Buku yang Gagal Memenuhi Janjinya

IMG-20130105-00322

  • Judul Buku    : Jurnalisme Televisi Indonesia
  • Penulis            : Yadi Hendriana, Suryopratomo, dll
  • Penerbit          : Kepustakaan Populer Gramedia
  • Cetakan          : November 2012
  • Tebal               : ix + 214 halaman

Setiap membeli buku yang berisi kumpulan tulisan banyak orang, saya tidak pernah berharap muluk-muluk. Hampir bisa dipastikan buku tersebut tidak diniatkan untuk mengupas satu persoalan dengan detail dan mendalam. Ia lebih menjanjikan kekayaan perspektif dan bibliografi yang bisa digunakan untuk referensi. Dengan niat memperoleh dua hal tersebut saya putuskan membeli buku Jurnalisme Televisi Indonesia ini.

Temanya menarik. Kajian tentang televisi yang selama ini jarang dibahas “serius” dalam kajian-kajian akademik di tanah air. Di subjudul buku ditulis : Tinjauan Luar Dalam. Ada percik pemikiran para pengamat televisi, ada curahan ide para pekerja televisi. Tentu saya membayangkan buku ini akan memantik diskusi lebih lanjut.

Bayangan saya ini pelan-pelan menghilang setiap saya membuka halaman demi halaman. Dimulai dari ketiadaan kata pengantar yang memadai. Tubuh buku ini dibagi menjadi tiga bagian : Pencerah Pers Indonesia, Tinjauan Jurnalisme, Tinjauan Profesionalisme. Kata pengantar sebenarnya bisa memberikan satu konteks yang tepat bagaimana cara membaca tiga bagian tersebut. Ibarat sapu lidi, kata pengantar menjadi pengikat agar lidi-lidi tulisan di sekujur buku tidak berceceran.

Buku ini hanya “diantarkan” kurang lebih setengah halaman oleh editor. Itupun hanya berisi kalimat normatif yang berusaha untuk “menjual” buku ini. Misalnya saja terlihat dalam kalimat “sangat beragam, kaya perspektif, dan visioner”. Tidak adanya kata pengantar ini jujur membuat saya sulit menangkap maksud pembagian struktur buku. Struktur yang tumpang tindih. Dan bau tergesa-gesa dalam pembuatan buku ini pekat terasa.

Saya kira ia tidak dipersiapkan dengan serius dan lebih mengandalkan sebanyak-banyaknya penulis, alih-alih memunculkan perspektif baru. Dalam satu tulisan Refly Harun yang berjudul IJTI : Memilih Jalan yang Memang Harus Dipilih di halaman 18 misalnya, Refly mengaku “i know nothing tentang IJTI”. Ketidaktahuan itu memang terlihat dari tulisannya yang hanya empat halaman. Kalaupun tulisan ini dihilangkan, tidak akan berarti apa-apa karena ia beririsan dengan tulisan Andi Mallarangeng yang menulis lebih detail.

Tumpang tindih selanjutnya muncul di bagian tinjauan jurnalisme dan profesionalisme. Asumsi saya tentu dua hal ini akan memberikan gagasan yang berbeda. Tinjauan jurnalisme memotret televisi dari luar dengan analisis atas berbagai kecendurungan tayangan televisi kontemporer. Dan tinjauan profesionalisme melihat aktivitas-aktivitas jurnalistik televisi dari dalam dirinya sendiri. Ternyata tidak.

Tulisan Yadi Hendriana berjudul Infotainment : Fakta atau Rekayasa yang dimasukkan dalam bagian tinjauan jurnalisme pada awalnya mempertanyakan apakah infotainment layak disebut sebagai karya jurnalistik atau tidak. Sayangnya, ia tidak mengeksplorasi pertanyaan tersebut dan berhenti pada satu kesimpulan:

“Sekarang persoalan infotainment adalah persoalan bersama, bukan terletak pada perdebatan produk jurnalistik atau bukan. Apalagi, mau tidak mau, program ini sudah menjadi program favorit pemirsa dan laku di industri televisi”.

Kesimpulan tersebut tentu membuatnya lebih layak dimasukkan dalam tinjauan profesionalisme. Terutama tentang bagaimana seorang pelaku industri televisi memaknai infotainment dari dalam. Misleading seperti ini juga terbaca dengan jelas dalam tulisan-tulisan lain.

Yang paling mengganggu dari buku ini selanjutnya, betapa banyaknya typo di sekujur buku. Kita akan menemukan kata-kata seperti “jurlistik”, “juralisme”, “nmengandung”, “mempimpin”, “kasadaran”, “tafakaur”, “diisitilahkan”, “kebebesan”, “degan”, “krsis”, “ekternal”, “devinisi”, “katagori”, “pukan” dan masih banyak kata lain yang melelahkan jika saya tulis semua. Kemalasan editor buku yang diterbitkan penerbit sebesar ini tentu mengherankan.

Tidak semua tulisan dalam buku ini “jelek”. Ada beberapa tulisan yang cukup mencerahkan dan saya kira bisa menjadi masukan berharga bagi pelaku industri televisi. Misalnya saja Liputan Dokumenter tulisan Ivan Haris Prikurnia, dan Reportase Investigasi tulisan Yadi Hendriana. Tapi, sebagai sebuah buku, jelas buku ini telah gagal memenuhi janjinya. Demikian.

