Kisah Orang-orang di Sekeliling Presiden

 

  • Judul              : All The President’s Men
  • Pengarang      : Bob Woodward dan Carl Bernstein
  • Penerbit          : Serambi Ilmu Semesta
  • Tebal               : 526 halaman
  • Cetakan          : Juni 2012

Dalam setiap pembahasan mengenai jurnalisme investigasi, skandal Watergate memiliki tempat yang “terhormat”. Skandal politik terbesar dalam sejarah Amerika Serikat ini menjadi bukti nyata bagaimana kemauan, kesabaran, dan keberanian jurnalis mampu menghasilkan berita yang fenomenal. Efek pemberitaannya mampu membuat sang presiden negeri adidaya mengundurkan diri. Buku ini, merekam kegigihan tersebut.

Buku yang pertama kali terbit pada tahun 1974 ini, adalah kompilasi utuh dari laporan pemberitaan Watergate yang ditulis Carl Bernstein dan Bob Woodward di suratkabar The Washington Post. Laporan yang bermula dari pemberitaan mengenai pembobolan kantor Partai Demokrat di kawasan perkantoran Watergate. Kedua jurnalis berhasil menemukan fakta bahwa di antara lima tersangka pembobolan terdapat bekas agen CIA dan petugas keamanan presiden.

Setelah itu, insting jurnalis membawa keduanya untuk menyelidik skandal ini lebih jauh. Dari berita pembobolan mereka masuk jauh ke dalam pusaran kekuasaan Gedung Putih. Kerja-kerja jurnalistik dilakukan dengan tekun dari mulai mewawancarai puluhan orang sampai melakukan riset mendalam. Bernstein dan Woodward berhasil mendapatkan narasumber kakap yang memiliki banyak informasi rahasia.

Narasumber anonim tersebut sering dipanggil sebagai Deep Throat. Dengan meminta kepada kedua wartawan tersebut agar “mengikuti arah uang”, Deep Throat memberikan banyak petunjuk yang membuktikan bahwa pembobolan kantor Partai Demokrat tersebut adalah bagian terencana dan spionase politik untuk memenangkan kembali Richard Nixon dalam pemilihan presiden.

Demi keamanan, nama asli sang narasumber memang tidak pernah dipublikasikan. Dengan memegang kukuh kode etik jurnalistik, Bernstein dan Woodward tidak pernah membocorkan siapa sebenarnya sang narasumber. Belakangan baru pada tahun 2005 (31 tahun setelah kasus ini terungkap), sosok Deep Throat ini terungkap. Ia adalah Mark Felt, wakil direktur FBI saat kasus Watergate ini berkembang.

Dari petunjuk Deep Throat dan hasil investigasi Bernstein dan Woodward yang ditindaklanjuti oleh pengadilan, 69 pegawai pemerintah didakwa menyalahgunakan kekuasaan dengan 48 di antaranya dinyatakan bersalah. Sedangkan 7 orang terdekat presiden termasuk jaksa agung dan kepala staf Gedung Putih dinyatakan sebagai tersangka kasus Watergate. Puncaknya tentu keputusan Nixon untuk mengundurkan diri dari kursi kepresidenan, 2 tahun setelah Watergate bermula.

Perjalanan kasus ini waktu tidak hanya menyita perhatian masyarakat Amerika tetapi juga dunia. Apalagi, kasus ini secara langsung menelanjangi sisi gelap politik kekuasaan di negeri Paman Sam. The Washington Post yang terus melaporkan berita ini dengan rutin, bahkan dituduh sebagai corong oposisi pemerintahan Partai Republik yang sedang berkuasa.

Besarnya skala isu yang melibatkan kekuasaan di Amerika menjadikan buku ini layak disebut sebagai referensi utama bagi kelindan antara praktik jurnalisme, politik, dan hukum. Ketika politik dan hukum bersekutu menutupi kebenaran, jurnalisme menjadi alat untuk menjebolnya.

Persekutuan gelap tersebut adalah hal yang tidak asing di Indonesia. Kita bisa melihat bagaimana banyak skandal korupsi yang melibatkan kekuasaan tidak pernah terungkap dengan jelas. Di antaranya tentu skandal Bank Century yang saat ini diselimuti tabir gelap dan tidak jelas di mana ujungnya. Dengan kondisi yang demikian, wartawan menjadi harapan untuk menemukan fakta-fakta yang sebenarnya.

Laku jurnalisme, memang tidak akan bisa menemukan kebenaran yang mutlak. Namun setidaknya ia bisa digunakan untuk menggedor pintu kebenaran. Kasus Watergate adalah contoh nyata. Syaratnya, laku ini butuh ketekunan, keberanian, dan kesabaran yang luar biasa dari seorang jurnalis dan media massa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s