Musim Semi yang Panjang di Suriah

c-musim-semi-di-suriah

  • Judul Buku    : Musim Semi di Suriah
  • Penulis            : Trias Kuncahyono
  • Penerbit          : Penerbit Buku Kompas
  • Cetakan          : 2012
  • Tebal               : xxvi + 286 halaman

Musim semi tiba-tiba hadir di gurun pasir. Otoritarianisme puluhan tahun tidak dapat dipungkiri menjadi faktor utama kehadirannya. Ketika angin musim semi mulai berhembus, ia menggulung tiran di Tunisia, Mesir, Libya, sampai Yaman. Suriah yang berada di dekat negara tersebut pun merasakan imbasnya. Pelan-pelan ia menggerogoti rezim tuna nurani yang tega memberangus kebebasan rakyatnya.

Namun, musim semi di Suriah ternyata berlangsung lebih lama. Sementara transisi menuju demokrasi tengah berlangsung di negara lain, Suriah masih berada dalam peperangan saudara yang tak kunjung usai. Sampai akhir tahun 2012 ini, tepat sudah 20 bulan peperangan terjadi dengan jumlah korban tewas mencapai 20.000 sampai 30.000 jiwa. Buku Trias Kuncahyono ini merekamnya. Dengan gaya khas jurnalis, Trias memetakan awal musim semi, penyebab lamanya waktu revolusi, sampai dilema yang muncul saat ini.

Di Suriah, arogansi rezim sudah berlangsung hampir 40 tahun. Republik ini dijalankan dengan model kerajaan. Tahun 1970, Havez al-Assar melakukan kudeta militer terhadap pemerintah yang terkenal dengan sebutan “Gerakan Koreksionis”. Sejak saat itu, pengelolaan negara dijalankan dengan sistem tangan besi. Rezim militeristik menjadi sumber tunggal kekuasaan. Kebebasan berserikat dibungkam. Rezim dengan represif mengawasi gerak-gerik rakyatnya.

Rezim menanamkan intelijen yang disebut mukhabarat dan bertugas mengawasi rakyatnya. Setiap ada gerak yang mencurigakan langsung ditumpas. Tidak ada kesempatan masyarakat untuk memiliki imajinasi yang berbeda. Rezim ini juga ditandai dengan sikap kerasnya terhadap Amerika Serikat dan Israel serta persahabatan yang erat dengan Uni Soviet, China, dan Iran.

Untuk melanggengkan kekuasaan keluarga, Havez berencana melimpahkan tahta kepada anak tertuanya, Basil. Namun, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Basil meninggal dalam satu kecelakaan. Bashar yang sedang berada dalam masa kuliah s2 di Inggris pun dipanggil pulang untuk mewarisi tahta ayahnya. Ia masuk militer, belajar politik, dan selanjutnya masuk dalam struktur inti partai penguasa di Suriah, Ba’ath. Partai yang pada awalnya merupakan Front Nasional Progresif gabungan beberapa kelompok sosialis.

Sampai akhirnya Havez mangkat, Bashar kemudian menjadi presiden. Sang Dokter Mata menjadi orang nomor satu di Suriah. Angin kebebasan sejenak berhembus karena Bashar dianggap mereformasi total sistem pengelolaan negara yang membusuk selama 30 tahun pemerintahan ayahnya. Bashar pun dianggap akan mendemokratiskan kehidupan di Suriah dengan semangat barat yang ia bawa dari Inggris.

Tak heran jika setelah terpilihnya Bashar, muncul lusinan forum sosial, politik, dan budaya yang mengusung agenda perubahan demokratik dan liberal. Agenda ini sering disebut sebagai Damascus Spring. Bashar memberikan dukungan terhadap forum-forum ini. Sayangnya,  era keterbukaan ini hanya berlangsung sebentar. Fragmentasi kaum reformis terlalu keras sehingga membuat forum semacam ini menjadi destruktif dan tidak mendapatkan dukungan rakyat. Wajar banyak yang mendukung Bashar ketika menutup berbagai forum ini.

