Yang Mengejutkan dan Membosankan

Spanyol v Italia 1-1, Kroasia v Irlandia 3-1, Inggris v Prancis 1-1, Ukraina v Swedia 2-1.Pertandingan di Grup C dan D ini hadir dalam bentuk yang identik. Tapi tentu, permainan di atas lapangan jauh lebih dramatis dibandingkan dengan hasilnya.  Ada beberapa hal yang patut menjadi catatan :

Italia yang Mengejutkan:

Calcioscommesse terbukti tidak memberi pengaruh negatif kepada permainan Gli Azzurri. Prandelli mereformasi catenaccio Italia dengan lebih banyak menempatkan pemain di lini tengah untuk menguasai bola. Tidak ada bus yang diparkir di depan gawang. Pertahanan dimulai sejak lawan masih menguasai bola di daerahnya sendiri. Cassano dan Balotelli menekan sejak Pique atau Ramos menguasai bola. Prandelli menepati janji untuk menggunakan pola 3-5-2.

Sampai sejauh ini, penampilan De Rossi yang berubah fungsi menjadi bek tengah adalah strategi yang paling mengejutkan. Dan rupanya ujicoba ini berhasil dengan sempurna. De Rossi menunaikan tugas dengan baik. Susah ditembus, dan memiliki teckle yang bersih.

Andrea Pirlo masih menjadi penguasa pertandingan ini. Setiap kali menguasai bola, kita seolah diajak untuk menebak umpan magis macam apalagi yang akan ia hasilkan. Sekali lagi, kita – yang menyaksikan pertandingan kemarin –  beruntung bisa menyaksikan umpan magis itu. Di Natale merasakan betapa beruntungnya Italia memiliki Pirlo. Umpan Pirlo membuat top scorer Serie A ini hanya butuh waktu 5 menit di lapangan untuk mencetak gol.

Yang harus diperhatikan Prandelli, Di Natale lebih baik dimainkan di starting eleven untuk pertandingan selanjutnya. Balotelli masih kekanak-kanakan dan entah apa yang ada di pikirannya ketika berlama-lama membawa bola meski sudah dalam posisi berhadap-hadapan dengan Iker Casillas.

Strategi Del Bosque dan Rumput yang Kering

Senjakala tiki-taka terlihat dalam pertandingan ini. Italia berhasil menemukan penawarnya. Del Bosque, sampai harus mengubah formasi dengan tidak melibatkan striker murni. False number nine diberikan kepada Cesc Fabregas. Dengan formasi 4-3-4 yang kemudian jika dibaca menjadi 4-6-0 ala Barcelona, Spanyol terlihat gagal menembus kotak penalti lawan. Tendangan dari luar kotak penalti juga jarang dilakukan karena “tiga striker” yaitu Fabregas, Silva, dan Iniesta terlihat ragu-ragu untuk mencari finisher.

Praktis sampai Fabregas mencetak gol di menit 64, tiki-taka tidak benar-benar bisa menembus pertahanan Italia kecuali hanya menguasai bola di tengah lapangan. Kegagalan untuk meredam antitesis tiki-taka yang dimainkan Italia merupakan tanda “kekalahan” strategi Del Bosque.

Kegagalan untuk menggenakan tiki-taka justru dihadapi dengan cara klise, menyalahkan rumput yang dianggap terlalu kering sehingga bola gagal mengalir sempurna. Mereka sepertinya lupa bahwa tim lawan bermain di rumput yang sama. Del Bosque mesti lebih kreatif lagi jika ingin mempertahankan trofi Henry Delauney. Menyalahkan rumput hanya menunjukkan bahwa juara dunia ini ternyata hanya sekumpulan anak manja.

Sebagai tambahan, anda yang mengaku penggemar bola dan tidak menyaksikan pertandingan ini, silahkan menyesali diri sendiri. J)

Mr Trap Ubah Strategi, Kroasia Cetak Tiga Gol

Gol Mandzukic sepertinya mengubah total strategi yang sudah disusun Mr Trap. Penampilan Irlandia kemarin tidak seperti biasanya dengan pertahanan gerendel yang well organized. Barangkali karena Mr Trap menginginkan kemenangan dari lawan termudah di Grup C ini dan membuatnya mengubah strategi secara drastis karena gol lawan datang terlalu cepat. Akibatnya tentu bisa ditebak, Kroasia merajalela memberondong gawang Shay Given dengan tiga gol. Kemenangan ini akan memudahkan Kroasia dalam menghadapi dua lawan berat, Spanyol dan Italia.

Inggris Memenuhi Ekspektasi, Prancis Dijauhi Dewi Fortuna

Tidak perlu ada pertanyaan lagi. Prancis menguasai pertandingan dengan persentase 60:40, unggul shots on goal 8-1, corner kicks 11-4, dan hanya mencetak satu gol. Dewi Fortuna sedang enggan mendatangi Ayam Jantan.

Sementara Inggris, mereka memenuhi ekspektasi pendukung dan pembencinya dengan tampil buruk + membosankan. Penampilan Trio Macan kemarin malam semakin membuktikan bahwa Roy Hodgson memang The Special One, spesialis mencetak satu gol.

Sheva dan Swedia yang Pengecut

Erik Hamren, memaki para pemainnya dan mengatai mereka sebagai pengecut pasca kekalahan 1-2 dari Ukraina. Padahal, pada awalnya segalanya berjalan indah bagi Swedia. Ibra, seperti biasa, menjalankan tugasnya sebagai pencetak gol. Sayang, seperti diungkapkan Hamren, pasca gol itu para pemain Swedia kehilangan patrotismenya.

Sementara Ukraina, bermain seolah ini sedang membela negaranya di medan perang. Sang veteran, Andry Shevchenko menunjukkan bahwa dirinya belum habis. Dua gol dari sundulan kepala adalah persembahan terbaik bagi negaranya yang sedang dilanda konflik politik yang rumit dan dibumbui isu rasialisme.

Sampai hari keempat, ada pesan penting bagi para penggemar sepakbola. Tim-tim sudah banyak yang tidak memainkan bola seperti identitasnya selama ini. Inggris kehilangan Kick and Rush, Belanda tidak memainkan total voetball, Italia tidak memainkan catenaccio klasik, dan seterusnya. Kita lihat apakah kejutan masih akan terus terjadi di pekan kedua turnamen.  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s