Pelajaran dari Nanking

“Meskipun negara runtuh, pelacur tetap berdansa dan bersenang-senang”

Yu Mo sadar, puisi kuno tersebut adalah bentuk cercaan terhadap profesi yang ia jalani. Maka ia begitu bersemangat ketika memiliki kesempatan untuk mengubah hinaan itu bersama teman-temannya. “Kita harus bersikap heroik”, ujarnya. Setelah itu, kedua belas pelacur tersebut dengan rela menggantikan peran siswi-siswi gereja untuk menyanyi di depan tentara Jepang. Sebuah perayaan kemenangan Jepang di Nanking.

Momen ini, menurut saya, adalah adegan yang paling dramatis dalam film The Flowers of War. Dengan segala caci-maki masyarakat yang melekat dalam profesinya, masih ada sifat  kemanusiaan dalam diri para pelacur ini. Mereka memilih menyelamatkan siswi-siswi yang berarti itu mengorbankan nyawanya sendiri.

Film yang diadaptasi  dari novel berjudul 13 Flowers of Nanking ini berlatar di tahun 1937. Saat itu adalah era dimana Jepang melakukan invasi ke ibukota China, Nanking. Selama enam minggu, tentara Jepang menguasai Nanking dan melakukan pembantaian massal. Konon lebih dari 200.000 warga sipil tewas dibantai. Dalam peristiwa yang sering disebut sebagai The Rape of Nanking ini,  banyak perempuan dewasa maupun anak-anak yang diperkosa.S alah satu episode gelap dalam sejarah China.

Cerita bermula ketika John Miller (Christian Bale) dikirim ke Nanking untuk merias pendeta yang baru saja meninggal. Ia adalah seorang perias wajah jenazah. Tapi ia datang di waktu yang tidak tepat. Kedatangannya bersamaan dengan invasi tentara Jepang. Sementara jenazah pendeta sudah hilang karena bom pasukan Jepang, John akhirnya memutuskan bertahan di Gereja Winchester. Ia terjebak bersama George, penjaga gereja, dan siswi-siswi sekolah Katolik.

Dalam situasi perang, gereja adalah zona netral yang tidak boleh dimasuki oleh tentara. Selama beberapa saat, keamanan mereka terjamin. Apalagi, di depan gereja tersisa 1 tentara China  yang menjaga gereja tersebut. Situasi menjadi rumit ketika para pelacur dari sungai Qinhuai mengungsi dan memaksa bersembunyi di gereja tersebut. Mereka bersembunyi di ruang bawah tanah dan membiarkan para siswi di dalam.

Beberapa kali terjadi konflik di dalam gereja, termasuk ketika siswi-siswi menolak kamar mandinya digunakan oleh para pelacur. “Air di gereja ini suci dan tidak boleh digunakan oleh pelacur yang kotor!” Tidak terima, salah seorang pelacur membalas, “sini, akan kuberi kau pelajaran siapa yang lebih suci”. Adegan ini menunjukkan tafsir moralitas yang berhadap-hadapan secara ekstrim. Di satu sisi, anak-anak yang sedang belajar agama ini menganggap bahwa pelacur adalah “sampah” dan “tidak suci”. Sementara para pelacur menolak dianggap “kotor” dan melawannya.

Namun moralitas runtuh dalam situasi perang. Perasaan sebagai sesama korban membuat perempuan-perempuan ini bersatu. Ketika tentara Jepang melanggar aturan dengan masuk ke dalam gereja, para siswi ini dikejar dan nyaris diperkosa. Mereka berlarian ke berbagai ruang di gereja dan tidak menuju ruang bawah tanah. Mereka tahu, masuk ke ruang bawah tanah hanya akan mengakibatkan para pelacur menjadi sasaran empuk tentara.

