Dari Polandia, Revolusi Bermula

“Untuk mengetahui intensitas dan vitalitas segala jenis revolusi sejak 1789, negara-negara lain harus menengok ke Polandia.” Nasehat yang diungkapkan Karl Marx ini ibarat nubuat yang terbukti kebenarannya di masa depan.

Polandia adalah saksi pahit-getirnya berbagai jenis revolusi. Di masa silam, menjadi rebutan tetangga-tetangganya (Prusia, Austria, Rusia). Polandia juga menjadi negeri yang pertama kali diinvasi Nazi pada 1939. Sebuah blietzkrig yang mengawali Perang Dunia II. Selama pendudukan, Polandia menjadi tempat buangan orang-orang Yahudi sebelum menjalani “solusi terakhir” di kamp-kamp konsentrasi.  Selama era ini juga perlawanan pertama dan terakhir Yahudi muncul dalam pemberontakan Ghetto Warsawa 1944.

Peran historis sebagai negeri revolusi bahkan muncul sesudah Nazi hengkang. Setelah komunisme menguasai negeri itu, konflik terjadi secara beruntun. Pertarungan antara front nasionalis dan komunis telah memecah rakyat Polandia secara diametral dan terlibat dalam pergolakan. Pasca berakhirnya era Stalin, terjadi pergolakan di tahun 1956, 1970, 1976, dengan puncaknya di tahun 1980.

Revolusi 1980 ini bisa jadi merupakan peristiwa yang paling dramatis dalam sejarah Polandia modern. 300.000 buruh galangan kapal Lenin yang berada di sepanjang Laut Baltik dan dipimpin oleh Lech Wasesa –kelak menjadi presiden Polandia –  melakukan mogok kerja karena gaji yang minim dan harga makanan yang terus melambung. Pemogokan melahirkan Persetujuan Gdansk yang mengakui hak-hak buruh untuk membentuk serikat buruh dan mogok.

Serikat buruh ini menamakan dirinya Solidaritas di bawah pimpinan Lech Wasesa.  Pasca perjanjian ini, 10 juta dari 17 juta buruh memberikan dukungan untuk Wasesa. Dukungan yang begitu besar ini konon diilhami setelah Karol Wojytyla menjadi Paus pada 1978. Karol Wojtyla yang kemudian memilih nama Paus Yohannes Paulus II adalah orang Polandia. Ia dikenal dengan perlawanannya yang gigih menentang komunisme.

Inilah hal menarik lainnya dari Polandia. Meskipun secara ideologis warga menganut komunisme,  kenyataannya sebagian besar warga masih beragama Katolik. Di sini, komunisme gagal mengenyahkan agama yang dianggap sebagai candu masyarakat itu. Solidaritas bahkan mendirikan salib-salib kayu setiap kali Wasesa mengadakan orasi politik di tengah ribuan buruh.

Kompromi tersebut tak ayal begitu mengejutkan Moskow. Bisa dilihat dari komentar koran Pravda yang menulis dengan sinis, “kompromi macam begini bisa merontokkan sistem komunis.” Pasca kesepakatan tersebut rezim komunis mulai bersikap represif. Wasesa dan ratusan aktivis buruh ditangkap. Pemerintahan komunis memberlakukan darurat militer.

Namun, tanda-tanda zaman tetap tidak dapat dihindari. Peristiwa tersebut seolah menjadi pertanda bahwa komunis akan segera runtuh. Sejarah mencatat bahwa sembilan tahun kemudian rezim komunis di Polandia menemui senjakalanya. Momen yang diikuti tumbangnya negara-negara komunis lain di Eropa.

***

Euro 2012 ini barangkali menjadi turnamen yang tidak terlalu menarik bagi saya. Terutama karena Inggris dan Italia –yang saya idolakan sejak pertama kali mengenal sepakbola –  berangkat dengan kondisi compang-camping. Inggris secara mengejutkan datang dengan ekspektasi yang begitu rendah dibanding turnamen-turnamen sebelumnya. Saya ragu dengan Roy Hodgson, terutama karena ia begitu menganakemaskan para pemain Liverpool. Memanggil Gerard dan Glen Johnson bisa dipahami.

