Letupan-Letupan Kecil

Kejutan yang terjadi pasca pertandingan kedua di masing-masing grup kali ini tidak berada pada level yang besar. Ia hanya merupakan letupan-letupan kecil yang masih berada dalam prediksi. Letupan-letupan ini terutama diwujudkan kekalahan Belanda di dua pertandingan awal, tersingkirnya Irlandia dan Swedia, serta belum ada satupun tim yang sudah dipastikan lolos ke babak perempatfinal. Belum adanya tim yang lolos ini akan membuat pertandingan terakhir menjadi neraka. Berikut catatan singkat saya pasca pertandingan kedua.

Italia dan Deja Vu Euro 2004

Laga Italia v Kroasia ini secara historis tidak terlalu menguntungkan Italia. Saya sempat ingat ketika pertemuan grup di Piala Dunia 2002, Italia kalah 1-2. Artinya, prediksi yang mengatakan Italia akan menang mudah jelas ahistoris. Bukti segera tersaji di lapangan. Italia menguasai lapangan permainan, tapi selalu gagal mencetak gol. Beruntung mereka masih memiliki Andrea Pirlo.

Beberapa kali umpan magisnya gagal disantap oleh rekannya, Pirlo akhirnya “memutuskan” mencetak gol. Tendangan bebasnya masuk dengan telak ke gawang Kroasia. Gli Azzurri jelas masih membutuhkan veterannya ini. Sayangnya, perubahan pemain di babak kedua dan kegagalan memanfaatkan rentetan peluang telah membawa Italia ke posisi yang sulit. Kroasia berhasil menyamakan kedudukan dan memaksakan seri sampai akhir laga.

Kondisi ini, ditambah kemenangan Spanyol 4-0 atas Irlandia, telah menempatkan posisi Italia persis seperti Euro 2004. Posisi peringkat di grup sama persis seperti 2004. Sekarang, Spanyol 4, Kroasia 4, dan Italia 2. Di Euro 2004, Swedia 4, Denmark 4, dan Italia 2. Italia hanya bisa berharap bahwa duel Spanyol v Kroasia tidak berakhir imbang dengan skor 2-2 atau lebih. Selebihnya, anak asuh Cesarre Prandelli harus bisa mengalahkan Irlandia dengan selisih 2 gol.

Hasil seri 2-2 atau lebih di pertandingan Spanyol v Kroasia, akan menyebabkan Italia kalah. Permutasi yang susah dibayangkan akan terjadi ini nyatanya terjadi betul pada 2004. Swedia v Denmark berakhir dengan skor 2-2. UEFA pernah berjanji akan mengivestigasi pertandingan tersebut. Investigasi yang sampai sekarang masih ditagih Giovanni Trapattoni dan banyak orang Italia lain.

Swedia dan Irlandia tersingkir

Dari segala kemungkinan tim-tim yang diperkirakan tersingkir pertama, hampir tidak ada yang mengira Swedia dan Irlandia akan mengisi kemungkinan itu. Dua tim, secara tradisional adalah kuda hitam yang memiliki potensi untuk memberikan kejutan dan lolos ke babak berikutnya.

Untuk Irlandia, kekalahan barangkali bisa dialamatkan kepada Mr Trap yang mengubah formasi permainan secara drastis. Kalau selama babak kualifikasi Irlandia menggunakan gerendel tangguh ala catenaccio, di dua pertandingan melawan Kroasia dan Spanyol, hal itu sama sekali tidak terlihat. Mereka kebobolan tujuh gol dalam 180 menit! Bandingkan dengan pertandingan selama kualifikasi dimana dalam sepuluh pertandingan mereka hanya kebobolan tujuh gol.

Yang merinding diingat dalam duel Irlandia v Spanyol ada di empat menit terakhir. Bagi yang ketinggalan adegan ini, bisa dilihat di sini. Para pendukung menyanyikan lagu Fields of Anthery. Ketika saya mendengarnya, ada kesan getir dan sedih yang teramat. Lagu yang mengantar Irlandia pulang ke rumahnya. Simak penggalan liriknya,

Low lie the Fields of Athenry 
Where once we watched the small free birds fly.
Our love was on the wing we had dreams and songs to sing
It’s so lonely ’round the Fields of Athenry. 

