Menemukan Politik Otentik

  • Judul               : Politik Otentik : Manusia dan Kebebasan dalam Pemikiran Hannah Arendt
  • Penulis            : Agus Sudibyo
  • Penerbit         : Marjin Kiri
  • Tebal               : xxvi + 240 halaman
  • Cetakan          : Agustus 2012

Narasi politik di Indonesia kontemporer merekam reduksi besar-besaran proses politik sebagai perkara kuasa-menguasai belaka. Negara dipahami sebagai entitas politik yang memiliki otoritas penuh untuk menekan warganya dengan mengatasnamakan kepentingan bersama. Paket aturan seperti Rancangan Undang-Undang Pers, RUU Kerahasiaan Negara, UU Pornografi, dan aturan lainnya memperlihatkan kecenderungan reorganisasi kekuatan birokrasi dalam menegakkan dominasi negara atas ruang publik.

Upaya rebirokratisasi ini menunjukkan bahwa perspektif antara pemerintah terhadap warganya adalah penguasaan dan pengendalian, bukan pelayanan. Tingkah laku busuk elite politik di partai politik, DPR, dan pemerintahan semakin menegaskan betapa wajah politik saat ini anti demokrasi dan tidak berpihak kepada masyarakat.

Dengan konteks demikian, kehadiran buku Agus Sudibyo ini menjadi ikhtiar untuk menemukan kembali wajah politik yang otentik. Ia mengurai lapis demi lapis pemikiran Hannah Arendt untuk memahami bagaimana politik otentik sebenarnya. Arendt adalah filsuf asal Jerman abad 20 yang pemikirannya berpengaruh besar terhadap teori-teori politik kontemporer. Salah seorang dari sedikit filsuf perempuan yang menempati posisi penting dalam sejarah.

Dalam buku ini, Agus dengan tekun menembus belantara pemikiran Arendt dari beberapa karya utamanya seperti The Human Condition (1959), On Revolution (1978), The Life of The Mind (1978), dan The Promise of Politics (2005). Tema-tema dalam karya tersebut merentang dari isu totalitarianisme, imperialisme, ruang publik, sampai dengan isu gender.

Melalui karya-karya tersebut, Arendt memahami politik sebagai mekanisme untuk membebaskan manusia dari belenggu penindasan struktural dan kultural. Mekanisme politik berupa penguasaan, pemaksaan, dan kekerasan justru mencerminkan antitesis politik otentik. Karena itu untuk menemukan politik otentik, antitesis-antitesis tersebut harus dihilangkan.

Politik harus bersifat deliberatif (halaman 4). Untuk itu, harus dibuat garis demarkasi yang tegas antara ruang privat dan ruang publik. “Yang privat” jangan sampai bercampur dengan “yang publik”. Artinya, perumusan kebijakan publik tidak seharusnya menggunakan logika ruang privat. Misalnya saja norma-norma berkeluarga yang digunakan untuk mengatur kehidupan bersama. Indonesia di era rezim politik Orde Baru adalah contoh sempurna untuk melihat bagaimana sebuah bangsa dikelola layaknya sebuah keluarga besar.

Pembatasan ruang privat dan ruang publik secara tegas berfungsi untuk menumbuhkan habitat kehidupan yang pluralistik. Ketika individu-individu memiliki kebebasan untuk melakukan tindakan politik, persoalan bersama bisa dipecahkan dengan perjumpaan ide dan argumentasi tanpa paksaan.  Meski terdengar utopis, Arendt telah membuka jalan agar politik bermanfaat untuk keutamaan publik (civic virtue) (halaman 216).

Pemikiran Arendt ini, akan relevan untuk melihat kondisi di Indonesia jika kita mampu mengaitkannya dengan konteks kelahiran karya-karya Arendt. Ya, karya-karya Arendt lahir di tengah situasi chaos politik yang luar biasa. Ia adalah korban kekejaman pasukan Nazi yang beruntung bisa menyelamatkan diri dan bermigrasi ke Amerika. Tak heran jika ia selalu menggunakan perspektif sebagai korban dalam tulisan-tulisannya.

Situasi politik di Indonesia saat ini, memang tidak bisa dikatakan dalam kondisi yang luar biasa. Meskipun juga tidak dapat dikatakan dalam kondisi biasa-biasa saja. Kebusukan praktik politik telah dianggap sebagai business as usual.Karena itu wajah politik yang bopeng-bopeng diterima apa adanya. Para aktor politik bertingkah tanpa ideologi dan keberpihakan kepada masyarakat.

Nah, seperti diungkapkan F. Budi Hardiman, cakrawala pemikiran Hannah Arendt yang dihadirkan buku ini setidaknya membuka ruang diskursif untuk menemukan wajah politik otentik di Indonesia. Politik yang berprinsip pada kebersamaan dengan meninggalkan tendensi-tendensi antipolitik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s