Tragedi Tempe

Sejarah tempe dalam masyarakat nusantara adalah sejarah tentang luapan tragedi, intrik politik, dan kegalauan identitas. Kisah tempe yang centang perenang menjadi modal historis untuk melihat ironi kekinian. Tempe lenyap dari pasaran, produsen tempe mogok kerja, masyarakat yang kehilangan makanan kesukaan, sampai isu nasionalisme dalam bentuk swasembada kedelai. Tempe tidak diberi penghargaan yang cukup sesuai cita rasa maupun kandungan gizinya, enak, gurih, dan kaya protein. Filosofi yang melekat di dalamnya diabaikan.

Tempe, adalah makanan yang terbentuk dari biji-biji kedelai yang ditaburi ragi. Peragian kemudian membentuk benang-benang hifa yang menyatukan ratusan biji. Persatuan biji-biji kedelai tersebut yang pada tahap selanjutnya disebut sebagai tempe. Proses pembuatan tempe menjadi filosofi terbentuknya komunitas terbayang di nusantara. Kerja-kerja politik ratusan tahun merupakan proses peragian sosial (social fermentation) yang menyatukan manusia-manusia nusantara.

Namun cara tradisional pembuatan tempe seolah menjadi ramalan atas nasibnya sendiri. Sejak awal keberadaannya, ia diinjak terus menerus. Tempe adalah makanan yang lahir di Jawa dengan tragedi. Menurut Ong Hok Ham (2000), masyarakat Jawa di awal abad 19 adalah masyarakat yang banyak memanfaatkan bahan makanan hewani sebagai sumber makanannya. Budaya ini berganti seiring dengan meluasnya perkebunan kolonial dan sistem tanam paksa yang memaksa warga menjadi kulinya.

Sistem tanam paksa membuat warga tidak memiliki kesempatan mendapatkan hewan baik dengan berburu, beternak, maupun memancing. Secara otomatis bahan makanan dialihkan kepada tempe yang berbahan baku kedelai dan lebih mudah ditanam.

Tempe menjadi saksi kekejaman rezim politik kolonial Belanda terhadap penduduk pribumi. Soekarno, barangkali terinspirasi dari kenyataan sejarah tersebut ketika mengatakan bahwa Indonesia tidak boleh menjadi bangsa tempe.

Seperti dituturkan kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (1965), Soekarno mengatakan “tempe adalah sejenis makanan lunak dan murah terbuat dari kacang kedelai yang diberi ragi. Negeri tempe berarti negeri yang lemah. Seperti itulah kami jadinya.” Bukankah pernyataan ini menjadi ironis karena diungkapkan seorang penggemar tempe?

Tragedi tempe semakin dikukuhkan dalam narasi teks-teks sastra tanah air. Tempe menjadi sahabat erat dari episode-episode tragik kisah hidup anak manusia. Kehadirannya menandai pencarian jatidiri, kemandegan sebuah peradaban, dan ketegaran hidup.

Serat Centhini (1805) menarasikan bahwa jae santen tempe (tempe yang dicampur dengan santan) dan kadhele tempe srundengan disajikan kepada Cebolang ketika ia singgah di daerah kekuasan Pangeran Tembayat. Cebolan adalah anak muda yang minggat dari desanya karena merasa terlalu banyak melakukan kesalahan. Untuk itu, ia melakukan perjalanan dengan harapan bisa menemukan jatidirinya yang sejati.

Dalam Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (1985) tempe menjadi pageblug bagi dukuh Paruk. Racun yang terdapat dalam tempe bongkrek telah membunuh sebagian warga. Malapetaka semakin membenamkan padukuhan ke dalam jurang kemiskinan, kebodohan, dan penderitaan. Apalagi setelah kematian sang ronggeng yang menjadi simbol kehidupan di dukuh Paruk.

Sementara Santayib, tidak percaya bahwa tempe bongkreknya yang membunuh sang ronggeng. Ia memakan tempe buatannya sendiri. Sebagai bentuk solidaritas, istrinya juga ikut makan. Nahas, keduanya tewas. Pembuat tempe mati karena tempe buatannya sendiri. Sejak saat itu kemarau panjang menghinggapi sendi-sendi kehidupan masyarakat Dukuh Paruk. Tempe memiliki peran besar dalam menciptakan kegersangan tersebut.

Tidak hanya menciptakan kegersangan, tempe juga menjadi saksi penderitaan dan ketegaran dalam menghadapainya. Umar Kayam dalam karyanya Sang Priyayi (1992)menceritakan hal ini dengan apik. Dikisahkan, Ngadiyem adalah penjual tempe yang harus membesarkan anak seorang diri karena ditinggal pergi laki-laki yang menghamilinya. Setiap hari Ngadiyem bangun selepas subuh untuk menyiapkan tempe dan kemudian sampai menjelang magrib menjajakannya di kota.

Setiap hari itu pula ia bersama Lantip, anaknya, harus jalan kaki puluhan kilometer. Sesampai di rumah, “mukanya kelihatan hitam terbakar, keringat berlelehan, dan rambutnya bosah-basih ke mana-mana.” Dengan keuntungan penjualan tempe yang tak seberapa, Ngadiyem selalu menyisihkan barang satu-dua sen untuk membelikan anaknya mainan. Tapi terkadang ketika penjualan seret, ia harus marah-marah ke anaknya yang minta es di tengah jalan karena kehausan.

Kisah Ngadiyem adalah potret para penjual dan produsen tempe saat ini, terjepit dari berbagai sisi. Saat ini semakin sedikit petani yang mau menanam kedelai karena keuntungannya sedikit. Dengan jumlahnya yang terbatas, harga penjualan tempe harus dinaikkan. Tapi ini jelas akan ditentang konsumen. Jika harga dibiarkan tetap, kerugian adalah resiko yang harus dihadapi. Dan pemerintah seperti biasa tidak mengeluarkan kebijakan yang melindungi penjual tempe.

Nubuat dari cara tradisional pembuatan tempe kembali terbukti. Tempe terus-menerus diinjak. Narasi sejarah dan teks-teks sastra mengukuhkan betapa dekatnya tempe dengan tragedi. Tidak perlu diratapi jika sebentar lagi makanan asli nusantara ini menghilang dari peradaban kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s