Pelajaran Buruk dari Stadion Sepakbola

Stadion sepakbola di Indonesia bukan tempat yang ramah untuk anak-anak. Kemarin (11/7), saya kembali menyaksikan betapa terlalu banyak pelajaran buruk yang muncul dari lapangan hijau.

Secara resmi, pertandingan Persiba Bantul v Persibo Bojonegoro ini sudah tidak berarti apa-apa bagi kedua tim. Tidak ada yang dipertaruhkan. Gelar juara sudah jauh-jauh hari digenggam Semen Padang. Memperebutkan posisi kedua pun nyaris tidak mungkin. Persibo juga terlihat jelas “melepas” pertandingan ini untuk mempersiapkan final Piala Indonesia yang akan berlangsung Sabtu (14/7) nanti. Wajar jika mereka menurunkan banyak pemain lapis kedua.

Dengan motivasi yang nyaris tidak ada lagi tersebut, saya membayangkan pertandingan akan berjalan dengan membosankan. Satu-satunya yang masih bisa diharapkan sore itu di Stadion Sultan Agung adalah Persiba akan bermain habis-habisan untuk menghibur suporternya karena ini adalah pertandingan terakhir mereka di musim ini. Dan itulah yang terjadi.

Pertandingan babak pertama berjalan satu arah. Tuan rumah mendominasi permainan. Sementara di tribun penonton, Paser Bumi di tribun timur menyanyikan lagu-lagu dukungan, di tribun utara ada sekelompok suporter berkaos hitam-hitam melakukan hal yang sama. Dari spanduk yang mereka bentangkan, tertera tiga huruf, CNF. Saya menduga huruf CN adalah akronim dari Curva Nord. Barangkali mereka adalah kelompok Ultras yang biasa terdapat di tim-tim sepakbola.

Di tribun penonton, secara kasat mata terbagi menjadi dua bagian. Satu adalah kelompok penonton yang datang ke stadion yang datang ke stadion untuk mendukung timnya. Sementara yang lain adalah mereka yang datang semata-mata untuk menikmati pertandingan sepakbola. Sementara kelompok pertama fokus mendukung timnya dengan menyanyikan chant dan melakukan atraksi sepanjang pertandingan, kelompok kedua – biasanya keluarga –  lebih fokus menyaksikan jalannya pertandingan.

Dari kelompok kedua inilah pelajaran buruk bagi anak-anak dimulai. Karena hanya fokus menyaksikan pertandingan, mereka leluasa untuk mencaci maki setiap kesalahan yang muncul di lapangan hijau baik yang dilakukan oleh tim yang didukung, tim lawan, wasit, bahkan suporter sendiri yang sedang melakukan koreografi. Sore itu teriakan-teriakan umpatan berkali-kali saya dengar. Ironisnya, banyak anak-anak di sini.

Mengumpat, dalam sebuah pertandingan adalah hal yang biasa. Tetapi jika itu dilakukan di depan anak-anak dengan cara yang demikian telanjang, hampir bisa dipastikan ini akan mempengaruhi psikologi perkembangan anak. Kata-kata kasar yang sesekali bernada rasis dan diungkapkan di depan anak-anak adalah sebuah pelajaran kebencian secara langsung. Dengan alasan ini juga dulu bapak tidak mau mengajak saya menyaksikan pertandingan bola langsung di stadion sebelum saya menginjak usia yang menurutnya cukup.

Dari tribun, pelajaran tentang kekerasan juga dimulai. Ketika pertandingan sempat memanas dengan beberapa keputusan kontroversial dari wasit, para penonton masih saja melemparkan gelas-gelas plastik air minum dengan gampangnya. Bahkan ada juga yang melempar sepatu! Lemparan-lemparan ini sering saya temui ketika menyaksikan pertandingan di stadion.

Banyak anak yang ikut-ikutan melempar. Yang ironis adalah, beberapa lemparan itu sempat mengenai anak gawang yang persis berada di antara tribun dan lapangan. Sore itu saya saksikan, anak gawang yang bertugas rata-rata usia sekolah dasar. Dengan wajah kebingungan mereka melihat ke arah tribun. Antara ingin tetap duduk menjaga bola, dan pergi mengindar dari lemparan-lemparan yang brutal tersebut.

