan untuk melindungi tukang cukur yang mendapatkan izin. Gullible semakin heran ketika tukang cukur yang berizin itu memotong rambut dengan gaya yang sama, tidak ada variasi. Apa yang bisa kita perhatikan dalam cerita yang terdengar lucu tersebut?

Benar. Proteksi pemerintah yang bisa memunculkan monopoli justru akan merugikan warganya sendiri. Dalam kisah tersebut, kerugian warga digambarkan dengan gaya cukur rambut yang sama. Minimnya inovasi serta kreativitas gaya cukur rambut muncul karena pembatasan yang berlebihan. Di titik inilah seharusnya prinsip persaingan bebas diberlakukan seluas-luasnya dalam pasar. Tidak perlu ada pembatasan ijin dari pemerintah. Sebab pada akhirnya persaingan yang kompetitif akan menguntungkan masyarakat sebagai target konsumen. Persaingan bebas akan membuat masyarakat mendapatkan pelayanan yang berkualitas dengan harga yang terjangkau.

Tidak hanya mendukung pasar bebas, Gullible juga “menyerang” sistem ekonomi lain yang bertentangan secara ideologis. Salah satunya, sosialisme. Ketika bertemu dengan penggembala yang hendak ke kota untuk menjual sapinya, ia mengatakan bahwa sosialisme adalah sistem yang aneh. “Sosialisme”, sindir Gullible, “adalah pengasuh anak yang tidak akan membiarkan anda tumbuh dan mengambil keputusan sendiri”. Gullible juga menambahkan bahwa sosialisme akan menentukan kapan dan bagaimana anda bekerja. Setelah itu, sosialisme akan mengambil sejumlah besar penghasilan anda (halaman 156).

Selain itu, Gullible juga mengajak pembaca untuk “bertegur sapa” dengan para tokoh yang bergelut dalam kancah pemikiran neoliberal  yang sarat kontroversi dan terus memicu perdebatan sampai saat ini. Beberapa di antaranya adalah Milton Friedman, Ludwig von Mises, Henry Hazlitt dan Frederic von Hayek. Dengan bahasa yang ringan dan renyah dibaca, pembaca diajak membahas pemikiran-pemikiran yang “berat” tanpa harus banyak mengernyitkan dahi. Sebuah karya yang menarik untuk berkenalan dengan pasar bebas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s