Catatan Untuk Gending Sriwijaya

Gending-sriwijaya-film-tentang-Palembang

Akhir-akhir ini, linimasa saya di twitter banyak membahas beberapa film Indonesia terbaru. Dari yang memunculkan rekor jumlah penonton seperti Habibie&Ainun dan 5CM, sampai yang memicu kontroversi seperti Cinta Tapi Beda dan Demi Ucok. Karena hanya sempat menyaksikan Habibie&Ainun, saya gagal ikut-ikutan nyinyir. Ada juga rasa penasaran untuk melihat di mana letak kontroversi yang sebenarnya. Tapi saya urungkan niat untuk menonton dua film terakhir itu. Ada satu film yang rilis bulan Januari ini dan di awal pembuatannya sempat memicu kontroversi dari beberapa sejarawan, Gending Sriwijaya.

Akhirnya tadi malam saya putuskan untuk menonton film ini. Saya hampir yakin, kebanyakan orang akan mulai meremehkan ketika tahu pemeran utamanya adalah Julia Perez. Beberapa teman bahkan dengan sinis mengatakan bahwa film ini akan mengeksploitasi tubuhnya. Tidak dapat dipungkiri citra negatif melekat dalam diri artis yang akrab disapa Jupe. Tapi begitu menuntaskan film ini, anggapan itu akan pudar.

Ada banyak hal menarik yang bisa dilihat dari film Gending Sriwijaya. Sejarah kerajaan pasca Sriwijaya, perjuangan kaum cendekiawan menyelamatkan naskah kuno dari penghancuran rezim penguasa anti intelektual, intrik politik dan pengkhianatan di lingkungan kerajaan, sampai keserakahan pejabat dalam merampok kekayaan alam negerinya. Semuanya berkelindan dengan adegan laga kolosal yang berada di sekujur film garapan Hanung Bramantyo ini.

Salah satu adegan yang saya ingat dalam film yaitu ketika Purnama Kelana (diperankan Syahrul Gunawan) membuka beberapa naskah kuno yang disimpan pasukan pemberontak pimpinan Kendrakana. Ia terpukau karena ia naskah tersebut termasuk naskah yang langka. Malini (Julia Perez) mengatakan bahwa naskah tersebut memang mereka lindungi. Apalagi mereka – pasukan pemberontak – terdiri dari para seniman dan cendekiawan yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.

Karena Kedatuan Bukit Jerai dipimpin oleh Dapunta Hyang Jaya Nasa yang anti kritik,semua naskah yang tidak berisi pujian kepada pemerintah dimusnahkan. Karenanya, kata Malini, “Sejarah selalu menjadi milik penguasa, bukan lagi milik rakyat kecil”. Kalimat ini begitu halus tetapi tajam menyengat. Ia menggambarkan problem klise historiografi yang memberikan ruang begitu luas bagi negara untuk menceritakan dirinya sendiri dan mengesampingkan peran orang-orang pinggiran.

Kritikan semacam itu pekat terasa sepanjang film. Dan pada titik ini, kritik sosial yang ingin disampaikan terlalu banyak dan membuat bangunan logika cerita menjadi tidak utuh. Misalnya saja tentang nama “Gending Sriwijaya” sendiri. Malini – di pertengahan film – menyebut Gending Sriwijaya adalah tarian yang ia buat untuk menjaga tradisi Sriwijaya yang terancam hilang. Para penari terdiri dari para perempuan yang biasanya menenun songket dan memiliki ilmu beladiri.

Kemampuan beladiri ini bahkan membuat mereka mampu menembus sampai istana Kedatuan.Yang membuat saya heran, para perempuan itu tidak ditampilkan sejak awal. Tidak pernah terlihat aksi mereka saat pasukan pemberontak pimpinan Ki Goblek sedang merampok di jalanan. Mereka justru muncul setelah Ki Goblek terbunuh.

Hal yang mengganjal selanjutnya adalah  deskripsi penguasa Kedatuan yang oleh Malini digambarkan anti terhadap kaum cendekiawan dan ilmu pengetahuan. Menurut saya, gambaran ini justru bertolak belakang dengan fakta bahwa sang raja hendak mewariskan tahta kepada anak keduanya. Jika menurut tradisi, tahta memang seharusnya diwariskan kepada anak pertamanya, Awang Kencana. Kehendak yang menyalahi adat ini muncul karena Dapunta Hyang Jaya ingin melihat bahwa negerinya akan menjadi negeri yang makmur di mana ilmu pengetahuan dihargai dengan layak.

Ia menganggap bahwa Kedatuan bisa mewujudkan mimpi itu jika dipimpin oleh raja yang bijak, memiliki pengetahuan yang luas, dan tidak hanya mengandalkan otot semata. Kalau memang raja cinta terhadap ilmu pengetahuan, benarkah ia akan mengusir kaum cendekiawan dan memusnahkan kita-kitab kuno? Atau kalau dibalik, pertanyaannya menjadi : kalau raja tidak memiliki penghargaan terhadap ilmu pengetahuan, mengapa ia memilih anak keduanya yang sedang belajar di China sebagai pewaris tahtanya?

Barangkali saya salah menafsirkan film ini, tetapi jika kejanggalan tersebut memang demikian adanya, saya kira hal ini patut disayangkan ketika melihat potensi Gending Sriwijaya dalam mengisi kehadiran film-film kolosal di Indonesia. Tema tentang sejarah kerajaan-kerajaan nusantara cukup jarang dieksplorasi. Film ini bisa membuka eksplorasi lanjutan tersebut. Sayangnya lagi, ia hadir berbarengan dengan rekor dan kontroversi beberapa film lain. Satu faktor penting yang menyebabkan film ini tidak akan laris. Kira-kira begitu.

Iklan

2 pemikiran pada “Catatan Untuk Gending Sriwijaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s