Memberi Tempat Bagi Minoritas

kulit muka 1

  • Judul Buku    : Un Soir du Paris
  • Penulis           : Linda Christanty, Clara Ng, Seno Gumira, dkk
  • Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
  • Tebal               : xvii +127 halaman
  • Cetakan          : September, 2010

Bagaimana rasanya menjadi minoritas dan dianggap abnormal oleh lingkungan sekitar? 12 cerpen yang terangkum dalam kumpulan cerpen Un Soir du Paris ini seperti hendak menjawab pertanyaan tersebut melalui serangkaian cerita yang menyentuh perasaan. Ada perasaan kesepian, kesedihan, kesendirian, kekhawatiran, kebencian, ketakutan, dan bahkan rasa sakit yang tak mudah dipahami. Serpihan-serpihan perasaan tersebut menjadi kelebihan yang dimiliki kumpulan cerpen ini. Apalagi, tema lesbian yang diangkat jelas berbeda dengan tema cerpen arus utama.

Tema ini menarik karena berhubungan erat dengan stigmatisasi yang tak kunjung usai. Stigmatisasi sistematis atas mereka yang memiliki orientasi seksual berbeda dengan mayoritas. Jika kita meminjam analisis Michel Foucault, stigmatisasi tersebut menunjukkan bagaimana kekuasaan memberikan represi yang luar biasa kepada tubuh. Tubuh tidak memiliki kedaulatan, termasuk dalam mengekspresikan seksualitas. Ia harus tunduk kepada aturan-aturan agama, negara, sampai pada norma-norma (?) yang ada di dalam masyarakat.

Foucault juga menjelaskan bahwa sejak era victorian, seksualitas diarahkan pada tujuan-tujuan prokreatif, bukan rekreatif. Karena memiliki tujuan prokreatif, ini sama artinya mengakui bahwa heteroseksual adalah bentuk paling sah dari ekspresi seksualitas. Maksudnya, seksualitas diarahkan secara terbatas untuk melanggengkan kehidupan umat manusia, memiliki keturunan. Mereka yang tidak melakukan hubungan seksual atas dasar itu “diharamkan”. Atas nama mayoritas, kekuasaan terus-menerus melakukan reproduksi pengetahuan yang menyebabkan kaum lesbian (LGBT) dipinggirkan. Keberadaan mereka diingkari. Setiap upaya untuk menampakkan diri selalu direspon dengan beragam cara termasuk kekerasan.

Kita bisa lihat. Konferensi internasional LGBT yang awal tahun ini direncanakan digelar di Surabaya batal karena tekanan banyak pihak. Pelatihan waria di Depok beberapa saat lalu dibubarkan oleh aparat keamanan. Terakhir, pemutaran film Q-Festival di beberapa kota mendapat ancaman kekerasan dari ormas-ormas terutama yang mengatasnamakan agama. Beragam tekanan yang muncul itulah yang membuat ruang kaum LGBT untuk menampakkan diri semakin sempit. Bahkan mereka cenderung menutup identitas dirinya.

Tepat dalam konteks itulah cerpen-cerpen ini hadir. Ia hendak mengatakan kepada kita semua bahwa kaum LGBT juga manusia biasa. Mereka bahkan merasakan penderitaan yang tak terperi sebagai akibat dari konstruksi sosial budaya yang membuat mereka menjadi liyan. Melalui ruang yang terbatas, para pengarang mencoba memberikan tempat bagi kaum minoritas. Butuh keberanian dan keberpihakan untuk menghasilkan karya-karya yang melawan arus utama semacam itu.

Salah satu penderitaan itu bisa kita rasakan dari cerpen Hari Ini, Esok, dan Kemarin karya  Maggie Tiojakin. Maggie bercerita mengenai penderitaan batin seorang lesbian yang memiliki kekasih namun harus menyembunyikannya rapat-rapat. Bahkan ia terpaksa menikah dengan laki-laki untuk memenuhi harapan lingkungan sosial di sekitarnya. Pernikahan yang membuatnya semakin bersalah karena hampir selama dua tahun berpura-pura mencintai sosok suami yang setia. Belum lagi perasaan tersiksa karena harus menikah secara hetero.

Hal yang sama juga diungkapkan Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya Dua Perempuan dengan HP-nya. Dengan ciri khas berceritanya yang mengalir, Seno mengisahkan dua perempuan yang memadu kasih dengan sembunyi-sembunyi. Dua perempuan tersebut terpaksa menjalin hubungan diam-diam karena mereka sama-sama sudah memiliki suami. Pernikahan hetero yang sama sekali tidak mereka inginkan.

Pergulatan kisah hidup yang getir tersebut dapat kita rasakan dalam keseluruhan cerpen dalam buku ini. Di antaranya adalah Sebilah Pisau Roti (karya Cok Sawitri), Mata Indah (Clara Ng), Un Soir du Paris (Steffany Irawan), Menulis Langit (Abmi Handayani) dan yang lain. Kita diajak untuk memahami bagaimana sulitnya menjadi seorang yang memiliki orientasi berbeda dengan mayoritas. Perbedaan itu membuat mereka harus berseberangan dengan orang tua, dengan lingkungan, bahkan juga dengan diri sendiri karena terkadang harus berpura-pura bahagia dalam pernikahan hetero.

Jika melihat  kisah-kisah yang ditampilkan, ada pertanyaan yang sedikit mengusik saya. Benarkah kumpulan cerpen ini “membela” dan “memperjuangkan” kaum LGBT? Mari kita lihat lebih dalam. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya ragu-ragu untuk segera mengatakan iya. Meskipun dalam beberapa hal cerpen-cerpen ini menyuarakan kaum LGBT, tapi dalam waktu yang bersamaan boleh jadi ia menjadi kontradiktif. Terutama ini dikarenakan tema yang diangkat sebagian besar cerpen melulu berkaitan dengan cinta. Seolah hanya persoalan mengenai cinta saja yang menjadi masalah kaum LGBT.

Latar belakang penulis yang bukan berasal dari komunitas lesbian barangkali menjadi penyebabnya. Kondisi psikis tidak banyak dieksplorasi. Padahal masih banyak masalah yang dimiliki kaum LGBT. Salah satunya, belum ada persamaan hak dalam lingkungan sosial. Ini menyebabkan relasi mereka dengan lingkungan sosialnya pun tertutup. Perjuangan menuntut persamaan hak-hak sipil pun harus dilalui dengan berdarah-darah karena berhadapan dengan sistem yang diskriminatif.

Terlepas dari hal tersebut, kumpulan cerpen ini tetap patut kita apresiasi. Seperti ditulis sepoci kopi (komunitas lesbian pertama di Indonesia) dalam epilog, kumpulan cerpen ini diharapkan menjadi embrio, jejalin mungil untuk meretas sastra lesbian di Indonesia. Embrio ini juga dimaksudkan agar para penulis lain termasuk dari komunitas lesbian, berani menghasilkan karya sastra LGBT di wajah literatur sastra kita. Dengan demikian, kaum LGBT bisa memiliki ruang untuk memperlihatkan eksistensi dirinya. Meski untuk itu butuh perjuangan dan pengorbanan yang berat. Semoga bisa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s