Tapi memaksakan Martin Kelly sebagai pengganti Gary Cahill barangkali adalah lelucon musim semi kali ini. Lelucon yang ditambah dengan Andy Caroll  dan Stewart Downing yang bahkan di musim lalu di Liverpool tidak pernah mencetak gol dan memberikan sekalipun assist! Melihat pertandingan ujicoba melawan Belgia yang berakhir dengan kemenangan 1-0 kemarin, kelemahan Inggris di lini tengah dan belakang terlihat begitu lebar. Kelemahan yang akan dieksploitasi pemain-pemain seperti Benzema, Ibrahimovic, bahkan si kapten tua pujaan tuan rumah, Andriy Shevchenko.

Faktor kelelahan yang menghantui para pemain akan menjadi faktor lain yang menghambat Inggris. Industrialisasi sepakbola dengan brutal telah memaksa para pemain untuk memainkan lebih banyak pertandingan di Liga Inggris. Konsekuensinya, para pemain hadir di Polkraina dengan kondisi yang ringkih. Cederanya Gareth Barry, Frank Lampar, Chris Smalling, dan teranyar Gary Cahill adalah buktinya. John Terry dan Scott Parker juga merupakan pertaruhan Hodgson. Sekali saja Parker cedera, tinggal tersisa Jordan Henderson di lini tengah untuk menemani Gerard.

Oh iya. Hambatan fisik ini belum ditambah dengan musuh tradisional Inggris di turnamen besar, adu penalti. Sudah 16 tahun terakhir The Three Lions gagal di adu penalti. Musuh ini akan menjadi beban tambahan bagi pemain-pemain Inggris yang masih minim pengalaman. Paling jauh Inggris hanya akan melaju sampai perempatfinal.

Kasus berbeda muncul untuk Italia. Calcioscommesse menjadi pengganggu teranyar. Kasus pengaturan skor yang melibatkan para pemain ini konon lebih masif dari totonero 1982 ataupun calciopoli 2006.  Toh kenyataannya di kejuaran tersebut Gli Azzurri mampu meraih juara dunia. Dengan asumsi skandal akan membangkitkan motivasi para pemain, banyak yang beranggapan bahwa Italia akan menjadi juara Eropa tahun ini.

Tapi saya ragu. Dari susunan pemain yang dibawa, tim ini tertinggal jauh bila dibandingkan dengan tahun 1982 dan 2006 dimana Italia sudah memiliki “pemain jadi”. Simak 6 penyerang yang dibawa di Piala Dunia 2006, Fransesco Totti, Alex Del Piero, Luca Toni, dan Alberto Gilardino, Vincenzo Iaquinta, dan Filippo Inzaghi. Semuanya adalah nama besar. Di lini tengah ada Andrea Pirlo, Gattuso, Camoranesi, dan De Rossi.  Hampir semua sedang berada masa puncaknya kala itu.

Bandingkan dengan striker yang dibawa saat ini. Antonio Cassano baru sembuh dari cedera. Balotelli masih membawa temperamen kekanak-kanakannya. Antonio Di Natale akan terlalu tua untuk menghadapi lawan-lawan Italia. Dan Fabio Borini tidak memiliki pengalaman yang cukup. Pun demikian di lini tengah. Praktis dari sembilan gelandang yang dibawa Prandelli, hanya ada tiga yang capsnya sudah lebih dari 20 pertandingan, Pirlo, Montolivo, dan De Rossi. Pirlo memiliki tugas ekstra berat untuk membimbing adik-adiknya.

Saat ini, Italia sedang merumuskan ulang gaya permainannya. Banyak pemain muda yang dibawa. Setelah kehancuran yang memalukan di Piala Dunia 2010, Prandelli memang ingin lebih fokus pada pemain muda dan mulai meninggalkan catenaccio.

