Menuju Padang Kurusetra

kurusetra1

Ibarat perang Baratayudha, tahun 2013 adalah era persiapan menuju padang Kurusetra. Gada, tombak, panah dan berbagai perlengkapan perang dipersiapkan. Gajah-gajah dan kuda-kuda hampir on fire melayani majikan-majikannya. Aktor-aktor intelijen sibuk melakukan operasi sunyi untuk melumpuhkan sel-sel kekuatan lawan. Tinggal menunggu genderang perang ditabuh yang menandai peperangan total di 2014.

Sebelum menuju perang yang sesungguhnya, sankula yudha sebenarnya sudah dimulai. Di berbagai forum-forum, surat kabar, televisi dan juga media sosial kita menyaksikan bahwa perang nanti akan berlangsung dengan begitu brutal. Mereka yang berada di lingkaran kekuasaan sibuk menginvestasikan modal politik dengan menggelembungkan citra. Sementara pihak oposan sibuk mencari-cari kelemahan penguasa yang mereka anggap anti rakyat. Perang opini dari kritikan halus sampai caci-maki menjadi pemandangan sehari-hari.

Pada akhirnya, rakyat tetap menjadi korban dari pertarungan yang hanya berorientasi pada kekuasaan tersebut. Kita saksikan, setiap hari masyarakat dijejali informasi tentang pencitraan, konflik politik, korupsi, dan berbagai kabar buruk lainnya. Isu mendasar yang menjadi persoalan masyarakat tetap tidak terjawab. Sementara wacana publik – melalui media arus utama – dipenuhi isu korupsi Hambalang, serangan balik Rizal Mallarangeng, pelemahan KPK,  blusukan SBY, kecelakaan anak Hatta Radjasa, sampai kecelakaan Dahlan Iskan, sayup-sayup kita mendengar diskriminasi kebijakan pemerintah Lhokseumawe yang melarang perempuan mengangkang ketika dibonceng di atas sepeda motor.

Yang paling tragis tentu dugaan penganiayaan dan pemerkosaan yang menimpa RI. Gadis cilik yang baru berusia 11 tahun ini meninggal dalam kondisi – mengutip ucapakan tim medis rumah sakit kepada orang tua korban – “tidak suci”. Arus wacana publik bergerak dan berputar-putar di wilayah elite. Masyarakat terus dijejali informasi-informasi yang tidak bermutu dan tidak berguna bagi pengambilan keputusan substansial sehari-hari. Gelombang tsunami informasi memiliki peran besar dalam pendangkalan nalar berpikir kritis. Yang muncul kemudian adalah manusia-manusia yang anti politik, bukan sadar politik. Masyarakat tidak dididik menjadi citizen, tetapi dikonstruksi menjadi consumer.

Tentu saja, perkembangan teknologi yang demikian masif membuat masyarakat tidak hanya bisa duduk diam dan menjadi objek dari perselingkuhan politisi dan pemilik media yang menyajikan berbagai informasi sampah. Technological environment membuat masyarakat bisa menjadi subjek bagi dirinya sendiri. Menyediakan informasi-informasi alternatif yang berguna dan insightfull. Pada titik ini, para blogger memiliki peran yang sebenarnya tidak dapat dianggap remeh.

Kemampuannya dalam mengakses berbagai informasi lantas mengekstraksikannya ke dalam tulisan, gambar, maupun video di blog pribadi menjadi potensi munculnya informasi alternatif. Potensi ini memang bukan merupakan hal yang baru. Berbagai peristiwa penting di dunia  seperti arab spring dan orange revolution menjadi contoh. Juga dengan resistensi blogger di Iran pasca pemilihan umum tahun 2007. Potensi yang dimiliki blogger ini yang saya kira akan kembali muncul secara masif di 2013.

Tesisnya kira-kira begini, jejalan berita-berita pencitraan politisi menjelang 2014 akan membuat masyarakat menjadi jenuh. Alih-alih menjadi sadar wacana politik, masyarakat – terutama kalangan ekonomi menengah ke atas – akan menjadi anti politik. Demikian juga para blogger yang berasal dari kalangan tersebut. Anti politik pada satu titik mendorong orang-orang untuk memboikot berita-berita tentang politik. Dan pada titik yang lain memaksa mereka mencari narasi informasi alternatif.

Satu contoh kecil misalnya bisa kita lihat dalam Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu. Ketika pertarungan memperebutkan kursi Jakarta-1 memasuki putaran kedua, masyarakat di sana tidak secara otomatis terbelah menjadi dua kubu. Ada gradasi warna yang muncul dengan kepentingannya masing-masing. Dan ini terekspreksikan juga dalam tulisan beberapa blogger yang menyuarakan golput alias tidak memilih di putaran kedua. Ada juga yang mulai merancang konsep pemberdayaan komunitas tanpa bergantung kepada siapapun gubernur terpilih.

Apa yang terjadi di Jakarta tersebut adalah teropong untuk melihat eksistensi blogger di tahun ini, bahkan sampai tahun depan. Agar bisa memantapkan posisinya sebagai “oposisi informasi arus utama” ada catatan penting yang mesti diperhatikan. Integrasi ke dalam berbagai media sosial mesti dilakukan dengan tekun. Integrasi ini membuat informasi yang ditampilkan bisa sampai ke berbagai ceruk yang disasar. Selain itu, blogger sudah semestinya menjadikan blognya sebagai – meminjam istilah Bill Kovach dan Tom Rosensteil dalam buku terbarunya, Blur – smart aggregator.

Artinya, blogger tidak hanya menampilkan narasi informasi alternatif dari dirinya sendiri tetapi juga mengarahkan masyarakat untuk mengakses berbagai situs berkualitas yang mencerahkan dan bisa diandalkan. Dengan mengarahkan kepada situs-situs tersebut, blogger telah menjalankan fungsinya untuk menemani masyarakat dalam melakukan diet informasi. Bukankah ini bekal berharga yang kita perlukan dalam menghadapi turbulensi arus informasi menjelang pertempuran di padang Kurusetra?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s