Perjalanan Sang Wartawan Jihad

kover jurnalisme dan politik

  • Judul Buku    : Jurnalisme dan Politik di Indonesia
  • Penuli            : David T.Hill
  • Penerbit          : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
  • Tebal               : xiv + 362 halaman
  • Cetakan          : Juli 2011

Mochtar Lubis adalah prisma. Melaluinya, kita bisa melihat pergulatan sebuah bangsa yang sedang mencari jatidiri pasca kemerdekaan. Pergulatan yang merentang di bidang politik, ideologi, jurnalisme, sampai kebudayaaan ketika dunia masih dilanda perang dingin. Buku karya David Hill ini mengungkapkan perjalanan panjang sang prisma.

Sebagai sebuah biografi, Hill membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan karya ini. Kurang lebih 30 tahun. Rentang waktu yang cukup lama ini terjadi karena adanya konflik yang beberapa kali muncul antara Hill sebagai penulis dan Mochtar Lubis sebagai obyek yang ditulis.

Ketika proses penulisan berlangsung, Mochtar seringkali kesal membaca analisis yang ditulis. Beberapa kali ia meminta analisis itu diubah dan menganggap Hill sebagai pengkhianat. Kondisi yang membuat Hill gelisah dan selalu berada dalam konflik batin. Bahkan ketika karya ini telah rampung, Hill merasakan kekecewaan yang mendalam.

Namun justru di sinilah letak kelebihan karya ini. Sebagai sebuah biografi kritis,  karya ini menempatkan Mochtar Lubis secara objektif sesuai konteks waktu dan tempat ia berada. Karya yang paling otoritatif dalam menggambarkan perjalanan hidup Mochtar Lubis.

Jurnalisme Jihad

Buku ini menyoroti Mochtar secara khusus dalam dua hal. Pertama sosoknya sebagai seorang jurnalis dan pemimpin redaksi Indonesia Raya. Kedua sebagai seorang pengarang yang juga menjadi perantara kebudayaan.

Dalam perannya sebagai seorang pemimpin redaksi sebuah media, Mochtar adalah simbol bagi kebebasan pers. Dengan kebijakan redaksional “investigatif yang agresif”, Indonesia Raya berkali-kali melakukan kritik yang cenderung menyerang pemerintah. Gaya jurnalisme yang berani, menggigit, dan tidak dapat digoyahkan oleh siapapun menjadi inspirasi bagi banyak media lain di era tersebut. Tentu saja gaya jurnalisme jihad ini tentu bukan tanpa resiko.

Harga yang teramat mahal bahkan harus ditanggung oleh Indonesia Raya. Surat kabar ini dibredel dua kali. Pembredelan pertama terjadi pada tahun 1958 setelah serangkaian berita yang antikomunis dan anti Soekarno. Mochtar dan Indonesia Raya bertarung dalam pertempuran yang tidak berimbang. Mochtar ditangkap dan dijadikan sebagai tahanan rumah. Surat kabar ini terbit kembali setelah gonjang-ganjing politik 1965 yang meruntuhkan kekuasaan Soekarno.

Pembredelan kedua terjadi pasca peristiwa Malari 1974. Awalnya, Indonesia Raya dengan sikapnya yang anti-komunis dan anti-Soekarno adalah partner yang pas untuk Orde Baru dalam menjalankan stabilitas pembangunan. Sayangnya, bulan madu keduanya berjalan singkat. Mochtar Lubis yang sekaligus menjadi simbol Indonesia Raya kembali menjadi pembangkang yang teguh dengan terus memberitakan penetrasi modal asing, isu korupsi, dan berbagai kebobrokan pemerintah. Mochtar kembali kalah. Selain surat kabarnya dibredel, ia kembali ditangkap tanpa melalui pemeriksaan. Karier sebagai seorang pemimpin redaksi surat kabar harian selesai sampai di sini.

Meskipun surat kabarnya berakhir dengan tragis, Indonesia Raya  sampai saat ini tetap dianggap sebagai pelopor bagi berkembangnya jurnalisme investigasi di Indonesia. Keberaniannya mengungkap kasus korupsi di Pertamina patut mendapat apresiasi. Apalagi kasus ini melibatkan Ibnu Sutowo, salah satu orang dekat dalam kekuasaan Soeharto. Keberanian dalam meliput ini memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan jurnalisme di Indonesia sampai saat ini.

Memicu Polemik

Setelah keluar dari penjara Nirbaya, Mochtar lebih banyak menghabiskan waktunya di bidang kebudayaan. Selain mengelola majalah sastra Horison, ia sering menyampaikan pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki. Pidatonya yang paling fenomenal sekaligus kontroversial terjadi pada tanggal 6 April 1977. Mochtar mengungkapkan karakteristik manusia Indonesia yang sarat dengan kritikan pedas.

Dengan gaya yang provokatif dan meluap-luap, Mochtar menelanjangi manusia Indonesia sebagai sosok yang munafik, feodal, percaya tahayul, tidak bisa mengambil keputusan, dan enggan bertanggung jawab. Pidato ini kemudian memicu perdebatan intelektual di media yang seru dan berlangsung selama berminggu-minggu.

Banyak yang memuji sikap terus terang Mochtar tersebut. Tapi tak sedikit juga yang mencacinya terutama kalangan intelektual Jawa yang menganggapnya tidak paham alam pikiran Jawa. Terlepas dari perdebatan tersebut, Hill menyebut pidato ini sebagai tour de force (perolehan gemilang) intelektual Mochtar. Pidato ini sekaligus menunjukkan kepiawaiannya dalam menerjemahkan benturan budaya antara modernisasi barat dan tradisi ketimuran.

Akhirnya, membaca biografi ini adalah membaca kontradiksi-kontradiksi dalam sosok Mochtar Lubis. Sebagai jurnalis dan pemimpin redaksi, ia adalah sosok pembangkang pemerintah yang teguh. Sayangnya, sikapnya ini justru pelan-pelan menggerus kebebasan pers yang selalu ia perjuangkan. Sebagai budayawan, kritikannya terhadap manusia Indonesia menunjukkan sosok dirinya sebagai penganut individualisme liberal. Dan dengan demikian, tak banyak yang bisa memahami dirinya dengan sekian kontradiksi yang melekat.

Sekalipun demikian, sumbangsihnya terhadap bangsa ini tak dapat diragukan. Mengutip Atmakusumah, “Mochtar Lubis bagaikan penunjuk arah bagi mereka yang telah kehilangan kompas di tengah samudera dan yang tak mampu lagi memandang mercusuar di tempat gelap”. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s