Danau Asin Dahlan

IMG-20130107-00323

Setelah kematian Narcissus, danau itu kehilangan kesegarannya. Ia berubah menjadi danau air mata yang asin. Dewi-dewi hutan yang penasaran dengan perubahan itu segera menuju danau dan bertanya kepadanya. “Mengapa engkau menangis?” tanya dewi-dewi itu. Danau terdiam beberapa saat lantas berkata : “Aku menangisi Narcissus, bukan karena ia begitu indah. Aku menangis karena, setiap ia berlutut di dekat tepianku, aku bisa melihat, di kedalaman matanya, pantulan keindahanku sendiri.”

Cerita tersebut saya temukan dalam prolog Sang Alkemis karangan Paulo Coelho (2000). Kisah ini memang sedikit keluar dari pakem arus utama. Biasanya cerita tentang Narcissus berhenti tepat setelah sosok ini tenggelam ke dalam danau setelah berhari-hari memandang bayangan wajahnya sendiri ke dalam air. Sementara Coelho melanjutkannya dengan mengambil sudut pandang danau yang menjadi asin setelah kehilangan kesegaran yang ia lihat dari sendirinya sendiri melalui sosok Narcissus.

Entah kenapa, setiap membaca dan mendengar berita-berita tentang sosok Dahlan Iskan – teranyar tentu tentang kecelakaan yang ia alami saat mengendarai Ferrari – saya lantas teringat kisah Narcissus versi Coelho ini. Pada awalnya, saya membayangkan sosok Dahlan sebagai danau yang menawarkan kesegaran. Pembawaannya yang cair memecah kebekuan dan kekakuan khas politisi dan birokrat.

Di tengah hiruk pikuk politik tanpa negarawan, sosok langka macam ini jelas menawarkan harapan. Ia menerobos sekat-sekat politik yang selama ini muncul. Harapan ini juga yang membuat saya sinis tentang cerita beberapa senior yang pernah kerja di koran milik Dahlan. Konon gaji yang mereka terima tidak manusiawi dan seimbang sesuai beban kerja. Antara percaya dan tidak percaya, yang saya yakini, kemunculan tokoh alternatif selayaknya kita dukung.

Kesederhanaan yang ia tampilkan – naik ojek ke Istana Bogor, menggunakan sepatu kets ketika dilantik menjadi menteri, jalan kaki ke kementerian ESDM, keluar kota menggunakan kereta api, menyimpan botol air minum dalam pakaiannya, enggan memakai dasi, jas, dan baju safari, dan sebagainya dan seterusnya – adalah hal yang cukup langka di tengah gegap-gempita kemewahan yang ditampilkan para pejabat.

Namun, semakin hari, semakin ke sini, setelah membaca berita demi berita, saya justru menjadi yakin bahwa keyakinan saya itu salah. Berita-berita yang menampilkan Dahlan dengan segala tetek bengeknya telah menjadi gelembung politik (bubble politics). Citra Dahlan membesar dengan tidak wajar. Citra yang pada satu titik membuat eneg.

Simak deretan berita tentang Dahlan yang melakukan ruwatan untuk Ferrarinya, membersihkan toilet bandara, aksi koboi di jalan tol, naik becak, mandi di stasiun kereta api, duduk di atas meja, dan ratusan aksi nyentrik lainnya. Juga dengan kesembronoannya menyebut anggota DPR sebagai pemeras yang tidak terbukti. Hampir sebagian besar berita tentang sosok ini menjadi berita yang paling digemari di berbagai portal berita. Popularitas ini seringkali digunakan sebagai alasan bagi portal berita untuk terus memuat berita-berita tentang Dahlan.

Sebuah gelembung yang terus membesar, pada akhirnya akan sampai titik ketika ia tidak mampu menahan tekanan yang menekan dari dalam dan luar, lantas pecah.  Tekanan ini muncul karena ada jarak teramat lebar antara citra dengan kinerja. Pencitraan kesederhanaan secara masif tidak berbanding lurus dengan keberhasilan Dahlan baik ketika menjadi Dirut PLN maupun menteri BUMN saat ini. Semisal gelembung ini dibentuk secara sistematis oleh Dahlan beserta tim di belakangnya, saya kira mereka menggunakan strategi yang salah. Pencitraan memiliki sifat intangible yang mestinya bisa diukur sejauh apa citra itu ingin ditampilkan dan berada di mana posisi sosok tersebut saat ini.

Personal branding yang membabi buta ini merugikan Dahlan sendiri. Mengandaikan bahwa media memiliki kekuatan yang besar dalam membentuk opini publik tentu sah-sah saja. Tapi menjadi sesat pikir ketika menganggap media menjadi faktor tunggal dalam pembentukan opini publik. Terlalu seringnya seorang sosok ditampilkan dalam media tidak membuat masyarakat secara otomatis memberikan simpati kepadanya. “Orang baik” jauh berbeda dengan “orang yang dianggap baik”.

Berita yang overdosis tentang Dahlan, saya kira, menjadi penekan gelembung yang sebentar lagi akan pecah. Simak saja bagaimana di media sosial, hampir setiap hari, umpatan terhadap Dahlan nyaring terdengar. Umpatan itu bahkan muncul dari sahabat yang dulu pernah menjadikan sosok Dahlan sebagai idola. Bisa anda bayangkan, betapa lebay berita Dahlan mandi di stasiun kereta api yang masuk dalam rubrik finance di salah satu portal media besar?

Singkat cerita, Dahlan tidak menawarkan kesegaran lagi. Ia telah berubah menjadi danau asin yang tidak enak untuk disinggahi.

Iklan

3 pemikiran pada “Danau Asin Dahlan

  1. saya suka kalimat “Orang baik” jauh berbeda dengan “orang yang dianggap baik”. Segala pemberitaan tentang Dahlan Iskan sukses membuat saya semakin skeptis tentang sosok pemimpin teladan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s