Bashar kemudian mulai menjalankan negara dengan otoriter, mirip ayahnya. Semua pos-pos terpenting di pemerintahan diberikan kepada orang-orang dari sukunya, Alawite. Meski merupakan minoritas, suku ini menguasai militer Suriah secara menyeluruh. Dari 200.00 tentara karier di militer, 70 % di antaranya adalah adalah Alawite. Kebebasan yang sempat diberikan kepada rakyat, dicabut. Rezim totaliter kembali berkuasa.

Kekuasaan ini nyaris absolut sampai akhirnya angin musim semi 2011 menyapu dataran gurun pasir. Gelombang revolusi di berbagai negara telah memantik rakyat Suriah untuk melakukan hal yang sama. Uniknya, aksi anti rezim mulanya tidak berlangsung di ibukota seperti yang terjadi Mesir ataupun Tunisia. Aksi melawan rezim ini justru pertama kali dilakukan anak-anak sekolah di kota kecil sebelah barat-daya Suriah, Deraa.

Aksinya pun sederhana, sekitar 15 anak-anak sekolah di Deera menulis slogan revolusi di dinding sekolah. Tulisannya As-shaab yoreed eskaat el nizam! Rakyat ingin menumbangkan rezim! Sebagai negara totaliter yang mengawasi rakyatnya sampai hal yang terkecil, tentu hal ini tidak lepas dari amatan rezim. Pihak intelijen mukhabarat menangkap 15 anak-anak itu dan menyiksanya. Peristiwa ini terjadi 6 Maret 2011.

Tentu saja, penangkapan dan penyiksaan ini menjadi korek api yang memantik kemarahan warga. Setelah itu, aksi-aksi demonstrasi berlangsung di berbagai kota. Salah satunya di kota Homs pada 18 Maret 2011 yang disebut sebagai Days of Dignity. Demonstran menuntut pembebasan 15 anak tadi. Demonstrasi ini merupakan aksi pertama yang menelan korban jiwa. Empat orang tewas ditembak aparat keamanan.

Eskalasi konflik membesar dengan tuntutan rakyat yang menuntut Bashar beserta rezim pemerintahannya untuk mundur. Konflik sampai saat ini bahkan sudah berada pada tahap pemecahan secara diametral. Rakyat Suriah terbagi menjadi dua. Sementara perlawanan pihak oposisi membesar, sikap Bashar pun semakin keras untuk menumpas mereka.

Kondisi ini terjadi karena suku Alawite yang minoritas telah puluhan tahun menindas mayoritas. Mayoritas oposisi yang digerakkan kaum Sunni tentu memendam sakit hati yang luar biasa. Kekhawatiran yang muncul adalah jika suku Alawite jatuh, Sunni yang mayoritas akan melakukan pembalasan dendam.

Dukungan Rusia, China, dan Iran terhadap pemerintahan Bashar semakin membuat revolusi tersendat. Amerika Serikat yang dalam revolusi Mesir dan Libya begitu tegas memperlihatkan posisi, dalam konflik di Suriah terlihat ragu-ragu.

Menurut saya, pemetaan revolusi Suriah yang renyah membuat buku ini menarik, meski sedikit menipu. Dalam judul di sampul muka buku tertulis “Anak-anak Sekolah Penyulut Revolusi”. Dalam bayangan saya dalam buku ini akan berisi tentang pembahasan bagaimana anak-anak itu mampu menyulut revolusi. Ternyata tidak.

Kisah tentang anak-anak sekolah ini hanya sekilas saja. Bahkan tidak dijelaskan nama sekolah anak-anak tersebut. Hal lain yang mengganggu adalah typo di sekujur isi buku. Saya menemui kata-kata yang tertulis salah atau tidak baku seperti “ menaytakan”, “patronage”, “didraf”, “ekstrajudial”, “armosfir”, dan “pensuplai”. Cukup mengherankan untuk penerbit sekelas Kompas.

Nah, terlepas dari catatam tersebut, buku ini menjadi pengantar yang menarik untuk masuk ke dalam medan konflik Suriah. Ia kaya data dan referensi khas jurnalis ketika menulis. Demikian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s