Setelah Kematian Newsweek…

lasprintissueee

Satu malam di Baghdad, 1993. Setelah seharian melintasi gurun pasir, Christopher Dickey sampai juga di hotel Rashid, salah satu hotel mewah di ibukota Irak. Koresponden Newsweek untuk Timur Tengah ini butuh memanjakan diri sejenak sebelum kembali meliput Perang Teluk II pasca invasi Irak ke Kuwait. Setelah masuk hotel dengan menginjak gambar George Bush yang terpampang dalam keset di pintu depan, ia kecele. Semua kamar sudah penuh dipesan dan terpaksa ia mencari hotel lain.

Yang menegangkan, semua kamar dipesan oleh jihadis dari berbagai belahan dunia. Di hotel Rashid mereka akan mengadakan satu pertemuan anti-Amerika sebagai bentuk solidaritas kepada Irak. Tak disangka, di malam yang sama tentara Amerika Serikat melancarkan peluru kendali yang membabi-buta. Sasaran serangan itu adalah lokasi industri yang dianggap sebagai basis produksi senjata Irak. Salah satu rudal “nyasar” dan meledakkan hotel Rashid.

Tepat dua dekada pasca peristiwa itu, Christopher mengenang, “Saya harus berterima kasih kepada para jihadis, berkat mereka, saya tidak jadi menginap di hotel tersebut”. Bekerja di Newsweek sejak tahun 1986, ia telah meliput berbagai perang yang melibatkan Amerika Serikat di Irak, Afghanistan, Kosovo, sampai Palestina. Christopher juga hadir dalam penghancuran Tembok Berlin tahun 1991 yang menandai bangkrutnya rezim komunis di belahan eropa.

Kenangan salah satu liputannya yang paling menegangkan itu ia tulis dalam “Life on the Front Lines” di edisi cetak terakhir Newsweek yang terbit 31 Desember 2012. Sampai kapanpun, ungkapnya, perang akan terus terjadi, menyingkap kebenaran yang tak mengenakkan, dan menghamburkan bau anyir kematian di udara. Dengan konflik yang akan berlangsung terus menerus, jurnalisme – meski hidup di era digital – tetap harus mengabarkan berita dengan menjaga kualitasnya.

Saya menangkap pesan ini sebagai jaminan – namun juga keresahan – meski Newsweek sepenuhnya masuk ke dalam wilayah digital, kualitas jurnalismenya tetap akan dipertahankan. Kualitas yang membuatnya bersaing ketat dengan Time selama puluhan tahun. Nada semacam ini saya rasakan juga dalam tulisan pemimpin redaksi Newsweek, Tina Brown, yang berjudul “A New Chapter” di edisi yang sama.

Keputusan untuk meninggalkan media cetak, tulis Tina, adalah sebuah kebutuhan. Newsweek pelan-pelan ditinggalkan pembacanya. Tahun 2008 pembaca majalah ini masih mencapai angka 3, 1 juta orang, kemudian merosot menjadi 2, 6 juta, 1, 9 juta orang di 2009 dan pada 2010 “hanya” sekitar 1, 5 juta. Data dari Pew Research Center yang dirujuk Tina mengatakan bahwa 39 % warga Amerika membaca berita lewat internet. Penurunan jumlah pembaca ini tentu berkonsekuensi terhadap merosotnya iklan yang mereka terima. “Di masa depan, semua kompetitor pada akhirnya akan mengikuti jejak kami ini,” katanya.

Kematian cetak Newsweek ini adalah peneguhan tanda-tanda zaman berakhirnya era media cetak. Dalam beberapa tahun terakhir, gejala kematian memang terpampang jelas. Tahun 2009, harian The Rocky Mountain News yang berusia 153 tahun memutuskan mengakhiri edisi cetaknya. Demikian juga dengan The Seattle Post Intelligence yang sudah berusia 146 tahun.

Sedangkan koran kenamaan seperti Chicago Tribune, Washington Post dan New York Times mengadakan penghematan besar-besaran. Asosiasi Surat Kabar Amerika Serikat (2012) menyebutkan bahwa di semester satu 2012, media cetak kehilangan iklan sampai USD 798 juta bila dibandingkan tahun sebelumnya. Gejala ini pun melanda ke Eropa. Di Jerman misalnya, Financial Times Germany dan Frankfurter Rundschau tutup.

Dengan melihat fenomena tersebut, benarkah era kematian media cetak juga akan sampai di Indonesia? Iya. Tapi waktunya tidak akan berlangsung dalam waktu dekat ini. Dalam World Association of Newspapers and News Publishers Conference yang digelar di Bali tahun 2012 lalu, muncul kesimpulan bahwa industri media cetak di Indonesia masih baik-baik saja. Era kematian media cetak di Indonesia masih jauh.

Oplah surat kabar harian maupun majalah tidak mengalami penurunan. Namun, beberapa gambaran berikut perlu diperhatikan. Menurut YLKI, tahun 2012 jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai angkat 55 juta orang. Angka ini naik 30, 9 % dibandingkan 2011. Bandingkan dengan jumlah total oplah surat kabar yang berkisar antara 14- 19 juta eksemplar.

Hitung-hitungan kuantitas tersebut memang bisa jadi mengabaikan berbagai faktor dalam habitat kehidupan media. Misalnya saja seperti argumen “infrastruktur telekomunikasi kita belum merata di seluruh Indonesia” atau “rasanya lebih mantap membaca koran cetak daripada internet” dan seterusnya, dan lain sebagainya. Tentu, berbagai rasionalisasi tadi tidak dapat memungkiri laju gelombang sejarah yang disebut Thomas Friedman dalam bukunya The World is Flat (2005) sudah memasuki era gelombang ketiga.

Hukum besi sejarah berlaku di sini. Potensi untuk “mati” akan datang sewaktu-waktu. Dan mereka yang tidak bersiap-siap akan merasakan kematian yang rumit dan pedih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s