Serangan ke gereja ini menampilkan wajah tentara Jepang yang brutal. Ketika bertemu dengan para siswi, mereka berteriak “kita menemukan perawan!” Dan adegan setelah itu sungguh jauh dari kata beradab. Siswi-siswi dikejar, mereka yang tertangkap rambutnya dijambak, ditarik, pakaiannya dilucuti, hampir diperkosa. Peringatan John yang berpura-pura menjadi pendeta dan mengibarkan bendera palang merah pun tidak diindahkan.

Perang telah membuat kebutuhan seksual tentara-tentara ini tidak terpenuhi. Karena itu mereka melampiaskan nafsunya kepada para korban yang ditemui. Beruntung Mayor Li, tentara China yang berada di luar gereja, berhasil memancing pasukan Jepang keluar gereja.

Keadaan sempat aman kembali ketika Jenderal Jepang, Hasegawa, masuk ke gereja dan meminta maaf atas perlakuan pasukannya. Ia memerintahkan tentaranya untuk memberikan suplai makanan kepada John dan para siswi. John dan George kemudian dengan diam-diam memperbaiki truk rusak yang ada di halaman gereja. Peralatan untuk perbaikan itu mereka dapatkan dari ayah seorang siswi, Shu, yang berkolaborasi dengan Jepang (entah kenapa saya ingat Soekarno dan Hatta).

Toh, jaminan dari Hasegawa ini juga sementara. Ia memberi perintah, para siswi harus bernyanyi dalam perayaan kemenangan Jepang di Nanking. Tentu saja siswi-siswi ini frustasi. Bayangan kekejaman tentara Jepang kembali datang. Wujud frustasi ini muncul ketika Shu dan teman-temannya merencanakan bunuh diri dengan loncat dari menara. Kepada teman-temannya Shu berkata lirih, “sudah cukup siksaan tentara Jepang, kita tidak akan merasakannya lagi”.

Yu Mo dan teman-temannya menyadari rencana tersebut kemudian membujuk para siswi yang sudah bersiap untuk melompat. Para pelacur akan menggantikan posisi siswi-siswi tersebut. Mereka yang akan datang ke perayaan kemenangan Jepang. Mereka semua berpelukan dan menangis, sadar bahwa perang telah membuat mereka kehilangan segalanya. Bahkan diri mereka sendiri.

Film ini adalah dialog antara penderitaan dan pengorbanan. Di setiap perang, kita temui kisah-kisah berikut; Kebodohan kecil keluar dari persembunyian hanya untuk mencari anting yang tertinggal, seorang ayah yang berkhianat untuk melindungi anaknya, tentara-tentara yang kehilangan keberadabannya, sampai kerelaan untuk mengorbankan diri.

Sayang, film ini disensor di sana-sini oleh LSF. Konon adegan kekerasan dan penyiksaan jauh lebih sadis. Kesan anti-Jepang sungguh terasa sepanjang film. Saya belum menemukan berita apakah Jepang melarang peredaran film ini di negerinya. Sebab, invasi ke Nanking adalah salah satu peristiwa sejarah yang ditutup-tutupi. Dalam buku-buku sejarah, pemerintah Jepang mengatakan invasi tersebut sebagai upaya untuk membebaskan negara-negara Asia dari pengaruh Barat. Hal ini sempat memicu ketegangan diplomatik kedua negara.

Pemerintah China sendiri menyetujui film ini dengan menjadikannya sebagai pesan sejarah masa lalu China. Karena itu peluncuran filmnya dilakukan akhir tahun lalu yang bertepatan dengan peringatan 75 tahun The Rape of Nanking. Kita tidak tahu apakah film ini memang berlebihan dalam mengisahkan sejarah. Tapi ia jelas menampilkan pesan yang layak untuk kita cermati. Perang telah menjadikan dirinya sendiri sebagai cermin bagi manusia, ia mampu mereduksi sifat kemanusiaan  dan menjadikannya seperti binatang. Dan, ia mampu mengangkat manusia-manusia yang selama ini dianggap sebagai “sampah”, menjadi pahlawan yang layak untuk dihormati.

Iklan

Satu pemikiran pada “Pelajaran dari Nanking

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s