Meneladani Kebodohan Pak Bei

  • Judul              : Pak Bei Sok Tahu
  • Pengarang      : Masdi
  • Penerbit          : Kepustakaan Populer Gramedia
  • Tebal               : xii + 88 halaman
  • Cetakan          : Juni 2012

Bagi mereka yang dulu rutin mengikuti koran Suara Merdeka khususnya hari minggu, tentu tidak asing dengan sosok Pak Bei. Hampir setiap minggu ia hadir dengan segenap tingkah polah dan kebodohan-kebodohannya. Anehnya, sosok yang satu ini selalu bisa membuat pembaca tertawa, atau minimal tersenyum. Pun setelah hampir satu windu ia tidak hadir, sosoknya dirindukan. Kebodohannya ditertawakan tapi kehadirannya dinantikan.

Komik Pak Bei yang hadir di koran ini dari 1986 sampai 2004 ini sebenarnya klise. Namun justru hal ini yang membuatnya menarik. Seperti diakui Masdi, pengrawit Pak Bei, humor di dalamnya menggunakan nasib sial sebagai sumber kesenangan dan kebahagiaan. Dalam kalimat lain, kemiskinan, kebodohan, sampai kecelakaan yang menimpa orang lain adalah hal yang selayaknya disyukuri. Pesan (atau sindiran?) inilah yang kita lihat dalam setiap komik Pak Bei. Tidak terkecuali dengan buku yang berisi kumpulan komik Pak Bei dalam format portrait/vertikal ini.

Nasib sial dalam bentuk kemiskinan misalnya bisa kita lihat dalam salah satu episode. Pak Bei mendapat pinjaman motor dari kantor. Namun karena harga bensin yang naik sementara gaji tetap, Pak Bei tidak sanggup memakainya lagi dan mengembalikan motor tersebut. Atasannya menjanjikan akan mengganti motor tersebut dengan kendaraan yang tidak menjadikan bensin sebagai masalah. Tentu saja Pak Bei senang. Namun betapa kagetnya dia ketika motor tersebut kemudian diganti dengan sepeda onthel! (halaman 32). Kemiskinan ekonomi yang dialami Pak Bei bisa menjelma alasan bagi pembaca untuk menertawakannya.

Sementara dalam lain episode, kebodohan menjadi amunisi kebahagiaan pembaca.  Pak Bei sedang berada di bazar pakaian murah. Si penjual mengingatkan para calon pembeli untuk meneliti pakaian terlebih dahulu karena banyak yang sobek dan berlubang. Setelah memilih, Pak Bei membeli sebuah celana. Sampai di rumah ia mencobanya. Memang tidak ada yang robek atau sobek, tapi, celananya kekecilan! (halaman 15).

Nasib sial seperti dua contoh tersebut berada di sekujur komik. Berkali-kali Pak Bei mendapatkan kesialan, dan selama itu pula pembacanya tertawa. Menurut Seno Gumira, tawa yang muncul dari humor Pak Bei ini bisa berarti dua hal. Pertama, merasa lebih beruntung baik dari segi kekayaan maupun kepandaian. Karena memiliki “modal nasib baik” kita bisa dengan mudah menertawakan kebodohan-kebodohan yang dilakukan Pak Bei. Alasan ini menjadikan tawa sebagai bentuk penindasan kepada pihak yang ditertawakan.

Sementara kedua, pembaca tertawa karena merasakan apa yang dialami oleh Pak Bei. Himpitan ekonomi karena kenaikan harga-harga, sifat sok tahu yang berlebihan, sampai kesialan yang datang silih berganti. Kita terlibat dan berada di dalam kisah satir Pak Bei. Menertawakan Pak Bei sama artinya dengan menertawakan diri sendiri.

Pada titik ini, Pak Bei bisa dibaca sebagai sebuah kritik sosial. Tentu saja kritik ini tidak sedang dialamatkan kepada penguasa yang menindas atau otoriter. Kritik ini dialamatkan kepada masyarakat sebagai suatu entitas sosial. Ternyata, kolektivitas bermasyarakat tidak lebih dari sekadar mitos karena sebagian kita merasa senang justru ketika orang lain mendapatkan kesusahan. Seno Gumira menyebut ini sebagai ekosistem kebodohan.

Maka benarlah apa yang pernah diungkapkan oleh Masdi. Pak Bei adalah orang yang “bodoh, tapi sok tahu”. Persis seperti masyarakatnya.

Iklan

Satu pemikiran pada “Meneladani Kebodohan Pak Bei

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s