Sayangnya, sejarah juga mencatat bahwa ketika pola pertahanan gerendel ini ditinggalkan, Italia akan jauh dari kemenangan. Euro 2000 adalah buktinya. Melaju ke final dengan memainkan pola klasik tersebut, di partai puncak melawan Prancis Dino Zoff justru memainkan pola menyerang. Hasilnya bisa kita lihat. Mereka kalah dengan cara yang sangat dan begitu menyakitkan.

Karena bola itu bundar, tentu saja masih ada yang bisa diharapkan dari Italia. Prandelli sepertinya akan memainkan kembali catenaccio setelah terinspirasi kemenangan Chelsea di Liga Champions. “La difesa e bella” – Bertahan itu indah, demikian komentar Prandelli. Kalau ini dijalani, Spanyol pantas khawatir. Kekalahan 1-2 dari Italia di laga ujicoba tahun lalu menjadi bukti bahwa tiki-taka tidak akan mempan bertemu catenaccio yang tabah.

Kesimpulannya, peluang Italia untuk membuat kejutan jauh lebih besar daripada Inggris. Baciato dalla grazia. Semoga mereka dalam pelukan dewi fortuna.

Untuk negara lain, saya kira peluang Belanda mendapatkan juara akan lebih besar dibandingkan dengan tim lain. Meskipun memang permainannya akan membosankan dengan hadirnya Nigel De Jong. Kehadiran para pemain kreatif seperti Van Der Vaart, Sneidjer, dan Robben akan terasa percuma. Saya kira ini salah satu keanehan sepakbola modern ketika di Euro 2008 dan Piala Dunia 2010 kita melihat Belanda bermain seperti Jerman, dan Jerman bermain seperti Belanda. Dunia sudah terbolak-balik!

Jerman, bagi saya, dengan pemain-pemain mudanya, rasa-rasanya akan gugup membawa ekspektasi berlebihan yang diberikan kepada mereka. Berkebalikan dengan Inggris, jika biasanya Jerman datang dengan status “diunggulkan”, kali ini mereka ke Polkraina dengan status “sangat diunggulkan”.  Siapapun yang lolos dari grup neraka jahanam –grup B – memiliki potensi melaju ke final.

Untuk Spanyol, maaf saja. Kekalahan dramatis Barcelona yang diikuti mundurnya Pep Guardiola menjadi pertanda bahwa lonceng kematian tiki-taka yang diadaptasi dengan mentah oleh Del Bosque sudah berbunyi. Uji coba melawan Korea Selatan bisa menjadi bukti sahih betapa tanpa pemain dari Barca, tim ini bukan apa-apa. Del Bosque harus meyakinkan Sergio Ramos dan Gerard Pique agar tidak padu di belakang dan tidak membawa sentimen di klub. Opa ini juga mesti mampu membangkitkan motivasi Xavi dan Iniesta kembali.

Prancis dan Portugal tidak akan berbuat apa-apa di turnamen kali ini. Kecuali melangkah ke perempatfinal, dan tersingkir. Kalau berbicara kuda hitam, saya cenderung menempatkan Irlandia dan Rusia dibandingkan tim lain.

***

Euro kali ini hadir di tengah gloomy-nya kondisi ekonomi Eropa. Krisis hutang bisa jadi akan mempengaruhi penampilan tim. Meskipun bisa digunakan juga logika sebaliknya, krisis akan memacu sebuah tim untuk memberikan kemenangan sebagai hadiah untuk negaranya.

Jika melihat kehendak sejarah, setiap krisis yang muncul bisa berujung pada revolusi. Dan tentu saja,  “revolusi” di Euro 2012 juga akan berawal dari negeri revolusi, Polandia. Trofi Henry Delauney edisi keempat belas akan dimenangkan tim yang memainkan babak penyisihan grupnya di negeri ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s