Iklan

Satu pemikiran pada “Buku yang Gagal Memenuhi Janjinya

  1. Kemarin malam Mas Wisnu mention nama saya di TL. begini cuitnya: “Catatan pendek ttg buku Jurnalisme Televisi Indonesia ini dipersembahkan utk @che_udin yg tdk tega meresensinya > http://bit.ly/1034TeA

    Ini tanggapan saya isi buku ini,

    Kritik tanpa Otokritik

    Tulisan-tulisan di buku ini banyak melontarkan kritik atas praktik jurnalisme televisi di Indonesia. Bekti Nugroho, Sekretaris Jenderal IJTI, mengutip pernyataan yang menurutnya sering dilontarkan beberapa anggota Dewan Pers, “Pimred tidak pernah takut dengan bupati atau walikota, gubernur, kapolda, pangdam, kapolri, panglima TNI, menteri, bahkan presiden. Semua dikritik habis-habisan. Satu-satunya yang ia ditakuti hanyalah pemilik media…” (hlm. 38). Semacam aforisme ini diungkapkannya untuk menggambarkan tekanan dari dalam yang mengintervensi kerja redaksi.

    Sebagaimana diungkapkan Rizal Mustary, Ketua Bidang Litbang dan Diklat IJTI, penelitiannya pada 2009 menemukan dua stasiun televisi terbukti digunakan oleh para pemiliknya untuk kepentingan politik dan bisnis. Terbentuk juga barisan jurnalis yang bekerja pada kedua stasiun televisi itu yang “bersedia” mengabaikan nilai dan prinsip-prinsip kebebasan pers (hlm. 128). Hasil ini dijadikan konfirmasi atas studi studi Robert W. McChesney (2000) Rich Media Poor Democracy: Political Communcation in Dubious Times yang mengungkapkan “bahwa media massa global telah dikontrol oleh korporasi dan, karena itu, mengaburkan makna kebebasan pers…” (hlm. 127).

    Selain independensi, penonjolan unsur dramatisasi siaran berita demi rating dan share juga menjadi sorotan. Heru Hendratmoko, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) 2005–2008 dan Pemimpin Redaksi HBR68H narasikan jurnalis yang menanyakan perasaan kepada korban musibah yang masih saja terulang. “Bagaimana persaan bapak/ibu atas peristiwa ini?” Sebuah pertanyaan konyol.

    “Jurnalisme Rasa Infotainment”, begitu Herwan Wijaya, wartawan senior, menyebut berita yang penuh dramatisasi. Infotainment yang pernah menjadi primadona televisi di akhir ‘90-an kini diadopsi gayanya dalam penyiaran berita. Lagu Untuk Kita Renungkan karya Ebiet G. Ade di setiap bencana, Galang Rambu Anarki-nya Iwan Fals untuk tiap kenaikan BBM, gambar mayat bergelimpangan mengenaskan tanpa pengaburan, penyerbuan teroris oleh pasukan keamanan. “Itu semua adalah jiwa infotainment yang sudah bermetamorfosis ke dalam tayangan berita” (hlm. 104).

    Pengaruh infotainment terhadap tayangan berita ini dalam studi media bisa digolongkan dalam fenomena tabloidisasi. Yakni, isi media yang menonjolkan sensasional untuk mendapatkan sebanyak mungkin audience dan iklan. Misi jurnalisme pun ditindih dengan orientasi profit.
    Sayangnya, semua tulisan yang mengemukakan kritik atas kualitas tayangan tersebut tidak memaparkan peran IJTI secara faktual dalam mengontrol permasalahan-permasalahan tersebut selama ini. Bahwa IJTI punya peran strategis di sana iya, bahwa IJTI merupakan organisasi yang penting untuk membangun solidaritas guna menyokong perlindungan terhadap jurnalis sebagaimana dipaparkan Despen Ompusungga, Publisher Matanews.com dalam “Kebebasn Pers dan Perlidungan Wartawan” (hlm. 48–53), iya. Tetapi bagaimana IJTI selama ini mewujudkannya tetap menjadi pertanyaan.

    Terhadap semua permasalahan tersebut, IJTI dijadikan harapan bisa mengawalnya ke depan. Seolah-olah IJTI adalah organisasi yang baru lahir. Saya pun harus menggarisbawahi kalimat Nugroho F. Yudho, Jurnalis Kompas, “IJTI kini sudah berusia 12 tahun. Tiga kali kongres sudah digelar…Tapi, tidak banyak yang berubah dalam kematangan sikap dan kedewasaan berpikir pengurus dan anggotanya…” (hlm. 29).

    Ini bukan psimisme, tetapi harapan besar saya sebagai pemirsa televisi yang mempunyai keresahan serupa dengan kritik-kritik terhadap praktik jurnalisme televisi yang dipaparkan tersebut, terhadap peran penting IJTI. Senada dengan buku ini, saya pun hanya bisa berharap buku ini akan benar-benar menjadi pembuka pembicaraan di kalangan jurnalis televisi tentang kekonyolan yang mereka lakukan di tengah desakan arus komersialisme dan ekonomi-politik pemodal media.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s