Italia

Italia hanya memiliki dua cara untuk mengakhiri sebuah kejuaraan: menjuarainya, atau tersingkir dengan cara yang menyakitkan. Selama kurang lebih 14 tahun saya mengenal sepakbola, teori ini belum mendapatkan antitesis. Deretan hasil akhir yang diperoleh tim biru langit adalah buktinya.

Di Piala Dunia 1998, Italia dikalahkan Prancis melalui adu penalti di perempatfinal. Euro 2000, mereka kembali kalah dari Prancis dengan cara yang jauh lebih menyakitkan. Sebuah gol di injury time, sebuah gol yang membunuh di babak extra time. Dua gol yang mematikan harapan anak asuhan Dino Zoff di final. Piala Dunia 2002, mereka tersingkir dengan cara yang sama, satu gol di injury time, dan satu golden goal.

Kekalahan kali ini bahkan hadir dengan memalukan karena diperoleh dari Korea Selatan. Kekalahan yang menimbulkan dendam karena sang pencetak gol emas, Ahn Jung Hwan, akhirnya dipecat oleh timnya, Perugia. Sang presiden klub mengatakan bahwa ia tidak bisa memainkan pemain yang sudah menghina negaranya. Di Euro 2004, hasil seri 2-2 Swedia v Denmark telah memaksa Italia pulang kandang lebih awal.

Mereka kalah agresivitas mencetak gol dibandingkan dua tim tersebut. Tidak sedikit orang Italia yang menganggap bahwa hasil seri 2-2 adalah konspirasi, sebuah solidaritas Skandinavia. Seorang Mr Trap pun sampai meminta UEFA untuk menginvestigasi pertandingan tersebut.

Di Piala Dunia 2006, bertepatan persis dengan skandal calciopoli, Italia menjadi juara dunia untuk keempat kalinya. Di final mereka mengalahkan Prancis melalui adu penalti. Sebuah final yang akan dikenang orang karena mengakhiri karier maestro sekaliber Zidane dengan cara yang memalukan.

Namun, adu penalti juga yang membawa kekalahan bagi Gli Azzurri di Euro 2008. Mereka kalah tos-tosan melawan Spanyol yang akhirnya melaju ke final dan menjuarai turnamen. Di turnamen ini, Italia sempat dibantai Belanda 0-3. Rupanya ini menjadi pertanda bahwa generasi emas Italia pelan-pelan memudar seiring redupnya Serie A yang gagal melahirkan bintang-bintang muda.

Puncaknya tentu di Piala Dunia 2010. Bergabung di grup yang sungguh ringan karena hanya bersama Paraguay, Selandia Baru, dan Slovakia, Italia tersingkir dengan cara yang demikian frontal. Hasil identik 1-1 di dua pertandingan awal, diperparah dengan kekalahan 2-3 dari Slovakia di pertandingan terakhir. Entah apa yang dirasakan Marcello Lippi. Empat tahun sebelumnya ia menjadi juara dunia, dan di 2010, ia hanyalah seorang pecundang.

Revolusi yang dicanangkan Prandelli pasca hancur lebur negerinya patut dipuji mulai menuai keberhasilan. Dari sepuluh pertandingan di kualifikasi, mereka menang delapan kali dan imbang dua kali. Di penyisihan grup C, laga pembuka melawan Spanyol adalah sebuah pertunjukan keberanian sang commissario tecnico. Dengan keterbatasan pemain, Prandelli memilih menggunakan formasi 3-5-2 dengan De Rossi menjadi bek tengah!

Formasi yang rupanya juga membuat Del Bosque, sang penyempurna Spanyol, begitu ketakutan. Tanpa striker David Villa yang cedera, sang opa lebih memilih menggunakan false number nine. Hasil akhir 1-1 sudah cukup layak bagi pertandingan ini untuk dianugerahi match of the tournament. Dunia menyaksikan, tiki-taka bisa diredam tanpa harus memarkir bus di depan gawang sendiri.

L’architetto Andrea Pirlo adalah kunci. Dengan sentuhan dan umpan magisnya, Italia harus merasa beruntung. Maka Pirlo begitu didzalimi rekan setimnya sendiri yang gagal memanfaatkan banyaknya peluang yang bermula dari kakinya. Penalti ala Panenka ketika duel perempatfinal melawan Inggris adalah bukti betapa jeniusnya Pirlo.

Semifinal melawan Jerman juga menunjukkan betapa menakutkannya Italia. Jerman menang tiga kali di grup neraka, membantai Yunani di perempatfinal, hanya untuk kalah 1-2 dari Italia. Sebuah kekalahan yang tentu menyakitkan. Kekalahan yang oleh beberapa legenda Jerman menunjukkan betapa tidak patriotiknya para pemain Jerman saat ini. Kehebatan Balotelli dan Cassano harus dijadikan kambing hitam atas kenestapaan Jerman. Sayangnya, puncak permainan Italia terhenti sampai di sini.

Kaki-kaki mereka kelelahan. Menghadapi Spanyol dengan gagah berani di final, Italia kalah dengan cara yang susah dilupakan. Mereka bermain terbuka, menyerang, tapi pada akhirnya empat gol Spanyol meluluh-lantakkan keberanian itu. Chiellini cedera, Thiago Motta cedera, dan harus keluar 5 menit setelah masuk menggantikan Montolivo. Pirlo menangis, Balotelli menangis. Ini adalah kekalahan yang menampar.

La notta piu nera, malam tegelap bagi italia.Tapi barangkali takdir sebuah tim besar memang seperti ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s