Sepakbola Bukan Matematika

Sekuat apapun ikhtiar Harald August Bohr mendekatkan sepakbola dan matematika, ia akan selalu gagal. Bohr adalah mantan pemain timnas Denmark yang juga seorang ilmuwan matematika. Ia sempat memperkuat Denmark di Olimpiade 1908. Setelah turnamen ini, ia mengabdikan hidupnya pada matematika. Anehnya, penggemarnya jauh lebih banyak berasal dari suporter sepakbola daripada matematikawan.

Konon ia berusaha keras untuk mencari rumus pasti tentang sepakbola. Ia begitu mencintai dua dunia ini. Karena itu ia ingin mengaitkan keduanya. Tapi tentu saja, sepakbola tidak akan pernah bisa dihitung dengan matematika. Teranyar, duel di Grup B antara Denmark dengan Belanda yang berakhir dengan kemenangan tim dinamit. Sepertinya Bohr justru harus bersyukur usahanya itu tidak pernah berhasil.

Denmark dengan kecenderungannya menjadi tim kejutan berhasil meluluhlantakkan ambisi Bert van Marwijk, bahkan membuat sang pelatih ini frustasi. Ini bisa dilihat di babak kedua ketika ia memutuskan memainkan Robben, Van Der Vaart, Sneidjer, Van Persie, Kuyt, dan Huntelaar dalam waktu bersamaan!

Sang opa memang pantas khawatir. Duel ini – di atas kertas – seharusnya menjadi duel yang mudah untuk Belanda. Statistik historis menunjukkannya. Tapi, Morten Olsen lebih cerdik. Ia menempatkan Simon Kjaer mengawal van Persie dengan ketat. Kemana-mana selalu di tempel. Dan Kjaer yang menang. Berkali-kali van Persie terjatuh, memiliki ruang untuk menembak, tapi ia terjatuh! Van Persie memiliki kecenderungan seperti Messi.Bagus di klub, jeblok di timnas.

Secara umum, pertandingan berjalan membosankan. Belanda, sejak dipimpin Van Marwijk tahun 2008, telah meninggalkan filosofi total voetball-nya. Pendekatan pragmatis lebih mendominasi. Puncak pragmatisme (menuju brutalisme?) ini secara dramatis ditunjukkan dengan tendangan Nigel de Jong ke dada Xabi Alonso.

Tadi malam ini bisa dilihat dengan gamblang. Van Maarwijk gagal mengoptimalkan pemain-pemain kreatifnya untuk menguasai bola dan menyerang total. Penguasaan bola yang mencapai 53 % menjadi percuma karena Belanda jarang masuk ke kotak penalti Denmark.

Shots on target Belanda enam. Robben seperti tidak mau belajar dari kegagalan-kegagalannya kemarin. Ia masih saja memaksakan diri menusuk dari sisi kanan, menekuk dan menggiring bola ke tengah, dan mencoba melakukan tembakan. Tendangannya lebih sering membentur kaki-kaki para pemain Denmark. Penyesalannya yang terlihat dari berkali-kali menggelengkan kepala di akhir pertandingan tentu saja percuma.

Denmark memiliki keuntungan psikologis karena berhasil mengalahkan kandidat juara. Mental sebagai tim dinamit memang sudah melekat. Karakternya pun persis seperti dinamit. Untuk menghidupkan sumbunya butuh waktu agak lama. Dan ketika sudah meledak, duaarrr!!! Krohn-Dehli mempermalukan Stekelenburg dengan menendang bola melewati kolong kiper asal AS Roma tersebut.

Untuk Belanda, kekalahan ini memang mengejutkan. Tapi tim ini selalu punya peluang untuk lolos dari lubang jarum. Ingat saja di tiga edisi Euro sebelumnya. Di Euro 2008, mereka bersama Prancis, Italia, dan Rumania. Di Euro 2004, Belanda satu grup dengan Jerman, Ceska, dan Latvia. Sedangkan di turnamen 2000, tim oranye yang kala itu menjadi tuan rumah satu grup dengan juara dunia Prancis, Denmark, dan Ceska. Mereka selalu lolos dari grup-grup neraka ini.

Yang pasti, kekalahan ini akan membuat pertandingan Belanda melawan Jerman di putaran kedua grup ini menjadi game of the death. Apalagi Jerman mengalahkan Portugal 1-0. Jerman butuh menang untuk lolos ke perempatfinal. Dan Belanda juga harus menang. Sebab jika kalah, mereka akan langsung pulang ke rumah.

Pertandingan Jerman vs Portugal sendiri sampai hari kedua ini merupakan pertandingan terbaik. Jual beli serangan terjadi sampai akhir babak kedua. Portugal belum dinaungi dewi fortuna. 5 shots on goal mereka tidak ada yang menembus gawang Jerman. Tendangan Pepe yang membentur mistar gawang dan persis memantul ke garis gawang menjadi momen yang sungguh dramatis. Sepak pojok yang mencapai 11 (Jerman hanya 2) menjadi percuma.

Christiano Ronaldo, entah kenapa, jarang mengesankan ketika melawan negara-negara besar. Ia gagal melewati Boateng, berkali-kali. Permainannya tidak menonjol malam ini. Nani di sektor kanan justru lebih banyak memberikan tusukan tajam termasuk satu tendangan yang membentur tiang gawang. Muenchen’s connection akhirnya menjadi penentu pertandingan ini. Gomez berhasil mengubah hasil pertandingan melalui golnya.

Dua pertandingan di Grup B ini membuktikan – sekalih lagi – bahwa sepakbola bukan matematika. Ada banyak permutasi yang bisa muncul dari lapangan hijau. Pertandingan kedua nanti akan semakin membuktikannya. Tidak hanya menentukan bagi Belanda dan Jerman, duel kedua juga akan menentukan apakah Denmark bisa langsung lolos dan Portugal tersingkir cepat, atau justru Portugal masih bisa memelihara asa.

Jika Denmark kembali membuat kejutan, Harald August Bohr memang harus bersyukur bahwa usaha yang dilakukannya tidak pernah berhasil.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s