Ketika Semar Menggugat

IMG-20121221-00276

Dalam seminggu ini di UGM, setidaknya digelar dua kali pertunjukkan wayang. Sekali di Gedung Pusat (15/12), dan di FIB (21/12). Lakon yang dimainkan sama persis, “Semar Gugat”. Sebagai orang yang percaya bahwa wayang adalah salah satu bentuk praktek penjelasan alam semesta, saya merasa dua pertunjukkan lakon yang sama ini tidak ditampilkan secara kebetulan.

Ia lebih menunjukkan ekspresi kegelisahan kampus atas karut-marut yang terjadi di republik ini. Kegelisahan yang menuntut sang resi, orang suci, untuk turun gunung dan masuk ke gelanggang perang. Semar, dalam tradisi wayang di Jawa digambarkan dengan fisiknya yang tambun, pantat besar, dan memiliki kebiasaan suka kentut. Tentu, tampilan fisik ini tidak secara otomatis berkonotasi dengan berbagai keburukan.

Semar justru menjadi mata air kebijaksanaan. Ia menuntun rakyat wayang menemukan makna dalam setiap episode kehidupan. Semar memiliki tugas untuk mewujudkan kebahagiaan dan ketentraman di muka bumi (memayu hayuning bawana). Ia ada dan tiada. Karena itu, ketika bumi sedang gonjang-ganjing dengan berbagai malapetaka yang diakibatkan manusia, Semar hadir sebagai pengingat. Ia menggugat sistem yang amburadul dan tidak humanis.

Ia protes kepada pemimpin yang tidak amanah. Dalam salah satu versi lakon Semar Gugat, digambarkan bahwa elite penguasa (Batara Guru dan istrinya , Batara Durga) berlaku sewenang-wenang dan tidak menjalankan tugas untuk mengatur harmoni dalam kehidupan rakyatnya. Sosok yang seharusnya menjadi panutan justru melanggar aturan.Padahal kondisi Astina sedang terpuruk dengan bencana dan kemiskinan yang melanda.

Tak perlu menggunakan berbagai perangkat teori untuk mengatakan bahwa apa yang melanda Astina tersebut sama persis dengan Indonesia saat ini. Demokrasi belum mampu membawa republik meniti jembatan kemerdekaan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Elite politik sibuk dengan tetek bengek kepentingannya sendiri. Presiden lebih tangkas menangkal berita-berita yang menyerang citranya dibandingkan isu yang menyakiti rakyat. Ia menangis ketika menonton film padahal di saat yang bersamaan ada TKI yang menunggu dipancung, jauh dari tanah airnya.

Sementara korupsi telah menjadi budaya. Saking lekatnya, mereka yang tidak korup akan dianggap abnormal. Jaman edan, ora ngedan ora keduman. Bongkahan krisis telah mengikis kemanusiaan. Dan rakyat tenggelam dalam kemiskinan, kesengsaraan, seolah hal itu menjadi sebuah kewajaran. Negeri autopilot, entah akan dibawa ke mana bangsa ini ke depan.

Wayang, seperti dituturkan Ben Anderson dalam bukunya Mitologi dan Toleransi Orang Jawa (2003), memiliki relasi yang erat dengan pranata sosial tertentu di Indonesia. Karena itu, dengan lakon Semar Gugat itu, saya berharap kampus benar-benar sedang melakukan sebuah gugatan. Gugatan kepada pemimpin yang abai. Gugatan yang diwujudkan dalam bentuk solusi nyata terhadap kegalauan identitas yang saat ini melanda. Semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s