Pelajaran selanjutnya muncul dari lapangan. Di akhir babak pertama, di sisi lapangan yang dekat dengan bench ofisial Persiba, sempat terjadi benturan fisik antara Jairon Feliciano dengan beberapa pemain tuan rumah. Jairon sempat memukul salah seorang pemain Persiba. Yang menarik sekaligus aneh, ofisial-ofisial Persiba yang tepat berada di depan benturan ini segera masuk lapangan. Ada yang melerai,  ada yang mendorong Jairon! Wasit hanya melihat. Dan saya tersenyum geli.

Di babak kedua, benturan fisik semakin sering terjadi. Beberapa pemain terlihat lebih suka mengincar kaki lawan alih-alih mengincar bola. Salah satu pemain yang saya perhatikan adalah Jajang Paliama, gelandang Persibo. Ia adalah tipikal gelandang perusak alur permainan lawan. Sayangnya dalam banyak benturan, ayunan kakinya lebih sering mengenai kaki lawan dengan telak. Satu nilai plusnya sore itu adalah mencetak gol indah melalui kaki kiri.

Puncak “kotornya” lapangan hijau sore itu terlihat ketika gol kedua Persiba. Dalam sebuah sepak pojok, terjadi scrimmage di kotak penalti. Bola liar jatuh di kaki Ugik Sugiyanto yang langsung menendangnya ke arah gawang, gol! Saya tidak memperhatikan apa yang terjadi di tengah kemelut tadi, tapi para pemain Persibo kemudian berlarian mengejar wasit dan mengerubunginya. Saya kira hampir semua penonton di stadion sore itu juga bingung dengan apa yang terjadi. Belakangan saya baru tahu bahwa sebelum bola jatuh di kaki Ugik, wasit sempat meniup peliut. Barangkali melihat ada pelanggaran.

Nah, terlepas dari keputusan wasit itu, yang menarik dilihat adalah bagaimana seluruh pemain Persibo – catat, 11 pemain –  mengerubungi wasit, ada yang mendorong, ada yang menarik-narik kerah kaosnya. Entah apa yang ada di benak para pemain ini. Tapi dari adegan ini saya melihat bahwa mayoritas pemain di Liga Indonesia memang belum bisa memberikan penghargaan yang layak bagi seorang wasit. Beberapa waktu lalu di laga Persib v Deltras, kiper Herman Batak juga dengan berani memukul kepala wasit.

Terlepas dari kontroversi keputusan wasit, tindakan kekerasan semacam ini jelas tidak dapat ditolerir. Parahnya, para pemain tetap tidak jera juga. Ringannya sanksi yang dijatuhkan PSSI membuat para pemain berani mengulangi aksi-aksinya tersebut. Saya hampir yakin bahwa hukuman yang akan dijatuhkan kepada pemain Persibo di pertandingan – kalaupun ada – tidak akan membuat pemain jera.  Ketika saya tanyakan ke Ghofur, kondisi serupa juga terjadi di Bojonegoro dalam pertemuan pertama. Konon, Persiba kala itu juga dirugikan wasit.

Oh iya, adegan selanjutnya setelah wasit dikerubungi pemain adalah adegan unik, kalau tidak mau disebut konyol. Seorang ofisial Persibo, masuk ke lapangan, memisah para pemain yang masih berkutat dengan wasit, dan meminta wasit ke tengah lapangan untuk memulai pertandingan lagi. Dari gerak tubuhnya, terlihat bahwa ia menghina wasit. Tepuk tangan sarkastik, dan mengacungkan jempol di depan wasit. Saya masih ingat bagaimana Wayne Rooney diusir Kim Nielsen setelah bertepuk tangan tepat di hadapannya.

Di antara kedua bench pemain, pengawas pertandingan terlihat hanya duduk diam saja menyaksikan dan membiarkan ofisial itu masuk ke tengah lapangan.

Beberapa bentrokan di atas adalah adegan yang lazim terjadi di Liga Indonesia. Dalam beberapa tahun ke depan, saya rasa hal-hal semacam ini masih akan terus berlanjut. Tentu saja, pelajaran buruk yang akan didapatkan seorang anak dari stadion sepakbola belum akan menghilang, berkurang pun tidak. Mengikuti teori Jean Piaget, perkembangan kognitif seorang anak bersifat kumulatif. Maksudnya, perkembangan yang terjadi saat ini, akan mempengaruhi perkembangan yang terjadi di masa depan. Kekerasan dan kebencian yang ditemui akan membentuk struktur kognitif atau skemata yang kemudian diyakini oleh sang anak. Selanjutnya, siklus kekerasan dan kebencian ini akan berlanjut. Entah para pengurus sepakbola itu sadar atau tidak dengan hal ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s