Warga Sebagai Elemen Jurnalisme

Tahun 2007, Bill Kovach dan Tom Rosensteil menerbitkan revisi buku The Elements of Journalism : What Newspeople Should Know and The Public Should Expect yang sebelumnya terbit tahun 2001. Mereka menggenapi sembilan elemen jurnalisme menjadi sepuluh. Meskipun hanya menambahkan satu, penggenapan ini menunjukkan perubahan yang cukup fundamental. Elemen ke sepuluh tersebut adalah “warga memiliki hak dan tanggung jawab terhadap berita”.

Warga tidak lagi sekadar menjadi khalayak pasif dari media kovensional namun juga menciptakan media dan informasi sendiri seiring perkembangan teknologi yang melahirkan internet. Tidak ada yang “pusat”, tidak ada yang “pinggiran”. Di dalam era arus informasi, setiap individu adalah “pusat” itu sendiri. Dengan tidak adanya “pusat”, setiap orang bisa menyampaikan berbagai informasi maupun gagasan yang dimilikinya. Bisa melalui surat elektronik, blog, media sosial, sampai di kantor-kantor berita resmi yang menyediakan tempat untuk berinteraksi dengan pembacanya secara langsung.

Lalu lintas informasi begitu cepat dan melintasi berbagai bidang baik ekonomi, sosial, politik, budaya bahkan sampai hal remeh-temeh yang terjadi sehari-hari di sekitar kita. Tidak hanya informasi yang serius tetapi juga bisa berupa gosip-gosip tentang pejabat politik maupun selebritis. Pada akhirnya kehendak zaman membawa setiap orang atau warga menjadi seorang “jurnalis”. Akses terhadap teknologi informasi membuatnya mampu melaporkan berita-berita yang sebelumnya didominasi oleh media arus utama.

Yang patut menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah sebagai “jurnalis”, warga mesti berpijak pada sembilan elemen sebelumnya seperti yang disebutkan oleh Bill Kovach dan Tom Rosensteil. Jika diperpanjang, pertanyaan akan menjadi : apakah jurnalis warga juga harus berpihak kepada kebenaran? Apakah jurnalis warga harus disiplin melakukan verifikasi? Apakah jurnalis warga harus independen dari narasumber yang mereka liput? Jika memang harus mengikuti semua kaidah jurnalistik, bukankah jurnalis warga tidak pernah mendapat pelatihan profesional? Dan sebagainya, dan seterusnya.

Bagi saya, dari deret pertanyaan tersebut hanya satu saja yang perlu dijawab oleh mereka yang mendaku sebagai jurnalis warga. Pertanyaan tersebut menyangkut tentang keberpihakan kepada kebenaran. Menjadi jurnalis warga, sama artinya dengan menjadi jurnalis alternatif. Sementara berita-berita dalam media arus utama memiliki keterbatasan ruang sehingga berpotensi mendangkalkan ide, jurnalis warga berpotensi mengeksplorasi berbagai fakta yang bercecer.

Catatannya, fakta-fakta tersebut adalah satu peristiwa yang bersangkutan dengan kepentingan publik. Untuk ini kita bisa belajar dari situs OhMyNews.com, situs berita di Korea Selatan yang mengandalkan jurnalis warga untuk menyuplai berita. Ketika membaca penelitian Mary Joyce dari Berkman Center for Internet and Society yang berjudul The Citizen Journalism Website “OhMyNews” and the 2002 South Korean Presidential Election, saya teringat  Juergen Habermas.

Salah satu pemikir Mazhab Frankfurt ini menjelaskan bagaimana ruang publik yang muncul di Eropa pada abad 17-18 mewujud dalam bentuk kedai kopi, cafe, literary salon, sampai pub yang ketika itu sedang menjamur di Eropa. Tempat-tempat ini menjadi ruang bebas di mana setiap orang memiliki hak yang sama untuk mengekspresikan pengetahuan yang ia miliki. Di tempat-tempat ini, diskursus warga dalam membincangkan persoalan-persoalan publik berjalan secara alami dan ideal.

OhMyNews.com menjadi jelmaan ruang publik tersebut. Hampir setiap, para jurnalis warga ini menulis berita-berita yang jarang dimuat oleh media arus utama. Setiap berita pasti diunggah tanpa disaring terlebih dahulu. Mereka yang tidak sepakat dengan satu fakta dalam sebuah peristiwa, menimpalinya dengan fakta lain. Sehingga situs ini sekaligus menjadi ruang diskursus warga. Ia bahkan berperan penting dalam memenangkan kandidat presiden alternatif di pemilu 2002. Dari situ, mula-mula jurnalis warga semestinya berpihak kepada kebenaran.

Setelah keberpihakan ditentukan, ia akan menuntun setiap warga untuk melaporkan berita-berita yang memang penting dan mendesak untuk dimunculkan ke publik. Keberpihakan kepada kebenaran juga memaksa nurani jurnalis warga agar tidak sembrono melaporkan berita-berita yang tidak bisa diverifikasi sumber kebenarannya. Tentu, tidak berarti warga harus melakukan verifikasi yang ketat layaknya jurnalis profesional. Selama ia tidak menyebarkan berita bohong, saya kira itu sudah cukup.

Tugas jurnalis warga adalah mengetuk pintu kebenaran yang tidak disambangi media arus utama. Setelah itu, tinggal berharap pada masyarakat sebagai pengguna informasi apakah akan membuka dan memasuki pintu tersebut apa tidak. Kira-kira begitu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s