Sementara untuk Swedia, Ibra-sentris tidak bisa dipungkiri telah membuat tim ini gagal mengembangkan permainan. Dengan sosoknya yang cenderung egois, mood Ibra akan mempengaruhi Swedia. Ini bisa dilihat ketika duel melawan Ukraina dan Inggris. Kekalahan melawan Ukrainan adalah kekalahan yang berat diterima jika membandingkan materi kedua tim. Ketika melawan Inggris,Swedia sebenarnya mampu memberikan perlawanan seimbang. Sayang, Ibra tidak berada dalam performa terbaiknya. Dan berkali-kali ia gagal memanfaatkan peluang, juga terlihat malas memberikan umpan kepada rekannya.

Belanda yang Malang

Dengan membanjirnya pemain kreatif yang dimiliki, dua kekalahan beruntun tentu tidak layak diterima begitu saja. Van Marwijk dengan pendekatan pragmatisnya terlihat hanya membuat para pemain Belanda frustasi dan kebingungan menuntaskan peluang. Duet Van Bommel dan De Jong di lini tengah juga memberi andil besar penampilan buruk Sneidjer. Sneidjer berkali-kali harus turun jauh ke bawah untuk menjemput bola sementara di saat bersamaan ia harus membuka bola untuk melayani Van Persie, Huntelaar, Robben, maupun Afellay.Kekalahan melawan Jerman menjadi layak diterima karena permainan Belanda yang tanpa gairah.

Inggris Meringis

Hooligans Inggris boleh mulai tersenyum. Kemenangan 3-2 melawan Swedia adalah pembuktian bahwa tim asuhan Hodgson tidak hanya bisa mencetak satu gol. Pertandingan ini pun bisa dibilang sebagai salah satu pertandingan yang menghibur di Euro kali ini. Kejar-kejaran skor terjadi di mana harapan silih berganti menaungi kedua tim. Klik Liverpool Gerrard dan Caroll membuka gol yang membuat pertandingan ini berjalan terbuka. Gol indah Wellbeck menjadi malaikat pencabut nyawa Swedia yang harus segera pulang kandang. Dengan kehadiran Rooney di pertandingan terakhir, para pendukung Inggris layak optimis. Apalagi, trio macan hanya membutuhkan hasil seri melawan tuan rumah Ukraina di pertandingan terakhir.

Ronaldo “di-Messi-kan”

Portugal mengawali laga melawan Denmark dengan meyakinkan. Unggul 2-0 dengan Pepe sebagai pencetak gol pembuka. The Animal menerjemahkan penampilan brutalnya menjadi gol di pertandingan ini. Portugal v Denmark ini akan dicatat sebagai salah satu laga yang terketat. Denmark nyaris saja menjadi dinamit ketika dua gol Nicklas Bendtner menyamakan kedudukan. Tapi, dinamit ini hanya menjadi mercon saja karena mereka kebobolan di penghujung laga.

Apa yang patut dicatat dari pertandingan ini adalah kegagalan Ronaldo menyelesaikan beberapa peluang mudah terutama ketika ia sudah berada posisi one on one dengan kiper. Kegagalan berkali-kali ini nyaris saja berbuah penyesalan andai laga ini berakhir seri. Kamera televisi dengan cerdik sempat memotret betapa lesunya wajah Ronaldo setelah Bendtner mencetak gol penyama kedudukan.

Yang menarik, suporter Portugal sempat mencemooh kapten mereka sendiri dengan teriakan “Messi, Messi”. Entah kenapa mereka meneriakkan kata ini. Barangkali Messi dianggap lebih mampu mencetak banyak gol. Atau yang lebih mungkin, Messi dianggap sebagai contoh ideal untuk sosok pemain yang brilian bermain di klub tapi selalu gagal ketika membela tim nasional.

Dua pemain ini, memang tidak akan pernah menjadi pemain dengan status legendaris jika belum mampu memberikan trofi juara dunia (setidaknya juara regional) bagi negaranya masing-masing. Ronaldo harus berterima kasih kepada Varela karena dengan golnya ke gawang Denmark, peluang Portugal untuk lolos masih terjaga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s