Jejak (Seadanya) Pers Mahasiswa

 

  • Judul              : Menapak Jejak Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia
  • Penulis           : Moh. Fathoni, dkk
  • Penerbit          : Komodo Books, Jakarta
  • Cetakan          : Mei 2012
  • Tebal               : xiii + 230 halaman

Sejujurnya saya sempat kaget ketika pertama kali melihat buku ini di toko buku. Kekagetan ini bermula dari rasa penasaran karena beberapa tahun belakangan, hampir tidak ada buku yang menulis tentang pers mahasiswa. Dalam bibliografi tentang tema tersebut pun, hanya ada sedikit studi yang dengan serius mau membedah pers mahasiswa. Sekadar menyebut beberapa karya, Amir Effendi Siregar (1983), Francois Raillon (1985), Didik Supriyanto (1998), dan Satrio Arismunandar (2005).

Dari semua karya itu, hanya karya Amir yang menampilkan kronik pers mahasiswa dari masa ke masa. Jejak-jejak pers mahasiswa lebih banyak tersimpan di terbitan masing-masing dan makalah-makalah diklat jurnalistik. Tercecer dan berserak.  Dengan minimnya literatur yang ada, siapapun yang ingin melihat dinamika pers mahasiswa di Indonesia – terutama pasca reformasi 1998 – bisa dipastikan akan mengalami kesulitan.

Keadaan suram seperti itu membuat kehadiran buku yang menarasikan sejarah pers mahasiswa ini patut diberi hormat. Apalagi bahasannya khusus tentang Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), organisasi yang pernah menjadi induk dari seluruh pers mahasiswa di Indonesia. Tim penulisnya pun berasal dari PPMI sendiri. Saya cepat-cepat melahap isinya untuk menuntaskan rasa penasaran.

Sayangnya, semakin banyak halaman saya baca, bukan rasa penasaran yang tertuntaskan. Kekecewaan justru menyelinap masuk. Buku ini tidak dipersiapkan dengan serius. Kesan ini begitu pekat terasa usai tuntas membacanya. Setidaknya ada empat hal yang menunjukkan buku ini dipersiapkan dengan buru-buru.

Pertama, meski diniatkan sebagai narasi sejarah, bab-bab dalam buku ini tidak disusun secara sistematis. Praktis hanya sejarah PPMI dari kelahirannya pada tahun 1992 sampai 1998 yang disusun secara kronologis. Dalam rentang waktu yang dibahas dalam bab 1-3 dipaparkan banyak data terkait dinamika di awal pembentukan PPMI. Agenda-agenda yang dilakukan sampai terbentuknya organisasi ini dipaparkan dengan detail.

Hanya berhenti di sana. Sejarah pasca 1998 menjadi agak ganjil karena banyaknya kalimat-kalimat normatif yang muncul. Setelah saya lihat ke belakang di daftar pustaka, dari 73 referensi yang menjadi acuan baik berupa buku, arsip lembaga, maupun koran, sebagian besar terbit sebelum tahun 1998. Ini artinya, data yang digunakan untuk menulis narasi pasca 1998 lebih banyak berasal dari wawancara dengan narasumber.

Padahal, mengandalkan data wawancara tanpa melengkapinya dengan sumber-sumber tertulis hanya akan menghasilkan kenyataan subyektif. Sartono Kartodirdjo (1992) menyebutnya sebagai subyektifitas kultural. Subyektifitas pertama berasal dari narasumber, dan selanjutnya berasal dari penulis. Konsekuensinya, fakta-fakta keras yang teruji kesahihannya cenderung akan tertutupi.

Kedua, pembahasan yang tumpang tindih dan paradoks di beberapa bab. Sebagai contoh dalam kasus mundurnya Sekjen PPMI 1995-1997, Eka Satialaksmana. Di akhir bab 3, dijelaskan bahwa Eka mundur “karena sebab yang tidak jelas” (halaman 115). Sementara di bab 4, Eka menjelaskan dirinya mundur karena “tidak mampu mengemban amanat kongres”, “tidak mampu melakukan konsolidasi wilayah”, dan “sudah tidak aktif lagi di LPM” (halaman 118).

Ketiga, buku ini tidak memberikan konteks eksternal yang melingkupi dinamika PPMI (dan pers mahasiswa) di era Orde Baru, transisi, dan reformasi. Mereka yang jarang membaca literatur tentang pers mahasiswa, akan kesulitan untuk memahami perubahan orientasi di era tersebut. Sebagai contoh,konflik yang melanda PPMI tahun 2000 hanya bisa dipahami jika dikaitkan dengan kondisi objektif lingkungan di luar.

Konflik yang berujung perpecahan ini membagi pers mahasiswa menjadi dua kutub besar, bahkan sampai saat ini. Mereka yang merasa perjuangan PPMI sudah selesai karena arah gerakannya semakin tidak jelas dan Orde Baru telah runtuh; Dan, mereka yang menganggap PPMI masih diperlukan untuk menjalin komunikasi di tingkat nasional. Dalam buku, konflik ini semata-mata dibahas hanya karena merupakan persoalan internal yang terjadi.

Keempat, banyaknya salah eja dan penggunaan kata-kata yang tidak baku. Di sekujur buku ini kita akan sering menemui kata-kata seperti “analisa”, “merubah”, “managemen”, “subtantif” dan lain sebagainya. Kesalahan-kesalahan mendasar ini jelas cukup mengganggu. Apalagi dilakukan oleh aktivis pers mahasiswa yang semestinya cukup peka dengan hal-hal semacam itu.

Dengan berbagai catatan tersebut, saya ragu bahwa buku ini bisa memenuhi niatan Sekjen PPMI 2010-2012 Andi Mahifal – seperti tulisannya dalam kata pengantar buku – yang salah satunya untuk memberikan kesadaran memahami pola gerakan pers mahasiswa yang sesuai konteks ruang dan waktu.

Buku ini penuh dengan mitologisasi romantisme yang memandang sejarah kebesaran pers mahasiswa. Padahal apa yang dibutuhkan oleh pers mahasiswa saat ini, mengutip Abdulhamid Dipopramono (1987), adalah sebuah demitosisasi. Demitosisasi adalah upaya meletakkan standar yang berbeda dengan era sebelumnya untuk menentukan keberhasilan pers mahasiswa.

Akhirul kalam, buku ini akan lebih tepat jika disebut sebagai jejak seadanya perjalanan PPMI dan pers mahasiswa di tanah air. Tentu dibutuhkan karya lanjutan yang melengkapi jejak seadanya tersebut. Semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s